Dalam sebuah langkah strategis untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia di sektor digital Indonesia, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Republik Indonesia, melalui Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas, telah berkolaborasi dengan raksasa e-commerce, Shopee Indonesia, untuk meluncurkan program Training of Trainers (ToT) Shopee Affiliate. Inisiatif krusial ini diselenggarakan secara intensif di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bekasi, Jawa Barat, berlangsung selama tiga hari penuh, dari tanggal 11 hingga 13 Februari. Program ini dirancang khusus untuk membekali 100 instruktur terpilih dari 21 Unit Pelaksana Teknis Pusat (UPTP) Kemnaker dengan keterampilan digital mutakhir, menjadikannya tonggak penting dalam upaya pemerintah dan swasta untuk menciptakan puluhan ribu peluang kerja baru serta mendorong pertumbuhan ekonomi digital yang inklusif di seluruh pelosok negeri.
Seratus peserta yang mengikuti ToT ini tidak hanya berasal dari berbagai UPTP Kemnaker, tetapi juga dipilih berdasarkan potensi dan komitmen mereka untuk menjadi agen perubahan di daerah masing-masing. Mereka mendapatkan pelatihan komprehensif dari para trainer ahli yang berasal dari Kampus UMKM Shopee, sebuah inisiatif Shopee yang berfokus pada pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Yang lebih penting, para trainer ini telah tersertifikasi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), menjamin standar kualitas dan relevansi materi pelatihan dengan kebutuhan industri. Sertifikasi BNSP ini menjadi jaminan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang ditransfer kepada para peserta ToT memiliki validitas dan pengakuan profesional, memastikan bahwa para instruktur yang dilatih akan memiliki kredibilitas tinggi saat mereka nantinya mengajar ribuan afiliator baru.
Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kemnaker, Darmawansyah, menjelaskan bahwa program ToT Shopee Affiliate ini merupakan bagian integral dari strategi kolaborasi yang lebih luas untuk memperluas jangkauan pelatihan berbasis non-Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pendekatan ini memungkinkan Kemnaker untuk memanfaatkan sumber daya dan keahlian dari sektor swasta, dalam hal ini Shopee, guna mencapai target pelatihan yang jauh lebih ambisius tanpa membebani anggaran negara. Darmawansyah menyoroti potensi efek pengganda (multiplier effect) dari program ini. Beliau berharap setiap instruktur yang telah terlatih dapat melatih minimal 100 peserta baru di balai pelatihan masing-masing. Ini berarti, dari 100 instruktur yang ada, program ini berpotensi melahirkan setidaknya 10.000 afiliator baru hingga akhir tahun, yang secara langsung membuka 10.000 peluang kerja. Bahkan, Darmawansyah mengungkapkan ambisi yang lebih besar, berharap setiap trainer dapat melatih antara 200 hingga 500 peserta, yang secara signifikan akan melipatgandakan dampak program ini.
Untuk mencapai target ambisius tersebut, Kemnaker juga berencana untuk merevolusi skema kelas pelatihan. Darmawansyah menambahkan bahwa skema kelas pelatihan teknis yang biasanya membatasi jumlah peserta hingga 16 orang, akan diperluas menjadi 20 hingga 30 orang per kelas. Penyesuaian ini diharapkan dapat mengoptimalkan kapasitas pelatihan dan memperbesar efek pengganda dari setiap sesi, memungkinkan lebih banyak individu untuk mengakses pendidikan dan keterampilan digital yang relevan. Lebih lanjut, keberlanjutan pembelajaran menjadi prioritas utama. Setelah pelatihan tatap muka selesai, para peserta ToT masih memiliki kesempatan untuk terus meningkatkan kompetensi mereka melalui Learning Management System (LMS) yang disediakan oleh Shopee. Sistem daring ini memungkinkan akses fleksibel ke materi pembelajaran, memastikan bahwa para instruktur dapat terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan mereka, serta menyelenggarakan pelatihan lanjutan yang efektif di balai masing-masing, sesuai dengan harapan Menteri Ketenagakerjaan Yassierli untuk mencapai target pelatihan empat kali lipat dari jumlah peserta yang ditargetkan dengan anggaran APBN.
Agenda Komprehensif Pelatihan
Struktur program ToT Shopee Affiliate dirancang secara sistematis untuk memberikan pemahaman yang mendalam dan keterampilan praktis kepada para peserta:
- Hari Pertama: Kegiatan diawali dengan sesi pembukaan resmi, diikuti oleh talkshow inspiratif yang menghadirkan para afiliator sukses. Sesi ini bertujuan untuk memotivasi peserta dengan memaparkan kisah-kisah nyata tentang bagaimana individu dapat meraih kesuksesan finansial dan profesional melalui program afiliasi.
- Hari Kedua: Fokus utama pada hari kedua adalah pengenalan mendalam tentang dasar-dasar affiliate marketing dan program Shopee Affiliate secara spesifik. Peserta diajarkan teknik-teknik pembuatan konten berkualitas tinggi, khususnya melalui fitur Shopee Live dan Shopee Video, yang terbukti sangat efektif dalam mendorong transaksi konsumen. Riset internal Shopee menunjukkan bahwa video 65 persen lebih efektif dalam mendorong keputusan pembelian, dan sekitar 50 persen peningkatan penjualan produk lokal di Shopee pada tahun 2025 diproyeksikan berasal dari Shopee Live dan Shopee Video. Selain itu, peserta juga dibekali dengan strategi pemilihan produk yang tepat agar maksimal dalam menghasilkan komisi.
- Hari Ketiga: Hari terakhir didedikasikan untuk sesi tes praktik. Ini adalah kesempatan bagi para peserta untuk menerapkan semua pengetahuan dan keterampilan yang telah mereka peroleh selama dua hari sebelumnya dalam simulasi dunia nyata, memastikan bahwa mereka siap untuk menjadi instruktur yang kompeten dan efektif.
Membangun Fondasi Ekosistem Digital Inklusif
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Direktur Public Affairs Shopee Indonesia, Radynal Nataprawira, menegaskan bahwa pelatihan ini adalah bagian integral dari upaya Shopee untuk memperkuat sumber daya manusia di sektor digital Indonesia. Radynal menekankan bahwa transformasi digital bukan hanya tentang adopsi teknologi canggih, melainkan lebih pada kesiapan manusia untuk memanfaatkan teknologi tersebut secara optimal. “Ekosistem digital menjadi sangat penting, bukan karena ia canggih, tetapi karena mampu membuka peluang. Peluang untuk belajar, bekerja, dan tumbuh, bahkan bagi mereka yang berasal dari daerah-daerah yang jauh dari pusat ekonomi,” ujar Radynal, menyoroti dimensi inklusivitas dari inisiatif ini.
Potensi ekonomi digital Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan akan mencapai angka fantastis, yakni 100 miliar dolar Amerika Serikat. Angka ini menggarisbawahi urgensi untuk mempersiapkan talenta digital yang mumpuni agar Indonesia dapat memaksimalkan potensi tersebut. Radynal menargetkan bahwa 100 instruktur yang dilatih dalam program ToT ini akan mampu melahirkan setidaknya 10.000 afiliator baru hingga akhir tahun, yang secara langsung akan membuka 10.000 peluang kerja. Target ini sejalan dengan ambisi Kemnaker dan Shopee yang, berdasarkan referensi tambahan, menargetkan pencetakan hingga 60.000 afiliator baru dalam setahun atau hingga tahun 2026 melalui program ToT Shopee Affiliate ini, melibatkan 100 instruktur untuk meningkatkan keterampilan digital secara masif. Ini menunjukkan komitmen jangka panjang untuk menciptakan komunitas afiliator yang kuat dan berkelanjutan.
















