Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Jawa Tengah, Muhdi, secara tegas mendorong optimalisasi Koperasi Desa Merah Putih melalui pendekatan kreativitas berbasis kearifan lokal guna memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan di tingkat akar rumput. Dalam kunjungan kerjanya di Kabupaten Semarang pada Jumat lalu, senator tersebut menyoroti urgensi penyesuaian program koperasi dengan kebutuhan riil masyarakat desa agar tidak terjebak dalam formalitas birokrasi yang kaku. Langkah ini sejalan dengan mandat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, yang bertujuan mewujudkan swasembada pangan dan kemandirian ekonomi nasional melalui sinergi antara pemerintah, perangkat desa, dan warga setempat dalam sebuah wadah ekonomi yang inklusif.
Kegiatan yang berlangsung di Kecamatan Leyangan ini diselenggarakan melalui kolaborasi strategis antara kantor perwakilan DPD RI Jawa Tengah dengan Universitas PGRI Semarang (Upgris). Dalam gelaran pasar murah tersebut, Muhdi tidak hanya sekadar memantau distribusi logistik, tetapi juga melakukan dialog mendalam mengenai arah kebijakan pembangunan ekonomi desa. Ia menekankan bahwa Koperasi Merah Putih harus menjadi motor penggerak ekonomi yang fleksibel dan tidak seharusnya terbelenggu secara kaku oleh daftar program prioritas pemerintah pusat jika program tersebut tidak relevan dengan kondisi geografis atau sosial di lapangan. Menurutnya, keberhasilan sebuah koperasi sangat bergantung pada kemampuannya membaca peluang unik yang ada di lingkungan sekitarnya, bukan sekadar mengekor pada tren bisnis yang sudah jenuh.
Transformasi Koperasi Melalui Kreativitas dan Kearifan Lokal
Muhdi memberikan kritik konstruktif terhadap beberapa rencana program yang dinilai kurang tepat sasaran jika diterapkan secara seragam di seluruh wilayah. Salah satu poin krusial yang ia soroti adalah rencana menjadikan koperasi sebagai agen tunggal atau penyalur elpiji. Ia berpendapat bahwa di wilayah yang sudah memiliki banyak agen elpiji eksisting, kehadiran unit usaha serupa dari koperasi justru berpotensi memicu persaingan yang tidak sehat dan tidak memberikan nilai tambah yang signifikan bagi masyarakat. Hal yang sama berlaku untuk sektor kesehatan; ia menilai pembukaan apotek oleh koperasi tidak mendesak jika di desa tersebut sudah tersedia fasilitas farmasi yang memadai. Kreativitas pengurus koperasi ditantang untuk mencari ceruk pasar lain, seperti pengolahan hasil pertanian unggulan desa, pengembangan potensi wisata lokal, atau penyediaan sarana produksi pertanian yang lebih spesifik.
Lebih lanjut, senator asal Jawa Tengah ini memberikan apresiasi tinggi terhadap kesiapan infrastruktur di Kecamatan Leyangan. Ia mencatat bahwa gerai Koperasi Merah Putih di wilayah tersebut sudah dalam posisi siap operasi, yang menunjukkan komitmen kuat dari masyarakat setempat. Namun, ia juga memberikan catatan penting agar operasional koperasi ini dikelola secara profesional dan transparan agar tidak mengganggu atau tumpang tindih dengan rencana pembangunan desa yang telah disusun menggunakan Dana Desa. Muhdi mengingatkan bahwa koperasi harus berdiri sebagai entitas bisnis yang mandiri dan saling mendukung dengan program pembangunan desa, bukannya menjadi beban tambahan yang menghambat realisasi proyek infrastruktur atau pemberdayaan masyarakat yang sudah direncanakan sebelumnya.
Sinergi Kelembagaan dan Mitigasi Konflik di Tingkat Desa
Untuk memastikan keberlangsungan jangka panjang, Muhdi menyarankan agar seluruh jajaran pengurus koperasi, mulai dari ketua hingga pengawas, aktif menjalin komunikasi dengan perangkat desa. Sinergi antara Kepala Desa, Ketua RT, dan Ketua RW dianggap sebagai kunci utama dalam menyosialisasikan program-program koperasi kepada warga. Langkah ini sangat krusial untuk menghindari potensi konflik kepentingan atau kesalahpahaman di kemudian hari. “Koperasi ini adalah milik warga, dari warga, dan untuk warga. Oleh karena itu, semua elemen desa harus menyatu dan memastikan bahwa setiap langkah yang diambil koperasi benar-benar memberikan manfaat ekonomi yang nyata dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas,” tegas Muhdi dalam dialognya.
Dalam konteks yang lebih luas, pembentukan Koperasi Desa Merah Putih merupakan bagian dari visi besar Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai swasembada pangan yang berkelanjutan. Koperasi ini diharapkan menjadi jembatan bagi para petani dan produsen lokal untuk mendapatkan akses pasar yang lebih luas dan harga yang lebih adil. Dengan adanya dukungan dari Pertamina yang telah memberikan lampu hijau untuk subpangkalan LPG resmi di beberapa titik, koperasi diharapkan mampu menjaga stabilitas distribusi energi bersubsidi agar tepat sasaran. Namun, Muhdi kembali mengingatkan bahwa setiap desa memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga pendekatan “one size fits all” harus dihindari demi menjaga efektivitas program nasional ini di tingkat lokal.
Sebagai bentuk aksi nyata dalam membantu meringankan beban ekonomi masyarakat di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok, acara pasar murah tersebut menyediakan sedikitnya 250 paket sembako. Setiap paket yang berisi komoditas pangan esensial tersebut dijual dengan harga yang sangat terjangkau, yakni Rp50.000 per paket, jauh di bawah harga pasar normal yang mencapai Rp105.000. Potongan harga yang mencapai sekitar 40 hingga 50 persen ini merupakan hasil subsidi dan kerja sama berbagai pihak. Inisiatif ini tidak hanya berfungsi sebagai bantuan sosial jangka pendek, tetapi juga sebagai momentum untuk memperkenalkan peran strategis Koperasi Merah Putih kepada warga sebagai lembaga yang hadir untuk menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan ekonomi keluarga di tingkat desa.
Ke depan, Muhdi berharap Koperasi Desa Merah Putih dapat berkembang menjadi institusi keuangan dan perdagangan yang tangguh di Jawa Tengah. Dengan memanfaatkan teknologi informasi dan manajemen modern, koperasi desa diharapkan tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan menjadi pilar utama dalam mewujudkan kemandirian bangsa. Melalui dorongan kreativitas yang terus-menerus dan penghormatan terhadap kearifan lokal, Koperasi Merah Putih diproyeksikan mampu menghadapi tantangan ekonomi global sekaligus menjaga nilai-nilai gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia.













