JAKARTA, INDONESIA – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), sebuah institusi riset terkemuka yang dikenal luas dengan analisis ekonominya yang mendalam dan berwawasan ke depan, secara tegas merekomendasikan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen. Rekomendasi strategis ini muncul di tengah proyeksi ekonomi yang mengkhawatirkan, sebagaimana disampaikan oleh Peneliti LPEM FEB UI, Teuku Riefky. Menurut analisis komprehensifnya, perekonomian Indonesia diperkirakan akan menghadapi tekanan inflasi yang signifikan menjelang akhir tahun 2025, sebuah tantangan serius yang berpotensi mengikis daya beli masyarakat, mengganggu perencanaan bisnis, dan mengancam stabilitas makroekonomi secara keseluruhan.
Selain ancaman inflasi yang membayangi, nilai tukar rupiah juga menunjukkan tren pelemahan yang berkelanjutan, semakin tertekan oleh dinamika pasar global dan domestik yang kompleks. Riefky menekankan bahwa mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,75 persen bukan sekadar keputusan taktis jangka pendek, melainkan sebuah langkah fundamental yang krusial untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam jangka menengah. “Mempertahankan suku bunga acuan di 4,75 persen akan membantu menjaga perbedaan suku bunga yang atraktif dan kompetitif bagi investor, sehingga mendorong arus masuk modal asing dan mencegah keluarnya modal. Langkah ini juga akan mendukung kepercayaan pasar terhadap konsistensi dan kredibilitas kebijakan moneter Indonesia, serta secara krusial menahan volatilitas mata uang di tengah ketidakpastian global yang terus berlanjut,” ujar Riefky dalam Seri Analisis Makroekonomi LPEM FEB UI yang dipublikasikan pada Rabu, 21 Januari 2026. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya kebijakan moneter yang stabil dan prediktif dalam menghadapi gejolak ekonomi global yang terus-menerus.
Ancaman Inflasi dan Tekanan Eksternal pada Rupiah


















