Di tengah isu perubahan iklim yang semakin mendesak, generasi muda yang dikenal sebagai Generasi Z (Gen Z) menunjukkan gelombang kepedulian lingkungan yang signifikan, menggabungkan aksi nyata dengan potensi ekonomi. Dua kisah inspiratif dari Surabaya dan Pasuruan menyoroti bagaimana para remaja dan pemuda Gen Z ini tidak hanya peduli pada kelestarian alam, tetapi juga mampu mengubah kepedulian tersebut menjadi sumber pendapatan dan memberdayakan komunitas lokal. Revalina Fernanda, seorang siswi SMP di Surabaya, telah berhasil membudidayakan bunga telang dan mengembangkannya menjadi berbagai produk inovatif, sementara Adinda Putri Kusumawardhani di Pasuruan merevolusi pemanfaatan buah mangrove menjadi camilan lezat dan kopi non-kafein yang unik. Kedua inisiatif ini, yang berawal dari kesadaran pribadi, kini telah merambah ke ranah pemberdayaan masyarakat dan membuka peluang ekonomi baru, membuktikan bahwa semangat hijau dapat beriringan dengan kemandirian finansial.
Budidaya Kembang Telang: Dari Taman Sekolah Menjadi Produk UMKM Bernilai Cuan
Revalina Fernanda, seorang siswa kelas VIII di SMPN 1 Surabaya, telah membuktikan bahwa usia muda bukanlah halangan untuk berkontribusi positif terhadap lingkungan. Ketertarikannya pada budidaya kembang telang, tanaman dengan nama latin Clitoria ternatea, bermula sejak ia duduk di bangku kelas IV SD pada tahun 2022. Saat itu, di tengah kepadatan lingkungan tempat tinggalnya, Reva menemukan sebidang tanah kosong yang ditumbuhi tanaman merambat dengan bunga ungu yang memikat. Penasaran, ia mencari informasi dan menemukan bahwa bunga telang tidak hanya indah, tetapi juga kaya akan nutrisi yang bermanfaat sebagai pakan ternak dan obat tradisional.
Kepedulian Reva terhadap lingkungan memotivasinya untuk mengusulkan ide budidaya tanaman telang kepada gurunya di SDN Tandes Kidul I Surabaya. Usulan tersebut disambut baik, dan proyek budidaya pun dimulai dengan menanam 50 bibit telang di pot-pot kecil. Dengan perawatan yang optimal, termasuk penyiraman yang disesuaikan dengan musim—sekali sehari saat musim hujan dan tiga kali sehari saat musim kemarau—tanaman telang tumbuh subur dan menghasilkan ratusan kuntum bunga dalam kurun waktu tiga bulan. Keberhasilan ini tidak hanya menjaga kualitas udara, tetapi juga menjadi awal dari sebuah perjalanan inovasi.
Prestasi Reva tidak berhenti di situ. Ia mempresentasikan proyek budidaya telang ini dalam kompetisi Pangeran-Putri Lingkungan Kota Surabaya, di mana ia berhasil meraih juara Favorit pada tahun 2023. Penghargaan ini membuka pintu baginya untuk memberikan pelatihan budidaya bunga telang di dua kampung di Surabaya, didukung oleh para finalis Putra-Putri Lingkungan Surabaya lainnya. Meskipun sempat diremehkan karena usianya yang masih muda, Reva meyakinkan warga dengan praktik langsung dan menekankan potensi bunga telang sebagai produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang dapat menghasilkan pendapatan. Antusiasme warga pun mulai tumbuh.
Dari pelatihan tersebut, dua kampung di Surabaya kini telah mengembangkan usaha budidaya telang, melahirkan inovasi produk UMKM seperti minuman dan camilan yang berbahan dasar bunga telang. Semangat Reva berlanjut ke jenjang pendidikan berikutnya di SMPN 1 Surabaya, di mana sekolah tersebut kini menyediakan lahan khusus untuk budidaya telang. Tidak hanya berhenti pada budidaya, Reva juga aktif mencari inovasi lain dari bunga telang. Berdasarkan literatur yang ia baca, bunga telang memiliki kandungan antioksidan dan antimikroba. Berbekal pengetahuan ini, ia bereksperimen menciptakan face mist, sabun cair, dan hand sanitizer dari bunga telang, dengan penambahan bahan lain seperti air mawar, cairan kimia untuk sabun, dan lidah buaya untuk hand sanitizer. Produk-produk ini rutin diproduksi untuk pameran UMKM. Ke depan, Reva berambisi untuk mengurus izin edar dan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) agar produknya dapat diproduksi secara massal. Kepala SMPN 1 Surabaya, Eko Widayani, mengapresiasi konsistensi Reva dan menyambut baik kemampuannya menularkan kepedulian lingkungan kepada teman-temannya. Dukungan penuh juga datang dari ibunya, Yuki Aprianova, yang bahkan rela berhenti bekerja demi mendampingi putrinya dalam mengembangkan minatnya di bidang lingkungan.
Cuan dari Pelestarian Mangrove: Mengubah Buah Terbuang Menjadi Produk Bernilai Jual
Di sisi lain, Adinda Putri Kusumawardhani, seorang mahasiswi asal Pasuruan, Jawa Timur, juga menunjukkan dedikasi luar biasa terhadap pelestarian lingkungan melalui pemanfaatan buah mangrove. Kelompok Gen Z ini tidak hanya fokus pada pelestarian, tetapi juga pada pemberdayaan mangrove untuk diolah menjadi makanan ringan hingga kopi non-kafein. Cerita Adinda berawal dari masa pandemi COVID-19 pada tahun 2020, ketika ia harus menjalani sekolah daring. Untuk mengisi waktu, ia mengunjungi rumah kakek-neneknya di kawasan Nguling, Pasuruan, yang terkenal sebagai pusat budidaya mangrove di Pantai Penunggul.
Saat “menyembuhkan diri” atau healing di pantai tersebut, Adinda melihat banyak sampah berserakan, termasuk buah mangrove yang berjatuhan. Hal ini memicu rasa ingin tahunya: “Apakah buah mangrove ini tidak ada manfaatnya? Apakah hanya tanamannya saja yang bermanfaat?” Pertanyaan ini mendorongnya untuk mencari informasi melalui internet. Ia menemukan bahwa buah mangrove jenis Rhizophora mucronata, yang tumbuh di Pasuruan, dapat diolah menjadi berbagai produk makanan dan minuman. Adinda tertarik pada kopi non-kafein karena beberapa alasan: ayahnya adalah pecinta kopi yang menyadari dampak negatif kafein berlebih, dan Adinda sendiri sering bermasalah dengan lambungnya akibat kopi berperisa.
Adinda mempelajari proses pembuatan kopi dari buah mangrove melalui tutorial yang dipublikasikan di internet, yang ternyata pernah diterapkan oleh warga di Nusa Tenggara Timur. Prosesnya memang rumit dan memakan waktu. Buah mangrove yang matang diambil, direndam dalam air kapur selama tiga hari untuk menghilangkan racunnya, kemudian dikupas dan bijinya dijemur hingga benar-benar kering. Biji mangrove yang kering lalu dihaluskan dan disaring. Bubuk mangrove ini kemudian dicampur dengan bubuk kopi robusta atau arabika sesuai selera, karena bubuk buah mangrove saja akan terasa hambar. Adinda juga mengolah buah mangrove menjadi keripik. Seluruh proses kreasi ini dilakukan dengan bantuan lima temannya dan kedua orang tuanya.
Awalnya, produk olahan buah mangrove ini sempat dicemooh oleh sebagian warga yang menganggapnya berbahaya. Cerita tentang monyet yang mati setelah memakan buah mangrove di kebun tersebut membuat warga percaya bahwa buah itu beracun. Namun, Adinda tidak menyerah. Ia berjejaring dengan para pelestari mangrove di Pasuruan dan mempresentasikan produknya. Kesempatan emas datang ketika ia mendapat kesempatan mempresentasikan produknya ke Bagian Corporate Social Responsibility (CSR) PLN, yang akhirnya memberikan pendanaan untuk pengembangan produknya. Setelah menerima pendanaan dan memproduksi dalam jumlah besar, produk Adinda mulai diterima oleh warga. Produk yang dinamai Macaro ini bahkan telah memperoleh izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan mendapat dukungan dari organisasi non-pemerintah seperti PLAN Indonesia dan Save the Children.
Kini, Adinda telah berhasil menggandeng pemuda karang taruna dan ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) setempat untuk terlibat dalam pembuatan, promosi, dan penjualan produk mangrove. Ia melihat kedua kelompok ini dapat menjadi perantara dalam mengentaskan kemiskinan dan mencegah patriarki di keluarga, mengingat kawasan Nguling memiliki angka pernikahan dini dan kemiskinan yang tinggi. Dengan memberikan penghasilan melalui produk ini, Adinda berharap mereka dapat perlahan terlepas dari belenggu kemiskinan dan patriarki. Produk kopi dan keripik mangrove Adinda kini dipasarkan secara luas melalui penjualan daring. Bersama kelima temannya, Adinda juga kerap memberikan pelatihan budidaya mangrove ke sekolah-sekolah dan organisasi, dengan harapan dapat menularkan semangat budidaya mangrove ke masyarakat yang lebih luas di luar Pasuruan dan Jawa Timur.













