JAKARTA – Lonjakan signifikan harga daging sapi di pasar domestik kembali menjadi sorotan utama, memicu kekhawatiran serius di kalangan masyarakat dan pelaku usaha. Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI), melalui pernyataan resminya, menyoroti akar permasalahan yang kompleks di balik fenomena ini, menunjuk pada kenaikan harga sapi hidup dari para feedlotter atau peternak penggemukan sapi, serta meroketnya harga karkas di rumah potong hewan (RPH). Kondisi ini tidak hanya mengakibatkan kenaikan harga daging di tingkat konsumen, tetapi juga secara langsung mengikis daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah, yang kini harus berjuang lebih keras untuk memenuhi kebutuhan protein hewani esensial.
Ketua Umum APDI, Wahyu, menjelaskan secara gamblang bahwa mata rantai pasokan daging sapi nasional sedang menghadapi tekanan multi-dimensi. Harga sapi bakalan yang diterima oleh feedlotter, yang sebagian besar masih bergantung pada impor, telah mengalami peningkatan substansial. Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, kenaikan biaya pakan global, serta kebijakan impor yang terkadang tidak konsisten, menjadi faktor-faktor krusial yang berkontribusi pada membengkaknya biaya operasional para penggemuk sapi. Ketika harga sapi hidup dari feedlotter meningkat, otomatis biaya yang harus ditanggung oleh RPH untuk mendapatkan sapi siap potong juga melonjak tajam. Di RPH, biaya pemotongan, penanganan karkas, hingga distribusi awal turut menambah beban. Kenaikan harga karkas ini, yang merupakan bahan baku utama bagi pedagang daging, menjadi pemicu langsung lonjakan harga jual daging di pasar. Situasi ini diperparah dengan struktur pasar yang rentan terhadap spekulasi dan kurangnya transparansi di beberapa titik dalam rantai distribusi, yang pada akhirnya membebankan harga akhir kepada konsumen.
Dampak Multi-Sektor dari Kenaikan Harga Daging Sapi
Kenaikan harga daging sapi bukan sekadar angka di papan harga, melainkan cerminan dari tantangan ekonomi yang lebih dalam. Dampaknya terasa sangat nyata pada daya beli masyarakat, terutama di segmen menengah ke bawah. Bagi keluarga dengan pendapatan terbatas, daging sapi seringkali dianggap sebagai sumber protein premium yang kini semakin sulit dijangkau. Pergeseran pola konsumsi ke sumber protein yang lebih murah, seperti ayam atau telur, mungkin terjadi, namun hal ini dapat memengaruhi kualitas gizi dan variasi makanan masyarakat. Selain itu, kenaikan harga ini juga memberikan pukulan telak bagi keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergerak di sektor hilirisasi daging sapi. Para pedagang bakso, sate, warung makan, hingga katering kecil yang sangat bergantung pada pasokan daging sapi sebagai bahan baku utama, kini dihadapkan pada dilema sulit. Mereka harus memilih antara menaikkan harga jual produk mereka, yang berisiko kehilangan pelanggan, atau menanggung kerugian dengan mempertahankan harga lama namun dengan margin keuntungan yang semakin menipis, bahkan negatif. Banyak UMKM yang mungkin terpaksa mengurangi volume produksi, merumahkan karyawan, atau bahkan gulung tikar jika kondisi ini berlarut-larut. Ini bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga sosial, yang mengancam mata pencaharian ribuan keluarga dan stabilitas ekonomi lokal.
APDI secara tegas menyatakan bahwa permasalahan ini memerlukan intervensi segera dan terkoordinasi dari pemerintah. Wahyu mendesak Menteri Pertanian dan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk segera mengambil langkah-langkah konkret dan strategis guna menstabilkan harga daging sapi di pasaran. Peran Kementerian Pertanian sangat vital dalam mengelola aspek hulu, termasuk kebijakan impor sapi bakalan, pengembangan peternakan lokal, serta regulasi pakan dan kesehatan hewan. Sementara itu, Bapanas memiliki mandat untuk menjaga stabilitas harga pangan, mengelola stok nasional, dan melakukan intervensi pasar jika diperlukan. Keterlambatan dalam mengambil tindakan dapat memperparah kondisi pasar, memicu inflasi, dan mengganggu ketahanan pangan nasional secara keseluruhan.
Langkah Konkret dan Strategi Jangka Panjang untuk Stabilitas Harga
Langkah konkret yang diharapkan APDI mencakup berbagai aspek. Pertama, evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan impor sapi bakalan dan daging beku. Sinkronisasi antara kebutuhan domestik dengan volume impor yang tepat waktu dan terencana dapat mencegah kelangkaan pasokan yang sering menjadi pemicu kenaikan harga. Pengelolaan kuota impor yang transparan dan efisien, serta percepatan proses perizinan, menjadi kunci. Kedua, pemerintah perlu mempertimbangkan skema subsidi atau insentif bagi para feedlotter dan peternak lokal untuk menekan biaya produksi, khususnya biaya pakan yang dominan. Ini bisa berupa kemudahan akses terhadap pakan murah, bantuan teknis, atau fasilitas kredit lunak. Ketiga, penguatan peran Bapanas dalam mengelola stok daging nasional melalui buffer stock yang memadai. Dengan adanya cadangan strategis, Bapanas dapat melakukan operasi pasar atau distribusi langsung ke titik-titik kritis untuk menahan laju kenaikan harga saat terjadi gejolak pasokan.
Lebih dari itu, Wahyu menekankan pentingnya keberlanjutan usaha di sektor hilirisasi daging sapi. UMKM adalah tulang punggung perekonomian nasional, dan kelangsungan hidup mereka sangat bergantung pada stabilitas harga bahan baku. Tanpa intervensi yang efektif, banyak UMKM yang terancam bangkrut, yang pada gilirannya akan menciptakan efek domino berupa peningkatan pengangguran dan penurunan aktivitas ekonomi. Oleh karena itu, langkah-langkah pemerintah tidak hanya harus bersifat reaktif terhadap kenaikan harga, tetapi juga proaktif dalam membangun sistem rantai pasok daging sapi yang lebih resilient, efisien, dan berkeadilan. Ini termasuk investasi dalam infrastruktur RPH modern, peningkatan kapasitas produksi peternakan lokal, serta pengembangan teknologi untuk efisiensi pakan dan penggemukan. Kolaborasi antara pemerintah, asosiasi pelaku usaha seperti APDI, peternak, dan konsumen menjadi esensial untuk merumuskan solusi jangka panjang yang berkelanjutan, memastikan ketersediaan daging sapi dengan harga terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat, sekaligus menjaga vitalitas sektor peternakan dan UMKM di Indonesia.
Situasi ini juga mengingatkan pada isu-isu sebelumnya, seperti dampak keterlambatan impor daging sapi yang kerap menimbulkan gejolak harga. Pengalaman masa lalu harus menjadi pelajaran berharga dalam merancang kebijakan pangan yang lebih antisipatif dan responsif. Pemerintah harus mampu memprediksi kebutuhan pasar, mengelola risiko pasokan, dan menekan praktik-praktik yang merugikan konsumen dan pelaku usaha. Ketersediaan data yang akurat dan transparan mengenai populasi sapi, produksi daging, dan proyeksi kebutuhan, akan menjadi fondasi penting bagi pengambilan keputusan yang tepat. Pada akhirnya, stabilitas harga daging sapi adalah cerminan dari ketahanan pangan suatu bangsa, dan menjadi penentu penting bagi hajat hidup orang banyak serta keberlangsungan ekosistem ekonomi yang lebih luas.


















