Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriyah dan perayaan Tahun Baru Imlek ke-2577, masyarakat di wilayah Jakarta Pusat mulai dihadapkan pada tantangan ekonomi akibat lonjakan harga sejumlah komoditas bahan pokok yang signifikan di berbagai pasar tradisional maupun modern. Fenomena kenaikan harga yang bervariasi antara Rp2.000 hingga mencapai puncaknya di angka Rp20.000 per kilogram ini terpantau langsung oleh Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat dalam inspeksi mendadak yang dilakukan pada Kamis (12/2/2026) guna memastikan stabilitas pasokan serta keterjangkauan daya beli warga. Kenaikan ini dipicu oleh kombinasi antara peningkatan permintaan musiman dan kendala distribusi akibat faktor cuaca ekstrem di daerah produsen, yang memaksa pemerintah setempat untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap rantai pasok pangan di ibu kota.
Evaluasi Lapangan dan Pemantauan Harga di Pasar Johar Baru
Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin, memimpin langsung jajaran Pemerintah Kota dalam melakukan peninjauan harga pangan di dua lokasi strategis, yakni Pasar Johar Baru yang merepresentasikan pasar tradisional dan Pasar Modern Lottemart Green Pramuka. Langkah proaktif ini diambil untuk mendapatkan data riil di lapangan mengenai fluktuasi harga yang sering kali meresahkan konsumen menjelang hari besar keagamaan. Dalam kunjungannya, Arifin berdialog langsung dengan para pedagang untuk memetakan komoditas apa saja yang mengalami lonjakan paling tajam. Berdasarkan hasil pantauan tersebut, ditemukan fakta bahwa hampir seluruh lini kebutuhan dapur mengalami penyesuaian harga ke atas, mulai dari bumbu dapur, sumber protein, hingga beras sebagai bahan pangan utama masyarakat.
Arifin menegaskan bahwa meskipun terjadi tren kenaikan harga, aspek ketersediaan atau stok pangan di wilayah Jakarta Pusat dipastikan masih dalam kondisi aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan warga hingga beberapa bulan ke depan. Namun, ia tidak menampik bahwa disparitas harga yang terjadi saat ini memerlukan perhatian khusus dari Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). “Kami memantau secara mendalam harga-harga barang yang ada di Pasar Johar Baru. Tadi sudah ditanyakan secara mendetail kepada para pedagang, mulai dari pedagang bawang, cabai, telur, daging ayam, daging sapi, hingga pedagang beras. Fokus kami adalah mengidentifikasi dari sisi mana kenaikan ini bermula agar dapat dilakukan langkah intervensi yang tepat,” ujar Arifin saat memberikan keterangan resmi kepada awak media di lokasi peninjauan.
Lonjakan Drastis Komoditas Cabai dan Bumbu Dapur
Dari sekian banyak komoditas yang dipantau, kelompok hortikultura khususnya cabai dan bawang merah mencatatkan kenaikan yang paling mencolok dan menjadi beban utama bagi pengeluaran rumah tangga maupun pelaku usaha kuliner. Data dari lapangan menunjukkan bahwa harga bawang merah mengalami kenaikan sebesar Rp5.000 per kilogram, di mana harga yang semula berada di angka Rp50.000 kini telah menyentuh Rp55.000 per kilogram. Kenaikan ini dinilai cukup memberatkan mengingat bawang merah merupakan bumbu dasar yang hampir selalu digunakan dalam setiap masakan Indonesia. Namun, lonjakan yang jauh lebih ekstrem terlihat pada komoditas cabai rawit merah.
Daftar Kenaikan Harga Komoditas Utama:
- Cabai Rawit Merah: Mengalami kenaikan tertinggi sebesar Rp20.000 per kilogram, melonjak dari harga normal sekitar Rp80.000 menjadi Rp100.000 per kilogram. Bahkan di beberapa titik, harga cabai rawit merah dilaporkan sempat menyentuh angka Rp120.000 per kilogram.
- Cabai Merah Keriting: Mengikuti tren serupa, harga komoditas ini naik dari kisaran Rp40.000 menjadi Rp80.000 per kilogram, atau mengalami kenaikan sebesar 100 persen.
- Bawang Merah: Terpantau merangkak naik dari Rp50.000 menjadi Rp55.000 per kilogram.
- Daging Ayam Ras: Mengalami lonjakan signifikan dari harga standar Rp35.000 per ekor menjadi Rp45.000 per ekor.
Para pedagang di Pasar Johar Baru mengungkapkan bahwa kenaikan harga cabai yang mencapai Rp20.000 per kilogram ini sangat berdampak pada volume penjualan mereka. Banyak konsumen yang terpaksa mengurangi jumlah pembelian, yang semula membeli satu kilogram kini hanya membeli seperempat atau setengah kilogram saja. Situasi ini diperparah dengan kondisi fisik barang yang terkadang kurang maksimal akibat faktor cuaca di daerah asal pengiriman, sehingga risiko kerugian di tingkat pedagang eceran pun semakin meningkat seiring dengan tingginya modal yang harus mereka keluarkan.
Faktor Cuaca Ekstrem dan Gangguan Produksi Nasional
Menganalisis penyebab di balik fenomena ini, Wali Kota Arifin menjelaskan bahwa faktor alam memegang peranan kunci dalam ketidakstabilan harga saat ini. Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah sentra produksi pangan di Pulau Jawa telah menyebabkan penurunan produktivitas lahan pertanian secara signifikan. Curah hujan yang terlalu tinggi mengakibatkan banyak tanaman cabai mengalami pembusukan akar atau gagal panen, sehingga pasokan yang masuk ke pasar-pasar induk di Jakarta berkurang drastis. Hukum pasar pun berlaku; ketika pasokan menurun sementara permintaan masyarakat menjelang Ramadhan justru meningkat, maka kenaikan harga menjadi konsekuensi yang tidak terelakkan.
Selain sektor hortikultura, sektor peternakan juga tidak luput dari tekanan. Harga daging ayam yang kini mencapai Rp45.000 per ekor menjadi perhatian serius pemerintah. Kenaikan sebesar Rp10.000 dari harga normal ini disinyalir dipengaruhi oleh kenaikan biaya pakan ternak serta tingginya permintaan pasar untuk kebutuhan hajatan dan persiapan stok menyambut bulan puasa. Kondisi ini menuntut pemerintah daerah untuk bekerja sama dengan distributor besar guna memastikan tidak ada praktik penimbunan yang dapat semakin memperkeruh situasi harga di tingkat konsumen akhir.
Langkah Strategis Pemerintah dalam Pengendalian Harga
Menyikapi kondisi yang ada, Pemerintah Kota Jakarta Pusat berkomitmen untuk terus melakukan evaluasi dan koordinasi dengan berbagai pihak terkait. Arifin menekankan pentingnya transparansi dalam rantai distribusi pangan. Evaluasi akan dilakukan untuk melihat apakah kenaikan harga ini murni disebabkan oleh kelangkaan di tingkat produsen atau terdapat hambatan di jalur distribusi. Jika ditemukan adanya kendala distribusi, pemerintah akan segera berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) serta Food Station Tjipinang Jaya untuk menyalurkan cadangan pangan melalui operasi pasar murah.
Keamanan stok pangan menjadi modal utama pemerintah dalam menenangkan kekhawatiran masyarakat. Arifin berulang kali menegaskan bahwa warga tidak perlu melakukan panic buying karena stok beras, minyak goreng, dan daging masih sangat mencukupi. Pemerintah berharap melalui pengawasan ketat dan potensi intervensi pasar, harga-harga yang saat ini melambung tinggi dapat segera terkendali dan kembali ke titik normal atau setidaknya stabil pada level yang terjangkau sebelum memasuki pertengahan bulan Ramadhan. “Tujuan utama kami adalah memastikan masyarakat bisa menjalankan ibadah Ramadhan dengan tenang dan dapat membeli kebutuhan pokok mereka dengan harga yang wajar dan terjangkau,” pungkasnya.
Tren kenaikan harga menjelang hari besar keagamaan memang seolah menjadi siklus tahunan, namun dengan adanya faktor cuaca ekstrem tahun ini, tantangan yang dihadapi menjadi lebih kompleks. Masyarakat diharapkan tetap bijak dalam berbelanja, sementara pemerintah daerah terus berupaya menjaga keseimbangan antara kesejahteraan petani di daerah produksi dan keterjangkauan harga bagi konsumen di wilayah perkotaan seperti Jakarta Pusat. Pemantauan harga secara berkala akan terus dilakukan di pasar-pasar tradisional lainnya untuk memastikan tidak ada lonjakan harga yang tidak terkendali di luar batas kewajaran.

















