Langkah agresif PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) dalam mempercepat transisi energi nasional kini memasuki babak baru melalui penguatan portofolio gas rendah karbon di wilayah Sumatra. Sebagai Subholding Gas Pertamina, PGN secara resmi berkomitmen untuk menyerap produksi Bio-Compressed Natural Gas (BioCNG) dari fasilitas mutakhir yang tengah dikembangkan oleh KIS Group dan AEP Group di Tapung Hilir, Kabupaten Kampar, Riau. Kesepakatan strategis ini dijalankan melalui anak usaha PGN, PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas), yang bertindak sebagai offtaker utama untuk mendistribusikan energi bersih tersebut kepada konsumen industri maupun komersial. Sinergi ini tidak hanya menjadi tonggak penting dalam pemanfaatan limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) menjadi energi bernilai tinggi, tetapi juga menjadi jawaban atas tantangan pemenuhan kebutuhan gas bumi di wilayah yang belum terjangkau oleh jaringan pipa transmisi konvensional.
Transformasi Limbah Sawit Menjadi Energi Terbarukan di Kampar
Pembangunan pabrik BioCNG di Tapung Hilir ini menandai pergeseran paradigma dalam pengelolaan limbah industri sawit di Indonesia. Fasilitas ini dirancang untuk menangkap gas metana yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah cair kelapa sawit milik PT Bina Pitri Jaya, sebuah entitas di bawah naungan AEP Group. Secara teknis, gas metana yang biasanya terlepas ke atmosfer dan menjadi salah satu kontributor gas rumah kaca yang sangat kuat, akan dimurnikan dan dikompresi menjadi BioCNG yang memiliki karakteristik serupa dengan gas bumi konvensional namun dengan jejak karbon yang jauh lebih rendah. Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Mirza Mahendra, menegaskan bahwa proyek ini merupakan pilar penting dalam strategi beyond pipeline perusahaan. Dengan mengonversi limbah menjadi energi yang mudah dipindahkan melalui moda transportasi darat, PGN dapat menjangkau titik-titik kebutuhan energi di pelosok daerah tanpa harus bergantung sepenuhnya pada infrastruktur pipa yang memakan waktu lama dan biaya besar untuk dibangun.
Proyek ambisius ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada kuartal I tahun 2027. Berdasarkan proyeksi teknis, saat pabrik ini beroperasi pada kapasitas penuh, fasilitas tersebut diperkirakan mampu memproduksi sekitar 142.450 MMBTU BioCNG per tahun. Angka ini setara dengan penyediaan energi bersih yang signifikan bagi puluhan industri menengah hingga besar. Selain aspek kedaulatan energi, dampak lingkungan yang dihasilkan pun sangat masif. Proyek di Kampar ini diklaim mampu menekan emisi gas rumah kaca hingga mencapai 70.085 ton CO2 per tahun. Penurunan emisi ini berkontribusi langsung pada target Net Zero Emission (NZE) Indonesia, sekaligus memperkuat posisi industri sawit nasional sebagai sektor yang mampu menerapkan prinsip ekonomi sirkular secara berkelanjutan.
Rekam Jejak KIS Group dan Ekspansi BioCNG di Sumatra
Keberhasilan inisiasi di Kampar tidak lepas dari pengalaman panjang KIS Group dalam mengembangkan teknologi biogas di Indonesia. Sebelumnya, KIS Group melalui unit usahanya, Knowledge Integration Services (KIS) Sustainability2, telah membuktikan keberhasilan model bisnis ini melalui kolaborasi dengan Société Internationale de Plantations et de Finance (SIPEF) Group. Pabrik BioCNG komersial pertama mereka telah resmi beroperasi di areal pabrik kelapa sawit PT Tolan Tiga Indonesia, Kebun Perlabian, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Sumatra Utara. Fasilitas yang berdiri di atas lahan seluas 120 meter persegi tersebut menjadi bukti nyata bahwa teknologi methane capture modern dapat diimplementasikan secara efisien dalam skala industri besar. Dengan nilai investasi mencapai Rp 59,4 miliar untuk satu fasilitas, pabrik di Labuhanbatu Selatan tersebut telah mampu memproduksi 109.620 MMBtu per tahun, yang mana produksinya diserap sepenuhnya oleh konsumen besar seperti Unilever Oleochemical Indonesia.
Founder dan CEO KIS Group, K. R. Raghunath, menyatakan bahwa pembangunan fasilitas BioCNG di berbagai titik di Sumatra merupakan bentuk komitmen jangka panjang terhadap pengembangan energi terbarukan yang memiliki nilai ekonomi nyata. Hingga saat ini, KIS Group secara kumulatif telah membangun tiga pabrik BioCNG komersial di Sumatra Utara dengan total investasi yang mencapai Rp 187,8 miliar. Investasi besar ini tidak hanya berdampak pada angka produksi energi, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi baru melalui pembukaan sekitar 60 lapangan kerja hijau (green jobs) bagi masyarakat lokal. Secara keseluruhan, rangkaian proyek ini diproyeksikan mampu mengurangi emisi sekitar 165 ribu ton CO2 dan memproduksi BioMethane hingga 315.000 MMBtu per tahun. Hal ini secara langsung membantu pemerintah dalam menekan ketergantungan pada impor bahan bakar fosil, terutama LPG, yang selama ini membebani neraca perdagangan negara.
Sinergi Strategis untuk Ketahanan Energi Nasional
Kemitraan antara PGN Gagas, KIS Group, dan AEP Group menciptakan sebuah rantai pasok energi yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Di sisi hulu, AEP Group memastikan ketersediaan bahan baku POME yang melimpah dan berkelanjutan. Di sisi tengah, KIS Group menghadirkan keahlian teknologi pemurnian gas metana yang efisien. Sementara di sisi hilir, PGN melalui PGN Gagas menyediakan infrastruktur distribusi dan basis pelanggan yang luas. Mirza Mahendra menjelaskan bahwa fleksibilitas pasokan adalah kunci utama dalam menghadapi dinamika pasar energi masa depan. BioCNG memberikan keunggulan kompetitif bagi pelanggan industri yang ingin meningkatkan profil keberlanjutan mereka (ESG profile) tanpa harus melakukan perombakan besar-besaran pada peralatan pembakaran gas yang sudah ada.
Selain manfaat lingkungan, proyek BioCNG ini juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi daerah. Dengan adanya pabrik pengolahan limbah di Tapung Hilir, Kabupaten Kampar akan menjadi salah satu pusat inovasi energi hijau di Riau. Pemanfaatan sumber daya lokal untuk kebutuhan energi lokal meminimalkan biaya logistik dan meningkatkan ketahanan energi daerah. K. R. Raghunath menambahkan bahwa kolaborasi dengan pemimpin industri seperti PGN dan AEP Group membuktikan bahwa solusi energi terbarukan berskala komersial bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang memberikan manfaat ekonomi nyata bagi para pemangku kepentingan dan masyarakat sekitar. Dengan target operasional di awal 2027, proyek ini diharapkan menjadi cetak biru bagi pengembangan fasilitas serupa di berbagai wilayah sentra sawit lainnya di seluruh Indonesia.
Dampak Lingkungan dan Pengurangan Emisi Karbon
Dalam konteks global, pengembangan BioCNG dari POME merupakan salah satu langkah mitigasi perubahan iklim yang paling efektif di sektor perkebunan. Limbah cair sawit yang dibiarkan di kolam terbuka akan melepaskan gas metana secara alami, yang memiliki potensi pemanasan global 25 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida. Dengan teknologi penangkapan metana yang diterapkan oleh KIS Group, potensi polusi tersebut diubah menjadi aset energi bersih. Tabel berikut merangkum estimasi dampak lingkungan dan produksi dari proyek BioCNG di wilayah Sumatra yang dikembangkan oleh konsorsium ini:
| Lokasi Proyek | Kapasitas Produksi (MMBtu/Tahun) | Reduksi Emisi (Ton CO2/Tahun) | Status Operasional |
|---|---|---|---|
| Labuhanbatu Selatan (SIPEF) | 109.620 | 54.810 | Beroperasi (Desember 2025) |
| Tapung Hilir, Kampar (AEP) | 142.450 | 70.085 | Konstruksi (Target Q1 2027) |
| Total Regional (Estimasi) | 315.000 | 165.000 | Pengembangan Berlanjut |
Keberlanjutan proyek ini juga didukung oleh kebijakan pemerintah yang terus mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional. PGN, sebagai kepanjangan tangan pemerintah di sektor gas, terus berupaya mencari sumber-sumber gas alternatif yang lebih ramah lingkungan untuk menggantikan bahan bakar minyak di sektor transportasi dan industri. Langkah PGN Gagas menjadi offtaker BioCNG di Kampar menjadi bukti nyata bahwa transisi energi dapat dilakukan dengan memanfaatkan potensi lokal secara maksimal. Melalui integrasi teknologi, investasi yang tepat, dan komitmen kuat terhadap lingkungan, Indonesia berpeluang besar menjadi pemimpin dalam produksi energi berbasis biomassa di kawasan Asia Tenggara.

















