Sebuah gambaran mengejutkan tentang kondisi kesehatan masyarakat Indonesia terkuak dari pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG), yang diluncurkan pada Februari 2025. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dalam pernyataannya di Jakarta International Expo (JIEXPO) Kemayoran pada Selasa, 27 Januari 2026, mengungkapkan temuan-temuan krusial yang menyoroti prevalensi masalah gigi dan hipertensi sebagai dua isu kesehatan dominan di berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, dewasa, hingga lansia. Program ambisius ini, yang digagas sebagai upaya preventif komprehensif oleh pemerintah di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, menargetkan skrining kesehatan bagi 136 juta warga pada tahun 2026, sekaligus memperkuat tindak lanjut bagi mereka yang terdeteksi memiliki kondisi kesehatan yang memerlukan perhatian lebih lanjut.
Temuan Mengejutkan dari CKG: Gigi dan Hipertensi Mengintai Semua Usia
Menkes Budi Gunadi Sadikin menyoroti bahwa pada kelompok anak-anak, masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan adalah gangguan gigi. Temuan ini, meskipun tidak dirinci jumlah spesifiknya oleh Menkes, sejalan dengan data tambahan yang menunjukkan bahwa masalah kesehatan gigi merupakan yang tertinggi di masyarakat secara keseluruhan, bahkan melebihi hipertensi. Data dari survei kesehatan masyarakat mengindikasikan bahwa sekitar 50 persen masyarakat usia 0–60 tahun dilaporkan mengalami gigi berlubang, 37 persen kehilangan gigi, dan 12,4 persen menderita masalah gusi. Fakta ini mendorong Kementerian Kesehatan untuk secara proaktif mendorong integrasi materi kesehatan gigi dalam kurikulum pendidikan, sebuah langkah strategis untuk menanamkan kesadaran dan praktik kebersihan gigi sejak dini guna mencegah masalah yang lebih serius di kemudian hari.
Yang lebih mengejutkan, dan diakui oleh Menkes sebagai sesuatu yang “agak kaget,” adalah prevalensi hipertensi yang menempati posisi kedua di kalangan anak-anak. Fenomena ini mengindikasikan pergeseran pola penyakit yang sebelumnya lebih sering dikaitkan dengan usia dewasa, kini mulai menyerang generasi muda. Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono turut mengonfirmasi temuan ini, menegaskan urgensi untuk memahami faktor-faktor pemicu hipertensi pada anak, yang mungkin berkaitan erat dengan perubahan gaya hidup modern, pola makan tinggi garam dan lemak, serta kurangnya aktivitas fisik yang memadai.
Melangkah ke kelompok usia dewasa, data CKG menunjukkan hipertensi dan obesitas sebagai masalah kesehatan yang paling sering terdeteksi. Kedua kondisi ini seringkali saling terkait dan menjadi faktor risiko utama bagi berbagai penyakit tidak menular (PTM) serius lainnya, seperti diabetes melitus dan penyakit jantung. Referensi tambahan memperkuat temuan ini, dengan menyebutkan bahwa lebih dari 8,2 juta orang yang telah mengikuti CKG sejak peluncurannya pada Februari 2025, secara konsisten menunjukkan hipertensi, diabetes melitus, dan gangguan kesehatan gigi sebagai tiga masalah utama yang terdeteksi. Prevalensi obesitas pada dewasa menjadi perhatian serius karena merupakan gerbang menuju berbagai komplikasi kesehatan kronis.
Bagi kelompok lansia, temuan CKG kembali menyoroti masalah gigi dan hipertensi sebagai kondisi paling dominan. Ini menunjukkan bahwa meskipun masalah gigi mungkin berbeda manifestasinya (misalnya, kehilangan gigi lebih banyak pada lansia dan kebutuhan akan gigi palsu), namun tetap menjadi beban kesehatan yang signifikan yang memengaruhi kualitas hidup dan nutrisi. Hipertensi pada lansia juga merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang dikenal luas, meningkatkan risiko stroke, penyakit kardiovaskular, dan demensia. Kehadiran obesitas pada dewasa dan hipertensi pada lansia menggarisbawahi perlunya intervensi kesehatan yang komprehensif, mulai dari edukasi gizi seimbang, promosi aktivitas fisik teratur, hingga manajemen stres dan skrining rutin.
CKG: Strategi Preventif Komprehensif dengan Target Ambisius dan Tindak Lanjut Terstruktur

















