Pasar modal Indonesia mengalami guncangan hebat pada perdagangan awal pekan, Senin (2/3/2026), menyusul eskalasi konflik militer yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran di Timur Tengah yang memicu kepanikan investor global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terhempas ke zona merah dengan koreksi tajam sebesar 2,66 persen atau kehilangan 218,65 poin, hingga terpuruk ke level 8.016,83 pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sentimen negatif ini dipicu oleh serangan terbuka yang dilancarkan pada Sabtu (28/2), yang tidak hanya mengancam stabilitas geopolitik tetapi juga memicu lonjakan harga minyak mentah dunia serta komoditas energi lainnya. Di tengah rontoknya ratusan saham dari berbagai sektor, kelompok saham energi justru tampil anomali dengan mencatatkan penguatan signifikan, bertindak sebagai benteng pertahanan terakhir bagi para pemodal di tengah ketidakpastian pasar yang ekstrem.
Kepanikan pasar sudah terlihat sejak bel pembukaan perdagangan dimulai, di mana IHSG langsung terjun bebas dan sempat menyentuh titik terendahnya dengan koreksi mencapai 5,03 persen atau merosot 418,75 poin ke level 7.910,85 hanya dalam 17 menit pertama. Aksi jual masif (panic selling) melanda hampir seluruh papan perdagangan, dipicu oleh kekhawatiran bahwa perang terbuka di Timur Tengah akan mengganggu jalur pasokan logistik global dan memicu inflasi energi yang tidak terkendali. Berdasarkan riset mendalam dari berbagai sekuritas, termasuk Phintraco Sekuritas, tercatat sebanyak 704 saham mengalami penurunan harga, yang mencerminkan betapa luasnya tekanan jual yang terjadi. Indeks LQ45, yang merepresentasikan saham-saham dengan likuiditas tinggi dan fundamental kuat, juga tidak luput dari hantaman dengan pelemahan sebesar 2,62 persen atau turun 21,86 poin ke posisi 812, menunjukkan bahwa investor institusi pun cenderung melakukan langkah de-risking dengan melepas aset berisiko mereka.
Analisis sektoral menunjukkan pemandangan yang memprihatinkan, di mana hampir seluruh indeks sektoral di Stockbit berakhir di teritori negatif dengan persentase penurunan yang sangat dalam. Sektor consumer cyclicals menjadi yang paling babak belur dengan kejatuhan mencapai 7,60 persen, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap penurunan daya beli masyarakat akibat potensi kenaikan harga BBM dan inflasi. Sektor industrial menyusul dengan koreksi 5,95 persen, sementara sektor infrastruktur dan properti masing-masing melemah 4,13 persen dan 4,14 persen. Sektor teknologi yang sangat sensitif terhadap fluktuasi suku bunga dan sentimen global juga terpangkas 3,77 persen. Sektor-sektor penopang pasar lainnya seperti keuangan (finance) turun 2,67 persen, transportasi melemah 2,74 persen, kesehatan terkoreksi 2,16 persen, serta industri dasar dan non-cyclicals masing-masing turun 0,87 persen dan 3,58 persen. Tekanan sistemik ini menggambarkan bahwa pasar sedang mengantisipasi dampak jangka panjang dari ketegangan AS-Israel vs Iran yang bisa menyeret ekonomi global ke dalam resesi baru.
Resiliensi Sektor Energi di Tengah Badai Geopolitik
Berbanding terbalik dengan kondisi pasar yang memerah, sektor energi muncul sebagai satu-satunya oase hijau dengan mencatatkan kenaikan kolektif sebesar 1,54 persen. Lonjakan harga minyak mentah dunia yang melampaui level psikologis akibat ancaman gangguan di Selat Hormuz menjadi katalisator utama bagi saham-saham migas dan batu bara. Investor berbondong-bondong mengalihkan aset mereka ke sektor komoditas yang dianggap memiliki korelasi positif dengan inflasi energi. Fenomena ini menempatkan sejumlah emiten energi dalam daftar top gainers dengan kenaikan yang sangat fantastis. PT Indo Oil Perkasa Tbk (OILS) memimpin reli dengan lonjakan harga hingga 34,69 persen ke level 264 per lembar saham. Performa gemilang juga ditunjukkan oleh PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) yang keduanya kompak meroket 25,00 persen, masing-masing bertengger di level 2.200 dan 310. Tidak ketinggalan, PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) yang bergerak di bidang jasa pengeboran darat dan lepas pantai turut terkerek naik 24,04 persen menuju posisi 258.
Kenaikan harga minyak yang dipicu oleh keterlibatan militer Amerika Serikat dalam mendukung Israel melawan Iran memberikan angin segar bagi margin keuntungan emiten produsen migas. PT Elnusa Tbk (ELSA) mencatatkan lonjakan harga sebesar 17,65 persen ke level 1.000, sementara raksasa migas swasta PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) melesat 15,65 persen ke posisi 1.995. Emiten tambang yang mulai bertransformasi ke energi bersih namun masih memiliki basis batu bara kuat, PT Indika Energy Tbk (INDY), juga menguat signifikan sebesar 15,53 persen ke level 4.240. Saham-saham energi lapis kedua dan pendukung lainnya ikut berpesta di tengah duka pasar; PT Ginting Jaya Energi Tbk (WOWS) naik 13,89 persen ke 82, PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) bertambah 12,40 persen ke 725, serta PT Citra Nusantara Gemilang Tbk (CGAS) yang menguat 11,31 persen ke level 187. Bahkan sektor terkait seperti PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) secara mengejutkan ikut terangkat 12,03 persen ke posisi 885.
Dampak Multiplier dan Proyeksi Pasar Kedepan
Sentimen risk-off yang mendominasi pasar tidak hanya terbatas pada saham migas, tetapi juga merembet ke komoditas tambang dan logistik laut yang diprediksi akan mengalami kenaikan tarif angkut akibat risiko keamanan jalur pelayaran. PT Black Diamond Resources Tbk (COAL) berhasil menguat 8,33 persen ke level 78, disusul oleh PT Jantra Grupo Indonesia Tbk (KAQI) yang naik 7,27 persen ke 118. Salah satu pemain besar di sektor batu bara, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), mencatatkan kenaikan harga 7,03 persen ke level 9.900, didorong oleh ekspektasi bahwa batu bara akan kembali menjadi alternatif energi murah saat harga gas dan minyak melambung. Di sisi lain, saham pelayaran PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) bertambah 7,00 persen ke 428, dan emiten jasa pertambangan PT BUMA Internasional Grup (DOID) menguat 6,71 persen ke posisi 318. Penguatan saham-saham ini menunjukkan bahwa pasar sedang melakukan rotasi portofolio secara agresif menuju aset-aset defensif yang diuntungkan oleh skenario perang.
















