- Kabupaten Boyolali: Memimpin dengan total 98 unit SPPG yang tersebar di berbagai kecamatan untuk melayani siswa dan kelompok rentan.
- Kabupaten Klaten: Menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak yakni 105 unit SPPG, mengingat kepadatan penduduk dan jumlah institusi pendidikan yang cukup tinggi.
- Kabupaten Sukoharjo: Memiliki 77 unit SPPG yang telah beroperasi secara penuh dalam mendukung ketahanan gizi masyarakat.
- Kabupaten Wonogiri: Dengan kondisi geografis yang menantang, wilayah ini berhasil mengoperasikan 72 unit SPPG untuk memastikan akses gizi merata hingga pelosok desa.
- Kabupaten Karanganyar: Tercatat memiliki 77 unit SPPG yang terintegrasi dengan program kesehatan daerah.
- Kabupaten Sragen: Mengoperasikan 85 unit SPPG sebagai upaya mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia di wilayah tersebut.
- Kota Solo (Surakarta): Sebagai pusat urban, Solo memiliki 59 unit SPPG yang difokuskan pada pelayanan sekolah-sekolah di wilayah perkotaan yang padat.
Meskipun angka-angka tersebut menunjukkan pencapaian yang luar biasa, Dadang Hendrayudha mengakui bahwa secara rasio kebutuhan, jumlah SPPG yang ada saat ini masih perlu terus ditambah guna mencapai titik ideal dibandingkan dengan total jumlah penerima manfaat yang terus bertambah. Badan Gizi Nasional terus melakukan pemetaan strategis untuk mengidentifikasi titik-titik baru yang memerlukan pembangunan SPPG tambahan. Evaluasi berkelanjutan menjadi kunci utama dalam memastikan bahwa setiap rupiah dari anggaran negara yang dialokasikan benar-benar bertransformasi menjadi asupan bergizi yang berkualitas bagi masyarakat, sekaligus memberikan multiplier effect terhadap ekonomi lokal melalui penyerapan produk pertanian, peternakan, dan keterlibatan UMKM di sekitar lokasi dapur.
Transformasi Manajerial dan Komitmen Kemanusiaan dalam Program MBG 2026
Memasuki tahun anggaran 2026, Badan Gizi Nasional memastikan bahwa seluruh aspek pendukung program MBG akan mengalami peningkatan kualitas secara komprehensif. Perbaikan tidak hanya menyasar pada kuantitas infrastruktur, tetapi juga pada standar kualitas dapur, akurasi perhitungan kecukupan gizi (nutritional adequacy), serta sistem logistik yang lebih mumpuni. Dadang menekankan bahwa MBG bukan sekadar proyek pembangunan fisik atau aktivitas bisnis semata, melainkan sebuah misi kemanusiaan yang mendalam. Investasi yang dilakukan oleh pemerintah dan mitra swasta melalui program ini merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan generasi bangsa. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, yayasan, dan mitra strategis lainnya menjadi harga mati demi keberlangsungan program yang transparan dan akuntabel.
Senada dengan visi tersebut, Puspo Wardoyo selaku pemilik Yayasan Bangun Gizi Nusantara yang menaungi SPPG Gagaksipat di Boyolali, memberikan penekanan khusus pada pentingnya menjaga integritas dan mutu layanan. Sebagai salah satu pionir dalam pengelolaan dapur gizi, Puspo mengimbau kepada seluruh pengelola SPPG dan mitra terkait untuk tidak melihat program ini dari kacamata profit semata. Menjaga kualitas makanan, kebersihan fasilitas, dan ketepatan waktu distribusi adalah kewajiban moral yang harus dijunjung tinggi. Ia memperingatkan agar seluruh elemen masyarakat turut serta dalam mengawasi pelaksanaan program ini di lapangan, guna menghindari adanya potensi penyimpangan atau penurunan kualitas yang dapat merugikan penerima manfaat. Dengan pengelolaan yang serius dan profesional, program Makan Bergizi Gratis diharapkan dapat terus berjalan lancar tanpa hambatan berarti, menjadi fondasi bagi terciptanya generasi Indonesia Emas yang sehat, cerdas, dan kompetitif di kancah global.
| Indikator Capaian | Statistik Nasional (Januari 2026) |
|---|---|
| Total Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) | 20.419 Unit |
| Estimasi Penyerapan Tenaga Kerja | > 1.000.000 Orang |
| Total Penerima Manfaat | > 50.000.000 Jiwa |
| Kategori Penerima | PAUD, TK, SD, SMP, SMA, Balita, Ibu Hamil, Ibu Menyusui, Tenaga Pendidik |
Keberhasilan program Makan Bergizi Gratis di masa depan akan sangat bergantung pada konsistensi evaluasi lapangan dan keterbukaan terhadap inovasi teknologi pangan. BGN berkomitmen untuk terus memperbarui standar operasional prosedur (SOP) di setiap unit SPPG agar relevan dengan kebutuhan gizi spesifik di masing-masing daerah. Dengan dukungan anggaran yang kuat dan infrastruktur yang semakin modern pada tahun 2026, program ini diproyeksikan tidak hanya akan menuntaskan masalah kelaparan dan gizi buruk, tetapi juga akan menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi desa melalui rantai pasok pangan yang mandiri dan berkelanjutan.


















