Tragedi menyelimuti dunia hiburan Tanah Air dengan kepergian mendadak selebgram Lula Lahfah. Ditemukan tak bernyawa di apartemen pribadinya di kawasan Dharmawangsa, Jakarta Selatan, pada Jumat (23/1) malam, kematian Lula menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan para penggemarnya. Berbagai spekulasi pun muncul, termasuk kesaksian mengejutkan dari asisten rumah tangga (ART) yang mendengarkan suara erangan kesakitan dari kamar Lula beberapa jam sebelum ia ditemukan meninggal. Ayahanda Lula, Muhammad Feroz, akhirnya angkat bicara mengenai berbagai kabar yang beredar, termasuk soal kesaksian ART dan proses penyelidikan yang dilakukan kepolisian. Ia mengungkapkan bahwa dirinya belum sepenuhnya mengetahui kronologi detail kematian sang putri, namun membenarkan adanya temuan obat-obatan dan surat rawat jalan yang mengindikasikan Lula memiliki riwayat penyakit serius. Kepergian Lula yang begitu cepat meninggalkan pertanyaan besar mengenai penyebab pasti di balik peristiwa pilu ini.
Muhammad Feroz, ayahanda mendiang Lula Lahfah, secara terbuka menanggapi informasi mengenai asisten rumah tangga (ART) yang mendengarkan suara erangan kesakitan dari dalam kamar putrinya beberapa jam sebelum ditemukan meninggal dunia. Pernyataan ini muncul di tengah simpang siur kabar dan spekulasi yang beredar pasca kepergian Lula yang mendadak. Feroz menegaskan bahwa ia pribadi tidak memiliki pengetahuan langsung mengenai detail kejadian tersebut, termasuk suara erangan yang disebutkan oleh ART. Menurut keterangannya, informasi mengenai hal-hal yang terjadi di sekitar Lula, terutama yang berkaitan dengan kondisi kesehatannya sesaat sebelum meninggal, lebih banyak diketahui oleh orang-orang yang berada di dekatnya, termasuk para asisten yang bertugas.
“Enggak, beneran aku enggak tahu. Itu kan mungkin yang membantu (ART) dia itu ya (setelah menemukan jenazah),” ujar Feroz saat ditemui di kawasan Cakung, Jakarta Timur, belum lama ini. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Feroz, sebagai orang tua, tidak berada di lokasi kejadian pada saat-saat kritis tersebut dan bergantung pada informasi yang disampaikan oleh pihak lain, terutama ART yang pertama kali menemukan jenazah Lula.
Ayah Lula Lahfah Buka Suara Mengenai Penyelidikan dan Riwayat Penyakit Sang Anak
Lebih lanjut, Feroz menjelaskan bahwa penemuan jenazah Lula Lahfah di apartemen pribadinya di kawasan Dharmawangsa, Jakarta Selatan, dilakukan oleh ART dengan bantuan dari pihak keamanan apartemen. Momen penemuan ini digambarkan sebagai situasi yang mengejutkan bagi semua pihak yang terlibat. “Cuma pembantu sama manajemen apartemen aja yang buka pintu. Asisten dia juga ada pas di situ dengar teriakan pembantu itu. Jadi kaget semua lah,” tutur Feroz, menggambarkan betapa dramatisnya penemuan tersebut. Teriakan ART yang terdengar tentu saja menimbulkan kepanikan dan kebingungan di antara mereka yang berada di lokasi.
Meskipun demikian, Feroz mengaku bahwa baik dirinya maupun sang istri belum secara aktif memantau perkembangan proses penyelidikan yang sedang dilakukan oleh pihak kepolisian terkait penyebab pasti meninggalnya Lula. Fokus utama mereka saat ini adalah pada informasi awal mengenai kondisi kesehatan sang anak. “Belum, cuma yang pertama aja itu (soal sakit),” ucap Feroz, merujuk pada dugaan awal bahwa Lula meninggal karena sakit. Informasi mengenai riwayat penyakit ini menjadi titik awal bagi pihak kepolisian dalam melakukan pendalaman lebih lanjut.
Di sisi lain, Feroz mengungkapkan bahwa Lula Lahfah dikenal sebagai sosok yang sangat pekerja keras. Meskipun ia tidak mengetahui secara spesifik jenis pekerjaan apa saja yang digeluti oleh putrinya, Feroz selalu memberikan dukungan penuh. “Memang benar dia pekerja keras. Dia jalan begitu aja tanpa kita suruh. Kita sendiri juga enggak tahu apa yang dia kerjain selama ini. Dia pokoknya bilang ada job, ada job, ada job,” ungkap Feroz dengan nada bangga namun juga sedikit haru. Dedikasi Lula dalam bekerja, meskipun tidak selalu terinformasi detail oleh orang tuanya, menunjukkan semangat dan etos kerja yang tinggi. Feroz juga bersyukur atas dukungan yang diberikan oleh teman-teman Lula. “Alhamdulillah banyak temannya yang baguslah, yang dukung dia juga, sampai dia bisa seperti saat ini,” pungkasnya, menunjukkan apresiasi terhadap lingkungan pertemanan putrinya yang positif.
Temuan awal dari pihak kepolisian memperkuat dugaan bahwa Lula Lahfah meninggal dunia akibat penyakit yang dideritanya. Jenazah Lula ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di kamarnya pada Jumat (23/1) malam. Berdasarkan hasil identifikasi awal, polisi menemukan sejumlah obat-obatan dan surat rawat jalan di apartemen Lula. Bukti-bukti ini menjadi petunjuk penting yang mengarahkan penyelidikan kepada kemungkinan adanya masalah kesehatan yang serius. Tidak adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh Lula semakin memperkuat dugaan ini.
Jenazah Lula Lahfah kemudian dimakamkan pada Sabtu (24/1) di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Rawa Terate, Cakung, Jakarta Timur. Prosesi pemakaman tersebut dihadiri oleh keluarga dekat dan kerabat terkasih dari mendiang Lula, yang turut mengantarkan jenazah ke peristirahatan terakhirnya. Berdasarkan pendalaman sementara yang dilakukan oleh pihak kepolisian, ditemukan adanya riwayat penyakit yang cukup serius pada diri Lula. Hal ini menjadi fokus utama dalam penyelidikan lanjutan untuk memastikan penyebab pasti di balik kepergiannya yang mendadak.
Dalam upaya mengumpulkan informasi selengkap mungkin, pihak kepolisian juga telah meminta keterangan dari beberapa pihak terkait, termasuk kekasih Lula, Reza Arap. Informasi ini disampaikan langsung oleh Wakasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, Kompol Dwi Manggala Yudha. Reza Arap diperiksa selama lebih dari empat jam di Polres Metro Jakarta Selatan dan dicecar dengan sekitar 30 pertanyaan yang berkaitan dengan meninggalnya Lula. Meskipun pemeriksaan terhadap Reza Arap telah dilakukan, Kompol Dwi Manggala Yudha belum memberikan keterangan lebih lanjut mengenai detail isi pemeriksaan tersebut, namun hal ini menunjukkan keseriusan polisi dalam mengungkap misteri di balik kematian Lula Lahfah.


















