Insiden keracunan massal yang diduga bersumber dari program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada Selasa, 27 Januari 2026, setelah ratusan siswa sekolah dasar di tiga kecamatan berbeda dilaporkan mengalami gejala medis serupa secara serentak. Peristiwa memprihatinkan ini menimpa setidaknya 273 warga, mayoritas adalah anak-anak usia sekolah di Kecamatan Cikalongkulon, Kadupandak, dan Sukanagara, yang mengeluhkan mual, pusing, hingga muntah-muntah hebat sesaat setelah menyantap menu makan siang yang disediakan. Pemerintah Kabupaten Cianjur kini bergerak cepat dengan mengerahkan seluruh sumber daya medis ke puskesmas dan rumah sakit setempat guna memberikan penanganan darurat, sembari melakukan investigasi mendalam terhadap sampel makanan dan muntahan pasien untuk mengidentifikasi penyebab pasti kontaminasi yang memicu krisis kesehatan publik ini di tengah upaya pemerintah pusat menggalakkan program nutrisi nasional.
Skala persebaran kasus yang mencakup tiga wilayah kecamatan sekaligus menandakan adanya potensi masalah sistemik dalam rantai distribusi atau pengolahan menu Makan Bergizi Gratis di wilayah tersebut. Berdasarkan data komprehensif yang dihimpun dari laporan para camat setempat, total warga yang terdampak mencapai angka 273 orang, sebuah jumlah yang memaksa fasilitas kesehatan tingkat pertama bekerja ekstra keras melampaui kapasitas normalnya. Gejala mulai muncul secara bertahap sejak siang hari hingga mencapai puncaknya pada Selasa malam, di mana puluhan ambulans terlihat hilir mudik mengevakuasi para siswa dari lingkungan sekolah dan rumah masing-masing menuju pusat layanan kesehatan terdekat. Konsentrasi korban terbesar ditemukan di wilayah Kecamatan Cikalongkulon, namun laporan serupa yang muncul hampir bersamaan dari Kadupandak dan Sukanagara menunjukkan bahwa insiden ini bukanlah kasus terisolasi di satu titik saja, melainkan sebuah kejadian luar biasa yang memerlukan penanganan lintas sektoral secara masif.
Distribusi Korban dan Penanganan Medis di Berbagai Wilayah
Di Kecamatan Cikalongkulon, yang menjadi episentrum dengan jumlah korban terbanyak, petugas medis mencatat sebanyak 202 orang harus mendapatkan penanganan intensif di Puskesmas Cijagang. Selain itu, 23 orang lainnya dilarikan ke Puskesmas Cikalongkulon untuk mendapatkan pertolongan pertama berupa pemberian cairan infus dan obat-obatan anti-mual. Mengingat keterbatasan fasilitas dan kondisi beberapa pasien yang terus memburuk, tim medis memutuskan untuk merujuk tujuh pasien ke rumah sakit besar guna mendapatkan perawatan spesialis. Lima orang di antaranya dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sayang Cianjur, sementara dua pasien lainnya dievakuasi ke RS Dr. Hafiz Cianjur. Langkah rujukan ini diambil untuk mengantisipasi terjadinya dehidrasi berat atau komplikasi lain yang mungkin timbul akibat zat kontaminan yang belum teridentifikasi dalam tubuh para siswa tersebut.
Sementara itu, di wilayah selatan Cianjur, tepatnya di Desa Wargasari, Kecamatan Kadupandak, suasana mencekam juga menyelimuti SDN Wargasari setelah 46 siswanya mengalami gejala keracunan yang identik. Dari total puluhan siswa tersebut, 12 orang terpaksa dirujuk ke RSUD Pagelaran karena menunjukkan gejala klinis yang lebih mengkhawatirkan dibandingkan rekan-rekan mereka yang tetap menjalani perawatan di Puskesmas Kadupandak. Tak berhenti di situ, laporan dari Kecamatan Sukanagara menambah daftar panjang korban dengan adanya dua siswa kelas 5 SDN Sukarame yang harus dilarikan ke Puskesmas Sukanagara setelah mengeluh mual dan pusing yang tak tertahankan. Sebaran geografis yang cukup jauh antar kecamatan ini menjadi teka-teki tersendiri bagi pihak berwenang, mengingat penyedia makanan (katering) atau bahan baku yang digunakan dalam program MBG ini perlu ditelusuri apakah berasal dari sumber yang sama atau dikelola secara desentralisasi.
Investigasi Laboratorium dan Evaluasi Menyeluruh Pemerintah Daerah
Bupati Cianjur, dr. Mohammad Wahyu Ferdian, yang turun langsung meninjau kondisi para korban di Puskesmas Cijagang pada Selasa malam, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam atas insiden yang mengancam keselamatan generasi muda ini. Wahyu menjelaskan bahwa tim medis telah mengambil sampel muntahan dari para pasien serta sisa-sisa makanan yang dikonsumsi untuk dilakukan uji laboratorium yang komprehensif. Proses identifikasi ini dianggap krusial karena adanya laporan variasi makanan yang dikonsumsi oleh para siswa; beberapa anak melaporkan hanya memakan satu jenis menu tertentu, sementara yang lain mengonsumsi kombinasi makanan yang berbeda. Sampel-sampel kritis ini telah dikirimkan ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi Jawa Barat untuk memastikan apakah terdapat kandungan bakteri berbahaya, zat kimia, atau toksin tertentu yang menjadi pemicu utama keracunan massal ini.
Pemerintah Kabupaten Cianjur menyatakan bahwa meskipun sebagian besar pasien kini kondisinya mulai berangsur membaik dan beberapa telah diperbolehkan pulang, pemantauan ketat tetap dilakukan terhadap mereka yang masih dirawat di puskesmas maupun rumah sakit. Bupati Wahyu menekankan pentingnya evaluasi total terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Program Pemberian Makanan Tambahan (PPG) di seluruh wilayah Cianjur. Evaluasi ini tidak hanya akan menyasar pada kualitas bahan pangan, tetapi juga pada standar operasional prosedur (SOP) pengolahan makanan, higienitas dapur penyedia, hingga durasi waktu distribusi dari dapur ke tangan siswa. Insiden ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah untuk memperketat pengawasan terhadap pihak ketiga atau vendor yang terlibat dalam penyediaan makanan bagi ribuan siswa di Cianjur.
Pembentukan Satgas Khusus dan Langkah Preventif Kedepan
Sebagai langkah konkret untuk mencegah terulangnya tragedi serupa, Bupati Mohammad Wahyu mengumumkan rencana pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan MBG di Kabupaten Cianjur. Satgas ini nantinya akan memiliki wewenang luas untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan pengawasan melekat mulai dari hulu hingga hilir, yakni dari proses pemilihan bahan baku di pasar, proses pengolahan di dapur produksi, hingga tahap pendistribusian ke sekolah-sekolah yang tersebar di pelosok Cianjur. Pembentukan Satgas ini diharapkan dapat menutup celah kelalaian manusia (human error) atau ketidakpatuhan terhadap standar kesehatan yang mungkin terjadi selama ini. Pemerintah daerah berkomitmen bahwa keamanan pangan harus menjadi prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar, terutama ketika menyangkut program nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi anak bangsa.
Ke depannya, Pemerintah Kabupaten Cianjur juga berencana untuk melibatkan ahli gizi dan tenaga sanitasi lingkungan dalam setiap tahapan program MBG guna memastikan bahwa setiap porsi makanan yang sampai ke meja siswa tidak hanya bergizi, tetapi juga aman dari kontaminasi biologis maupun kimiawi. Tragedi di Cikalongkulon, Kadupandak, dan Sukanagara ini menjadi pelajaran berharga mengenai pentingnya sistem audit berkala terhadap penyedia jasa boga. Sembari menunggu hasil resmi dari laboratorium provinsi keluar, seluruh aktivitas penyediaan makanan dari vendor yang diduga terkait dengan insiden ini telah dihentikan sementara sebagai bagian dari prosedur mitigasi risiko. Pemerintah daerah mengimbau para orang tua untuk tetap tenang namun tetap waspada, serta segera melaporkan jika menemukan indikasi penurunan kualitas makanan dalam program-program bantuan pemerintah di masa mendatang.

















