Dunia hiburan dan musik Indonesia kembali berduka atas kepergian salah satu sosok yang dikenal penuh semangat dan inspirasi, Lucky Widja. Mantan vokalis grup band Element tersebut menghembuskan napas terakhirnya pada Minggu malam, dalam usia 49 tahun yang terbilang masih cukup muda. Kepergiannya yang mendadak ini mengejutkan banyak pihak, terutama mereka yang mengenalnya secara pribadi maupun melalui karya-karyanya. Penyebab utama kepergian Lucky Widja adalah komplikasi serius akibat penyakit tuberkulosis (TB) ginjal, sebuah kondisi medis yang seringkali kurang mendapat perhatian publik dibandingkan TB paru, namun memiliki potensi fatal yang sama. Berita duka ini pertama kali dikonfirmasi oleh kerabat dekat dan rekan-rekannya, yang merasakan kehilangan mendalam atas sosok yang selalu memancarkan energi positif.
Salah satu testimoni yang paling menonjol datang dari Arya, seorang individu yang dekat dengan almarhum. Arya menggambarkan Lucky Widja sebagai pribadi yang luar biasa, “Ternyata Lucky ini tipe orang yang memang selalu bersemangat, dia selalu punya mimpi yang gimana caranya mimpi itu bisa terwujud.” Pernyataan ini bukan sekadar pujian biasa, melainkan cerminan nyata dari karakter Lucky yang tak pernah padam. Semangatnya yang membara dan tekadnya yang kuat untuk mewujudkan setiap impian, tanpa ragu, menjadi lentera bagi orang-orang di sekitarnya. Ini adalah kualitas langka yang mampu menular, mendorong individu lain untuk tidak menyerah dalam menghadapi tantangan hidup. “Jadi itu yang akhirnya selalu mengingatkan kita di sekitarnya itu untuk bisa terus survive, fighting. Salah satunya ya dari Lucky,” tambah Arya, menyoroti bagaimana Lucky Widja secara konsisten menjadi sumber motivasi, pengingat bahwa perjuangan dan semangat pantang menyerah adalah kunci untuk bertahan dan bangkit. Dalam industri yang penuh gejolak seperti musik, memiliki sosok dengan mentalitas seperti Lucky adalah aset berharga yang tak hanya menginspirasi secara artistik, tetapi juga secara personal, membentuk ketahanan mental di antara rekan-rekannya.
Mengurai Komplikasi Tuberkulosis Ginjal: Penyakit yang Merenggut Nyawa
Kabar mengenai penyebab kematian Lucky Widja, yakni komplikasi tuberkulosis (TB) ginjal, membawa fokus pada salah satu bentuk TB ekstrapulmoner yang seringkali luput dari perhatian. Tuberkulosis, yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, umumnya dikenal menyerang paru-paru. Namun, bakteri ini juga dapat menyebar ke organ lain di luar paru-paru, termasuk ginjal, tulang, otak, kelenjar getah bening, dan organ lainnya. TB ginjal, atau tuberkulosis genitourinari, adalah kondisi serius di mana bakteri TB menginfeksi salah satu atau kedua ginjal. Infeksi ini biasanya terjadi ketika bakteri TB dari infeksi primer di paru-paru (yang mungkin tidak terdiagnosis atau sudah sembuh) menyebar melalui aliran darah ke ginjal.
Perkembangan TB ginjal seringkali lambat dan asimtomatik pada tahap awal, menjadikannya sulit didiagnosis. Gejala baru muncul setelah penyakit berkembang cukup parah, ketika kerusakan pada ginjal sudah signifikan. Gejala yang mungkin timbul antara lain nyeri punggung bawah, sering buang air kecil, adanya darah dalam urine (hematuria), nyeri saat buang air kecil, demam, penurunan berat badan, dan kelelahan. Namun, gejala-gejala ini tidak spesifik dan seringkali disalahartikan sebagai infeksi saluran kemih biasa, menunda diagnosis dan pengobatan yang tepat. Komplikasi dari TB ginjal bisa sangat parah, termasuk kerusakan permanen pada ginjal yang dapat menyebabkan gagal ginjal kronis. Jika tidak diobati, infeksi dapat menyebar ke kandung kemih, ureter, dan organ reproduksi, menyebabkan penyempitan saluran kemih (striktur), hidronefrosis (pembengkakan ginjal akibat penumpukan urine), hingga akhirnya berujung pada kerusakan organ multipel dan kematian. Dalam kasus Lucky Widja, “komplikasi penyakit” mengindikasikan bahwa infeksi TB ginjalnya telah mencapai stadium lanjut, memicu serangkaian masalah kesehatan yang pada akhirnya tidak dapat diatasi oleh tubuhnya, meskipun dengan penanganan medis yang mungkin telah diberikan.
Jejak Inspirasi dan Perjalanan Abadi di TPU Jeruk Purut
Kepergian Lucky Widja di usia 49 tahun adalah pengingat pahit akan kerapuhan hidup, terutama ketika dihadapkan pada penyakit serius seperti TB ginjal. Sosok yang selalu bersemangat dan punya mimpi besar kini telah berpulang, meninggalkan warisan inspirasi yang tak lekang oleh waktu. Semangatnya untuk “survive” dan “fighting” tidak hanya berlaku dalam konteks kehidupan profesionalnya sebagai seorang seniman, tetapi juga dalam perjuangan pribadinya melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Kualitas ini adalah inti dari apa yang membuat Lucky begitu berkesan di mata orang-orang terdekatnya, dan ini pula yang akan terus dikenang sebagai bagian integral dari identitasnya.
Almarhum Lucky Widja kini telah dimakamkan di tempat peristirahatan terakhirnya, TPU Jeruk Purut, Jakarta. Pemakaman ini menjadi saksi bisu dari duka mendalam keluarga, kerabat, dan para penggemar yang turut mengantarkannya. TPU Jeruk Purut sendiri adalah salah satu kompleks pemakaman umum terbesar dan paling dikenal di Jakarta, seringkali menjadi pilihan bagi banyak tokoh publik dan masyarakat ibu kota. Di tengah hamparan nisan yang sunyi, jasad Lucky Widja kini bersemayam, namun semangat dan warisan inspiratifnya akan terus hidup dalam kenangan mereka yang mengenalnya. Kepergiannya menjadi pengingat akan pentingnya kesadaran terhadap penyakit seperti tuberkulosis, serta betapa berharganya setiap momen kehidupan yang diisi dengan semangat dan harapan. Lucky Widja mungkin telah tiada secara fisik, tetapi gaung dari semangatnya yang tak pernah padam akan terus bergema, menjadi pengingat abadi bagi kita semua untuk terus berjuang dan mewujudkan mimpi.


















