Memasuki fase awal tahun 2026, musim penghujan diprediksi akan menyelimuti Kota Depok, sebuah periode yang secara tradisional membawa serta tantangan kesehatan signifikan, terutama ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Dalam menghadapi fenomena alam yang berulang ini, otoritas kesehatan setempat secara proaktif menyerukan peningkatan kewaspadaan di kalangan masyarakat. Imbauan ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah respons strategis terhadap kondisi lingkungan yang sangat kondusif bagi perkembangbiakan vektor penyakit, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Kelembapan udara yang meningkat drastis bersamaan dengan curah hujan yang intens menciptakan habitat ideal bagi nyamuk-nyamuk tersebut untuk bereproduksi, terutama jika aspek kebersihan lingkungan tidak mendapatkan perhatian serius dan berkelanjutan dari setiap individu di kota ini.
Kewaspadaan Dini dan Peran Krusial Masyarakat dalam Pencegahan DBD
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, Devi Maryori, menekankan secara gamblang mengenai esensi peran aktif masyarakat sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan penyebaran Demam Berdarah Dengue. Beliau menegaskan bahwa kesadaran dan partisipasi kolektif dalam menjaga kebersihan lingkungan merupakan fondasi utama yang tidak dapat ditawar dalam strategi penanggulangan penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk ini. Devi Maryori secara spesifik menyoroti fenomena genangan air, sekecil apapun, yang sering kali terabaikan oleh masyarakat. Genangan air ini, menurutnya, adalah surga bagi jentik-jentik nyamuk Aedes aegypti untuk tumbuh dan berkembang biak, yang pada akhirnya akan menjadi sumber penularan virus dengue.
“Kita bisa mulai dari kegiatan sederhana, seperti menguras air yang menggenang untuk mencegah terbentuknya sarang nyamuk,” ujar Devi, menggarisbawahi bahwa langkah-langkah pencegahan tidak harus rumit atau memakan biaya besar, melainkan dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil namun konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Tindakan menguras tempat-tempat penampungan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, seperti bak mandi, ember, atau wadah lainnya, menjadi prioritas utama. Kebiasaan ini, jika dilakukan secara rutin, akan memutus siklus hidup nyamuk sebelum mencapai tahap dewasa yang mampu menularkan penyakit.
Strategi Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan Pendekatan 3M Plus
Lebih lanjut, Devi Maryori menguraikan bahwa upaya pencegahan dan pengendalian DBD memerlukan pendekatan yang sistematis dan berkelanjutan. Pendekatan yang direkomendasikan adalah melalui implementasi program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang terintegrasi dengan strategi “3M Plus”. Konsep 3M ini merupakan pilar utama dalam memutus rantai penularan DBD, yang meliputi tiga langkah krusial yang harus diintegrasikan dalam rutinitas kebersihan masyarakat. Pertama, adalah kegiatan menguras, yang merujuk pada keharusan menguras bak mandi, tempayan, ember, dan wadah penampungan air lainnya setidaknya dua kali dalam seminggu. Frekuensi ini dipilih karena merupakan waktu kritis bagi perkembangan jentik menjadi nyamuk dewasa. Kedua, menutup rapat, yang berarti memastikan semua tempat penampungan air tertutup rapat agar nyamuk tidak dapat masuk untuk bertelur. Ini mencakup tangki air, gentong, dan wadah lainnya yang tidak digunakan setiap hari. Ketiga, adalah mendaur ulang atau memusnahkan barang bekas yang berpotensi menampung air hujan atau genangan lainnya. Barang-barang seperti kaleng bekas, botol plastik, ban bekas, atau wadah plastik yang tidak terpakai lagi harus dikubur dalam tanah, dibakar, atau didaur ulang agar tidak menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.
Selain ketiga langkah inti tersebut, Devi Maryori juga menekankan pentingnya elemen “Plus” dalam strategi PSN. Elemen “Plus” ini mencakup berbagai tindakan tambahan yang bersifat preventif dan kuratif. Salah satu contoh konkret dari “Plus” ini adalah anjuran untuk menaburkan bubuk abate (larvasida) pada tempat penampungan air yang sulit dijangkau untuk dikuras secara rutin, seperti pada vas bunga atau tempat air minum hewan peliharaan. Bubuk abate bekerja dengan membunuh jentik nyamuk sebelum mereka sempat berkembang menjadi nyamuk dewasa. “Harus sering menguras penampungan air agar jentik nyamuk tidak tumbuh,” tandas Devi, menegaskan kembali pentingnya konsistensi dalam pelaksanaan tindakan pencegahan. Pendekatan 3M Plus ini dirancang untuk memberikan perlindungan berlapis, memastikan bahwa setiap potensi sarang nyamuk dapat diatasi secara efektif.
Deteksi Dini dan Pentingnya Penanganan Medis Segera
Dinas Kesehatan Kota Depok tidak hanya berhenti pada imbauan pencegahan, tetapi juga memberikan panduan mengenai langkah yang harus diambil apabila masyarakat terindikasi terinfeksi DBD. Mereka mengimbau seluruh warga untuk senantiasa waspada terhadap gejala-gejala yang mungkin muncul dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mendapati gejala tersebut. Gejala DBD yang perlu diwaspadai meliputi demam tinggi mendadak yang berlangsung selama beberapa hari, disertai dengan sakit kepala yang intens, nyeri pada otot dan sendi yang signifikan, serta kemunculan bintik-bintik merah atau ruam pada kulit. Deteksi dini dan penanganan medis yang cepat sangat krusial untuk mencegah komplikasi yang lebih serius dan berpotensi mengancam jiwa. Dengan kesadaran akan gejala dan akses yang mudah ke layanan kesehatan, diharapkan angka kesakitan dan kematian akibat DBD dapat ditekan.
Dengan mengintegrasikan upaya pencegahan yang dipelopori oleh masyarakat dan didukung oleh program kesehatan pemerintah, Kota Depok berupaya keras untuk meminimalkan dampak musim hujan terhadap kesehatan warganya. Keterlibatan aktif dari seluruh lapisan masyarakat, mulai dari individu, keluarga, hingga komunitas, dalam menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan praktik 3M Plus secara konsisten, diharapkan akan menjadi kunci keberhasilan dalam menekan angka kasus Demam Berdarah Dengue selama periode musim hujan awal tahun 2026. Kolaborasi ini menjadi fondasi penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan aman bagi seluruh penduduk Depok.


















