Sebuah terobosan ilmiah yang menjanjikan telah muncul dari kedalaman limbah pertanian, menawarkan harapan baru dalam ranah kesehatan reproduksi. Penemuan revolusioner ini berpusat pada potensi ekstrak kulit biji jambu mete (Anacardium occidentale L) sebagai alternatif kontrasepsi alami yang efektif dan minim efek samping. Penelitian mendalam yang dipimpin oleh Harlita, seorang peneliti biologi terkemuka dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Jawa Tengah, telah mengungkap bagaimana senyawa alami yang terkandung dalam limbah ini mampu memengaruhi sistem reproduksi, baik pada jantan maupun betina, tanpa menimbulkan komplikasi serius yang sering dikaitkan dengan kontrasepsi hormonal sintetis. Orasi ilmiah yang disampaikan oleh Harlita saat dikukuhkan sebagai Guru Besar di bidang Embriologi dan Perkembangan Hewan pada Selasa, 10 Februari 2026, di Gedung Auditorium UNS Solo, menggarisbawahi pentingnya inovasi ini dalam menjawab kebutuhan akan metode kontrasepsi yang lebih aman, terjangkau, dan berkelanjutan.
Selama beberapa dekade terakhir, penggunaan kontrasepsi hormonal sintetis telah menjadi tulang punggung perencanaan keluarga di seluruh dunia. Namun, metode ini tidak lepas dari berbagai keluhan dan risiko kesehatan, mulai dari gangguan hormonal yang dapat memicu perubahan suasana hati dan siklus menstruasi tidak teratur, kenaikan berat badan yang seringkali menjadi kekhawatiran estetika dan kesehatan, hingga risiko kesehatan jangka panjang seperti peningkatan risiko trombosis, stroke, atau bahkan jenis kanker tertentu pada individu yang rentan. Kondisi ini mendorong pencarian akan pendekatan yang berbeda, sebuah celah yang kini dijawab oleh riset Harlita. Pendekatan inovatifnya berfokus pada pemanfaatan Cashew Nut Shell Liquid (CNSL), atau yang dikenal juga sebagai minyak laka, yang secara melimpah terkandung dalam kulit biji mete. Ironisnya, sekitar 70 persen bagian biji mete yang berupa kulit ini selama ini justru dianggap sebagai limbah oleh industri pengolahan mete, dibuang begitu saja tanpa menyadari kandungan berharga di dalamnya. Padahal, di dalam CNSL tersebut terkandung senyawa aktif bernama asam anakardat, sebuah molekul yang secara struktural memiliki kemiripan dengan hormon estrogen, memberikan landasan ilmiah bagi potensinya dalam memengaruhi sistem reproduksi.
Mekanisme Antifertilitas yang Menjanjikan
Harlita menjelaskan secara rinci bagaimana ekstrak kulit biji mete mampu memengaruhi sistem reproduksi secara langsung, sebuah temuan krusial yang dipresentasikan dalam orasi ilmiahnya. Dalam serangkaian uji laboratorium yang cermat terhadap tikus betina, pemberian ekstrak CNSL secara konsisten terbukti menghambat perkembangan sel telur di ovarium. Proses vital pematangan folikel, struktur yang melindungi dan menutrisi sel telur, mengalami gangguan signifikan. Akibatnya, ovulasi, pelepasan sel telur matang dari ovarium yang esensial untuk pembuahan, tidak terjadi. Penelitian lain yang mendukung temuan ini juga menyoroti bagaimana ekstrak kulit biji mete dapat mengganggu siklus estrus pada tikus betina, yang merupakan indikator langsung dari gangguan pada fungsi reproduksi normal. Ini menunjukkan bahwa senyawa dalam kulit biji mete bekerja pada tahap awal pembentukan sel reproduksi, mencegahnya mencapai kematangan yang diperlukan untuk fertilisasi.
Tidak hanya pada tikus betina, efek antifertilitas ekstrak CNSL juga diamati pada tikus jantan. Pemberian ekstrak tersebut secara signifikan menyebabkan penurunan kadar hormon testosteron, hormon androgen utama yang memegang peran sentral dalam spermatogenesis atau produksi sperma, serta dalam pemeliharaan karakteristik seks sekunder jantan. Penurunan kadar testosteron ini berdampak langsung pada menurunnya kualitas sperma, baik dari sisi motilitas (gerakan sperma yang vital untuk mencapai sel telur) maupun morfologi (bentuk sperma yang normal). Sperma yang tidak bergerak aktif atau memiliki bentuk abnormal cenderung tidak mampu membuahi sel telur secara efektif. Temuan ini secara tegas menunjukkan bahwa senyawa aktif dalam kulit biji mete memiliki mekanisme kerja yang komprehensif, mampu mencegah terbentuknya sel reproduksi yang sehat dan fungsional, baik pada sistem reproduksi jantan maupun betina. Dengan mekanisme ganda ini, Harlita menegaskan bahwa CNSL memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kontrasepsi berbasis bahan alam yang tidak hanya efektif, tetapi juga lebih ramah bagi tubuh pengguna dan lingkungan, menghindari efek samping yang merugikan.
Multiguna Asam Anakardat: Lebih dari Sekadar Kontrasepsi
Manfaat asam anakardat, senyawa kunci dalam CNSL, ternyata tidak berhenti di bidang kesehatan reproduksi. Riset ekstensif yang dilakukan oleh Harlita dan timnya juga mencatat potensi luar biasa senyawa ini dalam berbagai aplikasi lain yang berdampak positif bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Salah satu potensi signifikan adalah sebagai pestisida alami yang efektif untuk membasmi hama keong mas, hama pertanian yang merugikan dan seringkali sulit dikendalikan. Penelitian telah menunjukkan bahwa ekstrak kulit biji mete dengan konsentrasi tertentu, seperti 10% dan 20%, memiliki pengaruh nyata dalam memberikan daya tahan terhadap hama, bahkan setara dengan konsentrasi yang lebih tinggi, menawarkan solusi ekologis untuk masalah pertanian. Selain itu, asam anakardat juga menunjukkan potensi sebagai larvasida yang ampuh untuk nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD) dan berbagai penyakit tropis lainnya yang masih menjadi ancaman serius di banyak wilayah. Kemampuan ini membuka jalan bagi pengembangan produk pengendali vektor penyakit yang lebih aman bagi manusia dan ekosistem.
Lebih jauh lagi, dalam bidang biomedis, asam anakardat diketahui memiliki potensi yang menjanjikan dalam riset kanker. Studi awal menunjukkan kemampuannya untuk menginduksi apoptosis (kematian sel terprogram) pada sel kanker tertentu dan menghambat proliferasi sel tumor. Selain itu, senyawa ini juga terlibat dalam regulasi genetik, khususnya dalam mekanisme epigenetik. Epigenetik merujuk pada perubahan ekspresi gen tanpa mengubah sekuens DNA itu sendiri, yang dapat memengaruhi perkembangan penyakit, termasuk kanker. Potensi asam anakardat dalam memodulasi jalur epigenetik membuka peluang baru dalam pengembangan terapi target untuk berbagai kondisi medis. Ini menunjukkan spektrum aplikasi yang luas dan mendalam dari senyawa yang awalnya dianggap sebagai limbah ini, menjadikannya aset berharga dalam berbagai disiplin ilmu.
Dalam paparannya, Harlita dengan lugas menyatakan bahwa penelitian ekstrak kulit biji mete ini merupakan contoh nyata bagaimana limbah hayati yang selama ini terabaikan dapat diubah menjadi produk bernilai tinggi dengan dampak multifaset. Selain berkontribusi pada kesehatan masyarakat melalui pengembangan kontrasepsi alami dan solusi biomedis, pemanfaatan kulit biji mete secara berkelanjutan juga sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular. Konsep ini menekankan pada pengurangan limbah, penggunaan kembali, dan daur ulang sumber daya, menciptakan sistem yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Lebih dari itu, inisiatif ini berpotensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan petani mete di daerah penghasil utama seperti Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur, dengan menciptakan nilai tambah dari produk sampingan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan. “Ini bukan hanya soal sains semata,” ujar Harlita, “tapi juga tentang kemandirian bangsa dalam memanfaatkan kekayaan alamnya sendiri untuk kesejahteraan dan kemajuan bersama.” Penelitian ini menjadi mercusuar harapan, menunjukkan bahwa solusi inovatif seringkali tersembunyi di tempat-tempat yang paling tidak terduga, menunggu untuk digali dan dikembangkan demi masa depan yang lebih baik.

















