Revolusi diagnosis dan penanganan penyakit jantung bawaan (Congenital Heart Disease/CHD) tengah mengemuka, didorong oleh kemajuan teknologi pencitraan medis yang semakin canggih. Salah satu inovasi yang menjadi sorotan adalah 3D echocardiography, sebuah metode pencitraan ultrasonografi tiga dimensi yang menawarkan detail visual luar biasa dari struktur jantung. Teknologi ini tidak hanya memfasilitasi identifikasi kelainan yang kompleks, tetapi juga berperan krusial dalam memandu tindakan intervensi yang presisi, baik untuk bayi maupun pasien dewasa. Perkembangan ini menjadi krusial mengingat meningkatnya prevalensi CHD secara global, yang menuntut para tenaga medis untuk terus memperbarui keilmuan dan keterampilan mereka.
Peran Krusial 3D Echocardiography dalam Identifikasi Morfologi Jantung Bawaan yang Kompleks
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Ario Soeryo Kuncoromenyoroti, secara tegas menggarisbawahi signifikansi 3D echocardiography dalam menangani penyakit jantung bawaan. Menurutnya, teknologi ini mampu mengidentifikasi morfologi ventrikel yang sangat kompleks pada pasien CHD, sebuah aspek yang seringkali sulit digambarkan secara akurat melalui metode pencitraan dua dimensi konvensional. Kemampuan ini sangat vital karena morfologi ventrikel yang abnormal dapat memengaruhi fungsi pompa jantung secara keseluruhan.
Lebih lanjut, Ario menjelaskan bahwa 3D echocardiography memfasilitasi evaluasi perubahan volume dan fungsi ventrikel dengan presisi yang lebih tinggi. Dengan merekonstruksi citra jantung dalam tiga dimensi, dokter dapat memperoleh gambaran volume ruang jantung secara lebih akurat, yang merupakan indikator penting dari kinerja jantung. Penilaian fungsi ventrikel, baik sistolik maupun diastolik, menjadi lebih komprehensif, memungkinkan deteksi dini penurunan fungsi atau kelainan pola pengisian jantung.
Aspek krusial lainnya yang disorot adalah kemampuan 3D echocardiography dalam melakukan penilaian anatomi dan fungsi katup jantung secara lebih detail. Katup jantung yang abnormal merupakan salah satu manifestasi umum dari CHD. Teknologi ini memungkinkan visualisasi yang mendalam terhadap bentuk, ukuran, dan pergerakan daun katup, serta mendeteksi adanya kebocoran (regurgitasi) atau penyempitan (stenosis) dengan tingkat akurasi yang superior. Detail ini sangat penting untuk menentukan strategi penanganan yang paling tepat.
Tidak hanya terbatas pada diagnosis, Ario menambahkan bahwa 3D echocardiography juga memainkan peran penting sebagai panduan periprocedural dalam tindakan intervensi transkateter. Dalam prosedur minimal invasif ini, di mana alat dimasukkan melalui pembuluh darah tanpa pembedahan terbuka, visualisasi yang akurat secara real-time sangat diperlukan. 3D echocardiography memberikan panduan spasial yang sangat berharga bagi intervensionis untuk menempatkan alat, seperti closure device, pada posisi yang tepat untuk menutup kelainan jantung, seperti defek septum.
Echocardiography: Pilar Non-Invasif dalam Kardiologi Pediatrik
Dalam konteks kardiologi pediatrik, echocardiography secara umum, dan khususnya versi tiga dimensinya, memegang teguh posisinya sebagai metode diagnostik utama. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Radityo Prakoso, menekankan bahwa echocardiography merupakan metode non-invasif yang tidak menggunakan radiasi, menjadikannya sangat aman untuk bayi dan anak-anak yang sensitif terhadap paparan radiasi. Keamanan ini dikombinasikan dengan akurasi yang tinggi dalam mendeteksi, mendiagnosis, dan memantau struktur serta fungsi jantung secara real-time.
Radityo menjelaskan bahwa kemampuan real-time echocardiography memungkinkan dokter untuk mengamati jantung yang terus bergerak dan berdenyut. Hal ini sangat penting untuk memahami dinamika aliran darah, fungsi katup, dan kontraksi otot jantung pada bayi dan anak yang kondisi jantungnya dapat berubah dengan cepat. Informasi visual langsung ini memberikan dasar yang kuat untuk diagnosis yang cepat dan tepat.
Data global mengenai prevalensi penyakit jantung bawaan menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan. Radityo mengutip data internasional yang mencatat lonjakan signifikan, dari hanya 0,6 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1930, menjadi 9,1 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2010. Asia dilaporkan sebagai wilayah dengan proporsi kasus CHD tertinggi, yang menyoroti urgensi penanganan dan deteksi dini di kawasan ini. Peningkatan prevalensi ini secara langsung memperkuat posisi echocardiography sebagai standar emas dalam pemantauan penyakit jantung bawaan, mulai dari masa neonatal hingga pemantauan jangka panjang seumur hidup pasien.
Seiring dengan tantangan peningkatan prevalensi CHD, kebutuhan akan peningkatan kompetensi tenaga medis menjadi sangat mendesak. Menyadari hal ini, Heartology Cardiovascular Hospital menyelenggarakan Mini Workshop CARES 2026 – 3D Echocardiography Essentials: Building the Foundation for Advanced Imaging Across All Ages. Acara yang diselenggarakan pada 18 Januari 2026 ini bertujuan untuk pengembangan keilmuan dan peningkatan kompetensi para profesional medis di bidang kardiovaskular. Workshop ini dihadiri oleh 30 dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang memiliki fokus pada ekokardiografi dan kardiologi pediatrik, dan dilaporkan berjalan lancar dengan respons yang sangat positif dari para peserta.
Aplikasi Praktis dan Pembelajaran Berkelanjutan dalam Imaging Kardiovaskular
Rangkaian sesi ilmiah dalam Mini Workshop CARES 2026 dirancang secara komprehensif untuk menggali peran strategis 3D echocardiography dalam praktik klinis modern. Materi yang disajikan mencakup teknik-teknik mutakhir dan tips serta trik dalam melakukan 3D imaging, yang sangat esensial untuk penilaian fungsi ventrikel kiri (LV) dan ventrikel kanan (RV). Penilaian fungsi kedua ventrikel ini krusial karena keduanya memiliki peran vital dalam memompa darah ke seluruh tubuh dan paru-paru.
Lebih jauh, workshop ini juga membahas secara mendalam aplikasi 3D echocardiography pada berbagai kelainan jantung kongenital dan struktural. Fokus utama diberikan pada aspek diagnosis dan tatalaksana, menunjukkan bagaimana teknologi ini dapat membantu dokter dalam merencanakan pendekatan pengobatan yang paling efektif. Pendekatan yang digunakan dalam workshop ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman konseptual peserta mengenai prinsip-prinsip 3D imaging sekaligus meningkatkan keterampilan aplikatif mereka dalam menggunakan teknologi pencitraan jantung yang presisi.
Untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih imersif, rangkaian kegiatan workshop dilanjutkan dengan sesi live demo kasus yang menggunakan teknik 3D Transthoracic Echocardiography (TTE) dan Transesophageal Echocardiography (TEE). TTE melibatkan penggunaan probe ultrasonografi yang ditempelkan di dada, sementara TEE menggunakan probe yang dimasukkan melalui kerongkongan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas dari jantung. Sesi ini diikuti oleh sesi hands-on workstation, di mana peserta dapat secara langsung berlatih melakukan penilaian 3D secara terarah di bawah bimbingan instruktur. Puncak dari rangkaian kegiatan adalah live intervention cases, yang secara langsung menunjukkan bagaimana 3D imaging yang presisi berperan penting dalam mendukung pengambilan keputusan klinis secara real-time selama prosedur intervensi.
Profesor Luigi Badano dari Italia, yang turut hadir sebagai pembicara internasional, memberikan apresiasi yang tinggi terhadap penyelenggaraan kegiatan ini. Beliau menyatakan kegembiraannya dapat berpartisipasi dalam Mini Workshop CARES 2026, dan mengamati antusiasme yang luar biasa dari para peserta. Profesor Badano mencatat bahwa peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan aktif, serta terlibat dalam diskusi dan sesi tanya jawab yang sangat dinamis. Beliau turut menegaskan kembali pentingnya echocardiography sebagai alat utama dalam diagnosis penyakit jantung, serta menekankan perlunya pembelajaran berkelanjutan dan komitmen untuk terus memperdalam keilmuan di bidang imaging kardiovaskular. Hal ini sejalan dengan kemajuan teknologi yang pesat di bidang ini.
Melalui penyelenggaraan Mini Workshop CARES 2026, Heartology Cardiovascular Hospital mengukuhkan komitmennya untuk terus mendorong penguatan kompetensi klinis para tenaga medis. Hospital ini juga berupaya untuk memaksimalkan pemanfaatan teknologi imaging jantung yang presisi, serta memfasilitasi kolaborasi ilmiah yang berkelanjutan. Diharapkan upaya-upaya ini akan berkontribusi signifikan dalam peningkatan kualitas layanan kardiovaskular di Indonesia, khususnya dalam penanganan penyakit jantung bawaan yang kompleks.


















