Dunia konten kreator Indonesia kembali diguncang oleh pengumuman mengejutkan dari seorang figur publik yang telah lama menghiasi layar kaca digital. Bobon Santoso, YouTuber yang dikenal luas dengan kreasi kuliner berskala masif dan aksi memasak yang unik, mengumumkan niatnya untuk pensiun dari platform YouTube. Keputusan ini tidak hanya menandai akhir dari sebuah era bagi para penggemarnya, tetapi juga membuka spekulasi mengenai masa depan industri konten digital di Tanah Air, terutama mengingat tren yang mulai bergeser. Bobon Santoso secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk menjual akun YouTube miliknya yang telah mengumpulkan jutaan pelanggan dengan nilai fantastis, sebuah langkah yang seolah mengikuti jejak food vlogger ternama lainnya, Farida Nurhan, yang terlebih dahulu mengambil keputusan serupa.
Pengumuman ini, yang pertama kali diungkapkan melalui akun Instagram pribadinya, @bobonsantoso, pada hari Rabu (4/2/2026), sontak menjadi perbincangan hangat di kalangan warganet. Dalam unggahannya, Bobon Santoso menyertakan tangkapan layar yang menampilkan jumlah pelanggan kanalnya yang hampir mencapai angka 18 juta, sebuah pencapaian luar biasa yang diraihnya selama bertahun-tahun berkarya. Bersamaan dengan itu, terselip pula tangkapan layar komentar dari seorang penggemar yang mendoakannya untuk terus berkarya di YouTube, menunjukkan betapa besar apresiasi publik terhadap kontribusinya. Namun, Bobon Santoso justru membalas doa tersebut dengan nada yang lebih pragmatis, mengungkapkan keinginannya untuk segera menyelesaikan babak YouTube-nya dan melanjutkan ke fase kehidupan yang baru.
Tren Pensiun dari YouTube dan Fenomena Penjualan Akun
Langkah Bobon Santoso untuk pensiun dari YouTube dan menjual akunnya dengan nilai Rp 20 miliar bukanlah kejadian yang berdiri sendiri. Fenomena ini semakin mempertegas tren yang mulai terlihat di kalangan kreator konten, khususnya di segmen kuliner. Food vlogger Farida Nurhan, yang lebih dulu menghebohkan publik dengan pengumuman serupa, menjadi salah satu pionir dalam pergeseran ini. Farida Nurhan, yang akrab disapa Omay, memutuskan untuk meninggalkan platform yang telah membesarkan namanya setelah hampir satu dekade berkarya. Keputusan ini, sebagaimana diungkapkannya, bukanlah hal yang mudah dan telah melalui pertimbangan matang selama lebih dari satu tahun. Ia mengaku berat untuk meninggalkan akun yang telah memberikannya banyak pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang terkadang di luar nalar, namun juga merasa bahwa YouTube telah membantunya menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dekat dengan Tuhan.
Alasan di balik keputusan pensiun dari YouTube ini ternyata cukup mendalam dan mencakup berbagai faktor. Farida Nurhan secara terbuka mengungkapkan dalam sebuah podcast bahwa salah satu pemicu utamanya adalah adanya penurunan pendapatan yang signifikan. Selain itu, ia juga menyoroti tingginya biaya produksi konten yang dinilai tidak lagi sebanding dengan hasil yang didapatkan. “Enggak cukup untuk bayar kru,” ujarnya, mengindikasikan adanya ketidakseimbangan finansial yang krusial. Ia juga mengamati pergeseran preferensi penonton yang kini lebih menyukai konten video pendek yang lebih ringkas dan tidak rumit. Meskipun demikian, Farida Nurhan menegaskan bahwa ia tidak sepenuhnya meninggalkan dunia konten kreator. Ia telah menemukan sumber penghasilan baru dan platform alternatif yang lebih menjanjikan, seperti Facebook dan TikTok, yang dinilainya lebih sesuai dengan tren konsumsi konten masa kini. Keputusan menjual akun YouTube, yang ia tawarkan seharga Rp 10 miliar, menjadi langkah strategis untuk memfokuskan energinya pada platform-platform baru tersebut, sembari tetap memberikan apresiasi kepada para penggemarnya yang setia.
Bobon Santoso: Dari Chef Kapal Pesiar ke Raja Konten Kuliner Ekstrem
Bobon Santoso, yang nama aslinya adalah Bobon Santoso, lahir di Pontianak dan memiliki latar belakang yang cukup beragam sebelum terjun ke dunia YouTube. Ia pernah menempuh pendidikan dan bekerja sebagai seorang chef di kapal pesiar. Pengalaman ini kemungkinan besar membentuk dasar keahliannya dalam bidang kuliner dan memberikan perspektif unik yang kemudian ia bawa ke dalam konten-kontennya di YouTube. Perjalanan kariernya di YouTube dimulai pada tahun 2015, dan sejak awal, ia telah menunjukkan ketertarikannya pada format konten yang berbeda dan menarik perhatian. Awalnya, Bobon lebih banyak membuat konten challenge bersama adiknya, yang ia kemas dengan sentuhan ekstrem seperti penggunaan bahan-bahan tak lazim seperti cabai dalam jumlah besar atau pasta gigi, demi menciptakan keunikan dan daya tarik.
Namun, pada tahun 2021, Bobon Santoso memutuskan untuk melakukan sebuah transisi signifikan dalam jenis konten yang ia hasilkan. Ia beralih fokus pada konten memasak, namun dengan ciri khasnya yang tidak pernah hilang: sentuhan ekstrem dan skala yang luar biasa. Konsep “masak porsi jumbo” atau “masak raksasa” menjadi identitasnya. Ia kerap menampilkan video-video memasak makanan dalam ukuran yang sangat besar, seperti pizza raksasa, telur seribu butir, atau bahkan “kuda geprek” (yang tentu saja bukan kuda asli, melainkan kreasi kuliner dengan bentuk menyerupai kuda). Gaya ini terbukti sangat efektif dalam membedakannya dari kreator kuliner lainnya dan berhasil menarik perhatian jutaan penonton. Keunikan dan keberaniannya dalam mengeksekusi ide-ide masakan berskala masif inilah yang membuatnya semakin dikenal dan dicintai oleh masyarakat Indonesia.
Program “Kuali Merah Putih”: Memasak untuk Negeri, Mempererat Kebersamaan
Lebih dari sekadar menyajikan hiburan kuliner berskala besar, Bobon Santoso juga menunjukkan kepedulian sosialnya melalui program YouTube yang ia beri nama “Kuali Merah Putih”. Melalui program ini, Bobon tidak hanya memamerkan keahlian memasaknya dalam skala raksasa, tetapi juga menggunakannya sebagai sarana untuk berbagi kebahagiaan dan nutrisi kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama mereka yang tinggal di daerah terpencil dan perbatasan Indonesia. Aksi kemanusiaan ini membawanya menjelajahi berbagai wilayah terluar dan terpencil di tanah air, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Timor Leste, Papua, dan daerah-daerah perbatasan lainnya.
Dalam setiap episode “Kuali Merah Putih”, Bobon Santoso akan memasak makanan dalam jumlah sangat besar, lalu membagikannya kepada warga setempat. Program ini tidak hanya menampilkan aksi memasak yang mengagumkan, tetapi juga memberikan gambaran mendalam mengenai kondisi kehidupan dan aktivitas sehari-hari masyarakat di pelosok Indonesia. Menariknya, dalam menjalankan program mulia ini, Bobon Santoso seringkali mendapatkan dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang bertugas menjaga perbatasan, Kepolisian, Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar), tokoh agama seperti ustaz, dan berbagai instansi serta komunitas lainnya. Sinergi ini menunjukkan bahwa “Kuali Merah Putih” bukan hanya proyek pribadi Bobon, melainkan sebuah gerakan kolaboratif yang bertujuan untuk membawa kebaikan dan mempererat rasa kebersamaan di seluruh penjuru nusantara. Melalui kontennya, Bobon Santoso berhasil menggabungkan hiburan, keahlian kuliner, dan aksi sosial menjadi sebuah paket yang inspiratif dan menyentuh hati.

















