Bank Indonesia (BI) baru saja merilis data krusial yang menunjukkan adanya pergeseran signifikan dalam pola pengelolaan keuangan rumah tangga di Indonesia pada awal tahun 2026. Berdasarkan hasil Survei Konsumen terbaru, masyarakat terpantau mulai memperketat ikat pinggang dengan menurunkan porsi belanja bulanan dan secara bersamaan meningkatkan alokasi untuk tabungan serta pembayaran cicilan utang. Fenomena ini mencerminkan sikap kehati-hatian konsumen di tengah dinamika ekonomi domestik, di mana rata-rata proporsi pendapatan untuk konsumsi atau average propensity to consume ratio merosot ke angka 72,3 persen pada Januari 2026. Penurunan ini menjadi sinyal penting bagi para pelaku pasar dan pengambil kebijakan, mengingat konsumsi rumah tangga selama ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Laporan yang dipublikasikan oleh Bank Sentral pada Senin, 9 Februari 2026, tersebut mengonfirmasi bahwa perilaku konsumen Indonesia sedang mengalami fase transisi yang cukup tajam. Jika dibandingkan dengan posisi pada Desember 2025, angka konsumsi sebesar 72,3 persen tersebut menunjukkan penurunan sebesar 2 persen dari posisi sebelumnya yang berada di level 74,3 persen. Penurunan proporsi belanja ini tidak terjadi secara merata di seluruh lapisan masyarakat, melainkan terkonsentrasi pada kelompok pengeluaran tertentu yang mulai merasakan tekanan ekonomi atau memilih untuk mengalihkan dana mereka ke instrumen yang lebih aman. Bank Indonesia mencatat bahwa penurunan alokasi konsumsi terhadap pendapatan ini sangat terasa pada masyarakat dengan rentang penghasilan antara Rp 1 juta hingga Rp 4 juta, serta kelompok masyarakat menengah ke atas dengan penghasilan di atas Rp 5 juta per bulan.
Analisis Kenaikan Rasio Tabungan dan Strategi Defensif Konsumen
Di balik penurunan angka belanja, terdapat tren peningkatan yang cukup mencolok pada sisi simpanan. Saving to income ratio atau porsi pendapatan yang dialokasikan untuk tabungan pada Januari 2026 tercatat melonjak ke angka 16,5 persen. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang signifikan jika disandingkan dengan proporsi pada Desember 2025 yang hanya sebesar 14,9 persen. Lonjakan tabungan ini mengindikasikan bahwa rumah tangga di Indonesia saat ini cenderung mengadopsi strategi keuangan defensif. Alokasi tabungan konsumen mengalami kenaikan di hampir seluruh kelompok pengeluaran, namun peningkatan paling drastis justru ditemukan pada kelompok masyarakat dengan tingkat pengeluaran rendah, yakni di kisaran Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per bulan. Kondisi ini menggambarkan adanya upaya kolektif untuk membangun dana cadangan atau bantalan finansial guna menghadapi ketidakpastian di masa mendatang.
Pergeseran perilaku ini sebenarnya telah mulai terdeteksi sejak akhir tahun 2025. Pada Desember 2025, porsi tabungan masyarakat tercatat sebesar 14,9 persen, yang mana angka tersebut sudah merupakan kenaikan dari bulan November 2025 yang berada di level 14,4 persen. Dengan kata lain, tren menabung terus menunjukkan kurva menanjak selama tiga bulan terakhir. Para analis ekonomi melihat fenomena ini sebagai bentuk respon masyarakat terhadap ekspektasi ekonomi yang mungkin tidak secerah periode sebelumnya. Ketika masyarakat lebih memilih menyimpan uangnya di bank daripada membelanjakannya di pasar retail, hal ini secara langsung akan berdampak pada perputaran uang di sektor riil, yang pada akhirnya dapat memperlambat laju pertumbuhan ekonomi jika tidak diimbangi dengan stimulus yang tepat.
Dinamika Pembayaran Cicilan dan Beban Utang Rumah Tangga
Selain faktor konsumsi dan tabungan, indikator yang tidak kalah penting dalam survei Bank Indonesia ini adalah debt to income ratio atau rasio pembayaran cicilan utang. Pada Januari 2026, BI mencatat bahwa rata-rata porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar utang berada di level 11,2 persen. Angka ini mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan bulan Desember 2025 yang tercatat sebesar 10,8 persen. Kenaikan rasio utang ini memberikan gambaran bahwa beban kewajiban finansial masyarakat sedikit meningkat di awal tahun. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi pada akhir tahun lalu, di mana pada Desember 2025, porsi pembayaran cicilan justru sempat mengalami penurunan tipis dari 11 persen pada November menjadi 10,8 persen pada Desember.
Berikut adalah tabel perbandingan alokasi pendapatan konsumen berdasarkan data Survei Konsumen Bank Indonesia dalam tiga periode terakhir:
| Indikator Keuangan | November 2025 | Desember 2025 | Januari 2026 |
|---|---|---|---|
| Konsumsi (APC Ratio) | 74,6% | 74,3% | 72,3% |
| Tabungan (Saving Ratio) | 14,4% | 14,9% | 16,5% |
| Cicilan Utang (Debt Ratio) | 11,0% | 10,8% | 11,2% |
Data di atas memperlihatkan pola yang jelas: masyarakat secara konsisten mengurangi porsi belanja mereka untuk dialihkan ke tabungan. Namun, kenaikan pada rasio utang di bulan Januari 2026 menjadi catatan tersendiri. Kenaikan beban cicilan ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari penyesuaian suku bunga pinjaman hingga penambahan kredit baru yang diambil masyarakat pada periode sebelumnya yang mulai jatuh tempo pembayarannya di awal tahun. Kombinasi antara konsumsi yang turun, tabungan yang naik, dan beban utang yang meningkat menciptakan profil keuangan yang sangat berhati-hati bagi rata-rata konsumen di Indonesia saat ini.
Implikasi Ekonomi dan Pergeseran Pola Belanja Jangka Panjang
Secara historis, pola konsumsi masyarakat Indonesia memang sering mengalami fluktuasi, namun tren penurunan yang berkelanjutan sejak September 2025 hingga Januari 2026 ini memerlukan perhatian khusus. Sebagai referensi tambahan, pada September 2025, sempat terjadi peningkatan proporsi pendapatan untuk konsumsi di tengah tekanan ekonomi yang mulai muncul. Namun, memasuki kuartal terakhir 2025 dan awal 2026, tren tersebut berbalik arah sepenuhnya. Masyarakat tampaknya mulai menyadari perlunya efisiensi pengeluaran. Penurunan belanja ini tidak hanya menyasar barang-barang sekunder atau tersier, tetapi juga mulai merambah ke pola konsumsi harian di kelompok penghasilan menengah ke bawah.
Bank Indonesia dalam laporannya menekankan bahwa perubahan alokasi pendapatan ini mencerminkan dinamika persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi mereka terhadap ketersediaan lapangan kerja serta penghasilan di masa depan. Ketika average propensity to consume terus menyusut, sektor-sektor seperti ritel, otomotif, dan properti kemungkinan besar akan menghadapi tantangan berat dalam mempertahankan target penjualan mereka. Di sisi lain, sektor perbankan mungkin akan melihat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang lebih stabil karena masyarakat lebih memilih untuk memarkirkan dana mereka di tabungan atau deposito sebagai langkah antisipasi terhadap risiko ekonomi.
Sebagai kesimpulan, data Survei Konsumen Bank Indonesia periode Januari 2026 ini memberikan potret nyata mengenai kondisi “dompet” warga yang sedang mengalami rekalibrasi. Dengan porsi tabungan yang kini mencapai 16,5 persen dan konsumsi yang turun ke 72,3 persen, masyarakat Indonesia secara kolektif sedang mengirimkan pesan tentang pentingnya stabilitas finansial pribadi di atas pemuasan kebutuhan konsumtif. Bagi pemerintah dan otoritas moneter, tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga agar penurunan konsumsi ini tidak berlanjut terlalu dalam sehingga tidak mengganggu momentum pemulihan ekonomi, sembari tetap memastikan tingkat inflasi tetap terkendali agar daya beli masyarakat tidak semakin tergerus di masa mendatang.

















