Dalam pusaran tantangan dan kebahagiaan masa pascamelahirkan, sebuah pesan krusial kembali digaungkan oleh pakar kesehatan: ketenangan ibu adalah kunci utama kelancaran proses menyusui. Pesan mendalam ini, yang disampaikan oleh Ketua Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, atau akrab disapa Dr. Tiwi, menyoroti bagaimana kondisi emosional seorang ibu memiliki dampak langsung dan signifikan terhadap produksi serta pengeluaran Air Susu Ibu (ASI). Ketika seorang ibu merasa tenang, hormon-hormon vital yang mendukung laktasi dapat bekerja secara optimal, memastikan suplai nutrisi terbaik bagi buah hati. Namun, mencapai ketenangan ini bukanlah perkara mudah, mengingat berbagai kecemasan yang kerap menghantui ibu baru, mulai dari kekhawatiran akan kecukupan ASI hingga berat badan bayi yang tak kunjung naik. Oleh karena itu, dukungan holistik dari keluarga, pemahaman fisiologi laktasi, serta asupan nutrisi yang memadai menjadi pilar penting untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perjalanan menyusui yang sukses dan nyaman.
Mengurai Benang Kusut Kecemasan dan Fisiologi Laktasi
Pernyataan Dr. Tiwi, “Kalau mau ASI lancar ya harus tenang,” yang disampaikannya dalam peluncuran Lacta Well di RSIA Bunda Jakarta, mungkin terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersembunyi kompleksitas emosional dan fisiologis yang dialami para ibu baru. Masa awal menyusui seringkali diwarnai oleh berbagai kecemasan yang mendalam. Ibu kerap mempertanyakan, “Apakah ASI saya cukup untuk bayi?” atau “Apakah bayi saya kenyang?” dan bahkan “Mengapa berat badan bayi saya terus menurun?”. Kekhawatiran-kekhawatiran ini, yang seringkali berlebihan, dapat menjadi penghalang besar dalam proses menyusui yang seharusnya alami dan penuh kasih.
Secara fisiologis, produksi dan pengeluaran ASI adalah proses yang sangat bergantung pada dua hormon kunci: prolaktin dan oksitosin. Prolaktin bertanggung jawab untuk memproduksi ASI di kelenjar payudara, sementara oksitosin memicu refleks pengeluaran ASI (let-down reflex) yang membuat ASI mengalir keluar. Sayangnya, ketika seorang ibu mengalami stres atau kecemasan, tubuhnya secara otomatis akan memproduksi hormon kortisol, sering disebut sebagai “hormon stres”. Kortisol ini memiliki efek antagonis terhadap oksitosin, yang berarti ia dapat menghambat kerja oksitosin. Akibatnya, meskipun prolaktin mungkin telah memproduksi ASI, kortisol dapat mencegah ASI keluar dengan lancar, menciptakan lingkaran setan kecemasan yang semakin memperparah kondisi. “Suasana yang tenang akan membantu hormon menyusui bekerja lebih baik,” demikian ditekankan dalam berbagai literatur kesehatan, menegaskan bahwa ketenangan adalah prasyarat agar sistem hormonal ibu dapat berfungsi optimal.
Dukungan Keluarga: Pilar Utama Ketenangan Ibu
Mengingat dampak destruktif stres terhadap laktasi, Dr. Tiwi menekankan pentingnya dukungan solid dari lingkungan terdekat ibu. Ini bukan hanya tanggung jawab suami, melainkan juga nenek, mertua, dan seluruh anggota keluarga yang berada di sekitar ibu. “Kalau ibunya tenang proses ini akan mudah. Hormon akan bekerja,” ujarnya. Dukungan ini harus bersifat holistik, mencakup bantuan praktis dalam mengurus rumah tangga atau bayi, serta dukungan emosional yang menguatkan.
Salah satu saran paling vital dari Dr. Tiwi kepada anggota keluarga adalah untuk “mengunci mulutnya.” Ini berarti menghindari berbagai komentar, kritik, atau bahkan keluhan yang justru dapat memicu ibu untuk “overthinking” atau berpikir berlebihan. Misalnya, komentar seperti “ASI-mu sedikit ya?” atau “Bayimu kok nangis terus, mungkin kurang ASI?” dapat menanamkan keraguan dan kecemasan yang mendalam pada ibu, yang pada gilirannya akan menghambat aliran ASI. Memberi waktu dan ruang bagi ibu, serta menciptakan lingkungan yang bebas dari tekanan dan penilaian, adalah bagian esensial dari dukungan menyusui yang efektif. “Dukungan sejak IMD (Inisiasi Menyusu Dini) jadi kunci ibu tenang saat masa menyusui,” demikian pula yang sering ditekankan, menunjukkan bahwa dukungan harus dimulai sejak awal dan berlanjut secara konsisten.
Selain itu, penting bagi keluarga untuk memahami bahwa suplemen atau “ASI booster” bukanlah solusi instan yang bekerja tanpa proses. Banyak ibu memiliki ekspektasi tinggi setelah mengonsumsi produk pelancar ASI, padahal esensinya, ASI akan keluar deras bila ibu tenang. “Produk bisa bekerja, tapi tetap lagi intinya hormon,” kata Dr. Tiwi. Keluarga harus berinvestasi dalam pemahaman yang lebih dalam mengenai fisiologi tubuh ibu hamil dan melahirkan, serta fisiologi bayinya. Pengetahuan ini akan membantu mereka memberikan dukungan yang tepat, realistis, dan berbasis empati, bukan hanya sekadar menawarkan solusi cepat yang mungkin tidak menyentuh akar permasalahan.
Pilar Pendukung: Nutrisi Komprehensif dan Ketenangan Holistik
Di samping ketenangan emosional, fondasi nutrisi yang kuat juga menjadi elemen tak terpisahkan dalam perjalanan menyusui yang sukses. Dokter kandungan, Dr. Gorga I V W Udjung, menjelaskan bahwa ibu hamil dan menyusui harus selalu mempersiapkan diri dengan nutrisi yang komprehensif. Ini mencakup asupan nutrisi mikro esensial, Omega-3, dan kebutuhan nutrisi lain yang memadai, diiringi dengan pola hidup sehat yang benar. Pemenuhan nutrisi yang tepat dipercaya sebagai penggerak utama bagi awal yang baik untuk pertumbuhan optimal buah hati. Nutrisi yang adekuat tidak hanya mendukung produksi ASI yang berkualitas, tetapi juga menjaga stamina dan kesehatan ibu, yang secara tidak langsung berkontribusi pada stabilitas emosionalnya.
Juliana Nur Wulan, Senior Brand Manager Blackmores Indonesia, turut menegaskan bahwa proses menyusui tidak hanya bergantung pada nutrisi semata, melainkan juga pada ketenangan. “Menyusui bukan hanya soal asupan nutrisi saja, tetapi juga tentang ketenangan. Stres dapat meningkatkan hormon kortisol yang berpotensi menghambat aliran ASI,” jelas Juliana. Pernyataan ini menggarisbawahi pendekatan holistik yang diperlukan, di mana kesehatan fisik dan mental ibu saling terkait erat. Ketenangan ibu, dukungan keluarga yang kuat, dan nutrisi yang optimal membentuk sinergi yang tak terpisahkan untuk memastikan kelancaran produksi ASI dan pengalaman menyusui yang nyaman serta memuaskan bagi ibu dan bayi.
Pada akhirnya, perjalanan menyusui adalah sebuah maraton, bukan sprint. Ia membutuhkan kesabaran, pemahaman, dan yang terpenting, lingkungan yang mendukung. Dengan memprioritaskan ketenangan ibu, memberikan dukungan emosional dan praktis yang tak tergoyahkan, serta memastikan asupan nutrisi yang komprehensif, kita dapat memberdayakan para ibu untuk melewati masa-masa awal menyusui dengan lebih percaya diri dan sukses, mewujudkan kebahagiaan tak terkira dalam memberikan yang terbaik bagi buah hati mereka.
Pilihan Editor: 1 dari 3 Orang Indonesia Tidak Nyaman Lihat Ibu Menyusui di Tempat Umum


















