JAKARTA – Proses krusial pemilihan pimpinan Bank Indonesia memasuki babak penting dengan dilaksanakannya uji kepatutan dan kelayakan atau fit and proper test terhadap para calon Deputi Gubernur Bank Indonesia. Pada Jumat, 23 Januari 2026, Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia menjadi saksi pemaparan visi dan misi dari salah satu kandidat terkemuka, Solikin Juhro. Saat ini menjabat sebagai Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, Solikin mengusung visi yang ambisius namun terukur: memperkuat sinergi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, berdaya tahan, dan inklusif. Visi ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah komitmen mendalam untuk memajukan perekonomian Indonesia di tengah dinamika global yang terus berubah, sekaligus memastikan bahwa setiap kemajuan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Uji kepatutan dan kelayakan ini menjadi penentu penting dalam mengisi kekosongan posisi Deputi Gubernur Bank Indonesia yang ditinggalkan oleh Juda Agung, yang mengundurkan diri pada 13 Januari 2026, menandai sebuah transisi kepemimpinan yang strategis bagi bank sentral.
Dalam pemaparannya di Gedung DPR, Solikin Juhro menegaskan bahwa visinya melampaui upaya sekadar menjaga laju pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global yang kompleks. Ia menekankan bahwa kualitas pertumbuhan adalah kunci utama. Ini berarti pertumbuhan ekonomi haruslah berkelanjutan, merata, dan mampu menciptakan nilai tambah jangka panjang, bukan hanya pertumbuhan angka semata. Tekanan global yang dimaksud meliputi fluktuasi harga komoditas, ketidakpastian geopolitik, perubahan iklim, serta potensi perlambatan ekonomi global yang dapat memengaruhi stabilitas domestik. Dengan demikian, visi ini selaras secara fundamental dengan mandat utama Bank Indonesia, yaitu menjaga stabilitas nilai rupiah melalui kebijakan moneter yang prudent, memastikan kelancaran dan keamanan sistem pembayaran yang menjadi tulang punggung transaksi ekonomi, serta memelihara stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan untuk mencegah krisis dan mendukung intermediasi perbankan yang sehat. Kualitas pertumbuhan yang berdaya tahan dan inklusif akan memperkuat fondasi ekonomi nasional, menjadikannya lebih tangguh menghadapi gejolak eksternal dan internal, serta memastikan bahwa manfaat pembangunan dapat dinikmati secara adil oleh seluruh warga negara.
Tiga Misi Utama untuk Ekonomi Berkelanjutan
Untuk menerjemahkan visi besar tersebut ke dalam kerangka kerja yang lebih operasional, Solikin Juhro menguraikan tiga misi utama. Misi pertama adalah stabilitas yang dinamis, yang berarti Bank Indonesia tidak hanya berupaya mencapai stabilitas dalam pengertian statis, tetapi juga stabilitas yang memungkinkan adaptasi, inovasi, dan pertumbuhan yang berkelanjutan. Ini mencakup kemampuan untuk merespons secara proaktif terhadap perubahan kondisi ekonomi dan keuangan, baik di tingkat domestik maupun global, dengan tetap menjaga keseimbangan yang sehat. Misi kedua adalah pertumbuhan yang tinggi, yang mengindikasikan aspirasi untuk mendorong laju ekspansi ekonomi yang signifikan. Namun, pertumbuhan ini harus didukung oleh fondasi yang kuat, produktivitas yang meningkat, serta inovasi yang berkelanjutan, bukan sekadar pertumbuhan konsumtif. Terakhir, misi ketiga adalah ekonomi yang inklusif, sebuah pilar krusial yang bertujuan untuk memastikan bahwa setiap kebijakan dan program Bank Indonesia berkontribusi pada pemerataan ekonomi, pengurangan kesenjangan, dan pemberdayaan kelompok-kelompok yang selama ini mungkin kurang terjangkau oleh layanan keuangan formal, seperti Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta masyarakat di daerah terpencil.
Solikin Juhro mengaitkan ketiga misi ini dengan semangat Sumitronomics, sebuah filosofi ekonomi yang digagas oleh ekonom terkemuka Indonesia, Sumitro Djojohadikusumo. Sumitronomics menekankan pentingnya membangun kekuatan ekonomi dari dalam, yang berarti mengoptimalkan potensi domestik melalui peningkatan produksi lokal, penguatan pasar dalam negeri, dan pengurangan ketergantungan pada faktor eksternal. Selain itu, filosofi ini juga menitikberatkan pada memperkuat fondasi struktural


















