Ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah, khususnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, telah mengirimkan gelombang kejutan ke pasar keuangan global, secara langsung menekan kinerja mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah Indonesia. Pada penutupan perdagangan Jumat, 27 Februari 2026, nilai tukar Rupiah terpantau melemah signifikan terhadap Dolar Amerika Serikat (AS), mencatatkan penurunan sebesar 0,17% secara harian hingga mencapai level Rp 16.787 per dolar AS. Pelemahan ini bukan hanya sekadar fluktuasi biasa, melainkan cerminan dari kekhawatiran investor yang mendalam terhadap ketidakpastian global. Analis pasar memproyeksikan bahwa sentimen ‘risk-off’ yang dipicu oleh ancaman konflik militer ini akan terus membayangi pergerakan Rupiah di awal pekan, dengan beberapa skenario bahkan mengindikasikan potensi pelemahan lebih lanjut menuju ambang batas psikologis Rp 17.000 per dolar AS, meskipun ada pula harapan penguatan terbatas dari data ekonomi AS yang diperkirakan melemah.
Gejolak Geopolitik Global Menekan Rupiah: Analisis Mendalam
Pelemahan Rupiah pada akhir pekan lalu menjadi indikasi kuat betapa sensitifnya pasar keuangan Indonesia terhadap dinamika global. Selain data penutupan pasar yang menunjukkan pelemahan 0,17% ke level Rp 16.787 per dolar AS, data dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia juga mengonfirmasi tren serupa, dengan Rupiah melemah 0,12% secara harian ke posisi Rp 16.779 per dolar AS. Jisdor sendiri merupakan kurs referensi yang diterbitkan oleh Bank Indonesia berdasarkan survei transaksi valuta asing antar bank, menjadikannya indikator penting bagi pergerakan nilai tukar di pasar domestik.
Penyebab utama di balik tekanan ini, sebagaimana diungkapkan oleh Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, adalah potensi serangan militer AS-Israel terhadap Iran. Konflik ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan puncak dari ketegangan yang telah lama membara. Ibrahim menjelaskan bahwa serangan tersebut dipicu oleh ketidakpuasan Presiden AS, Donald Trump, atas hasil pertemuan delegasi AS dan Iran yang membahas program reaktor nuklir dan misil Iran. Sejarah mencatat bahwa AS di bawah pemerintahan Trump sebelumnya telah menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA) dan menerapkan sanksi keras, menuduh Iran mengembangkan program misil balistik yang mengancam stabilitas regional. Setiap indikasi eskalasi militer di kawasan strategis seperti Timur Tengah secara otomatis memicu sentimen ‘risk-off’ di pasar global. Dalam kondisi ini, investor cenderung menarik modalnya dari aset-aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti Rupiah, dan beralih ke aset ‘safe haven’ seperti Dolar AS, emas, atau obligasi pemerintah AS. Fenomena ini menciptakan tekanan jual yang kuat pada Rupiah, memperlemah nilainya terhadap Dolar AS.
Dampak Krisis Timur Tengah Terhadap Stabilitas Ekonomi Indonesia
Sentimen ‘risk-off’ yang melanda pasar global akibat ancaman konflik militer AS-Israel vs. Iran memiliki implikasi serius bagi stabilitas ekonomi Indonesia. Kepala Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengamini bahwa pelemahan Rupiah pada akhir pekan lalu memang disebabkan oleh sentimen ini yang juga menekan pasar ekuitas. Pasar saham Indonesia, yang tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), juga terancam tertekan. Investor menjadi lebih berhati-hati dan memilih untuk ‘wait and see’, menunda keputusan investasi hingga ada kejelasan lebih lanjut mengenai arah konflik dan dampaknya.
Lebih dari sekadar fluktuasi mata uang, konflik bersenjata antara Iran dan Israel yang kian memanas tidak hanya memicu ketegangan geopolitik global, tetapi juga secara langsung mengancam stabilitas ekonomi Indonesia. Ancaman ini datang dalam berbagai bentuk: mulai dari potensi kenaikan harga minyak mentah global yang akan membebani neraca perdagangan dan subsidi energi Indonesia, hingga penarikan modal asing yang dapat mengganggu likuiditas pasar dan stabilitas sektor keuangan. Dalam skenario terburuk, ketidakpastian ini dapat menghambat investasi dan pertumbuhan ekonomi domestik.
Selain faktor geopolitik, pasar juga menantikan serangkaian data ekonomi penting Indonesia yang akan dirilis pada awal pekan. Data-data tersebut meliputi inflasi, data manufaktur, dan data perdagangan. Data inflasi memberikan gambaran tentang daya beli masyarakat dan potensi kenaikan harga, yang jika tinggi dapat memicu kekhawatiran akan stabilitas ekonomi. Data manufaktur mencerminkan aktivitas sektor industri, yang merupakan salah satu pilar pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, data perdagangan (ekspor dan impor) menunjukkan kesehatan neraca pembayaran negara. Hasil dari data-data ini akan menjadi pertimbangan penting bagi investor dalam mengambil keputusan, dan dapat memberikan dorongan atau tekanan tambahan pada Rupiah, tergantung pada hasilnya.
Proyeksi Rupiah di Tengah Ketidakpastian: Skenario Para Ekonom
Di tengah bayang-bayang ketidakpastian global, para ekonom dan analis pasar telah merumuskan proyeksi pergerakan Rupiah untuk jangka pendek. Ibrahim Assuaibi, dengan pandangannya yang cenderung pesimis terhadap dampak konflik, memproyeksikan bahwa Rupiah berpotensi menuju level Rp 17.000 per dolar AS dalam sepekan ke depan. Angka Rp 17.000 ini seringkali dianggap sebagai ambang batas psikologis yang, jika terlampaui, dapat memicu sentimen negatif lebih lanjut dan mempercepat pelemahan. Untuk hari Senin, 2 Maret 2026, Ibrahim memproyeksikan Rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.790 hingga Rp 16.820 per dolar AS. Proyeksi ini mengindikasikan bahwa tekanan jual akan tetap dominan.
Senada dengan Ibrahim, Lukman Leong

















