Dunia hiburan digital Indonesia baru-baru ini diguncang oleh gelombang kontroversi yang melibatkan dua figur publik dengan latar belakang berbeda, yakni remaja viral Fajar Sadboy dan komika absurd Indra Frimawan. Perdebatan publik memuncak setelah sebuah cuplikan video yang memperlihatkan aksi Indra Frimawan diduga meludahi Fajar Sadboy di tengah sesi bincang-bincang podcast menjadi viral di berbagai platform media sosial, memicu beragam spekulasi mengenai etika dalam berkomedi. Menanggapi kegaduhan yang kian meluas, Fajar Sadboy akhirnya memberikan klarifikasi komprehensif melalui sebuah siaran langsung di media sosial TikTok pada pertengahan Februari 2026. Dalam sesi tersebut, Fajar yang didampingi oleh aktris kenamaan Amanda Manopo, menjelaskan bahwa insiden yang terlihat provokatif tersebut sebenarnya hanyalah bagian dari dinamika bercanda dan gimik kreatif yang telah disepakati, sekaligus menunjukkan kedewasaan emosional Fajar dalam menghadapi tekanan di industri hiburan.
Dinamika Komedi di Balik Layar: Kronologi Insiden di Podcast Close The Door
Ketegangan yang menjadi sorotan publik ini bermula dari kehadiran Fajar Sadboy sebagai tamu dalam program podcast populer “Close The Door” yang dipandu oleh Deddy Corbuzier, di mana Indra Frimawan turut hadir sebagai salah satu pengisi acara. Pada menit ke-45 dalam tayangan tersebut, atmosfer percakapan yang awalnya cair mulai berubah menjadi intens ketika mereka membahas mengenai preferensi Fajar terhadap para pembawa acara podcast yang pernah ia kunjungi. Fajar, dengan gaya bahasanya yang khas dan selalu berusaha menjaga perasaan orang lain, menyatakan bahwa semua pembawa acara adalah favoritnya tanpa terkecuali. Pernyataan diplomatis ini rupanya memicu respons kritis dari Indra Frimawan yang menilai jawaban tersebut tidak memiliki ketegasan atau objektivitas.
Indra Frimawan kemudian melontarkan analogi tajam dengan membandingkan situasi tersebut dengan sebuah hidangan martabak. Menurut Indra, jika semua topping dianggap spesial, maka tidak akan ada lagi nilai keistimewaan dari martabak tersebut. Namun, Fajar Sadboy tetap teguh pada pendiriannya dan merasa bahwa perumpamaan martabak yang digunakan Indra tidak relevan dengan cara ia menghargai manusia. Perbedaan frekuensi komunikasi dan logika antara gaya bicara Fajar yang melankolis dengan gaya komedi Indra yang absurd serta “deadpan” memuncak pada momen di mana Indra terlihat melakukan gerakan meludah ke arah Fajar. Meskipun terlihat kasar di mata penonton, aksi tersebut diklaim sebagai bentuk ekspresi komedi atas rasa “frustrasi” seorang komika terhadap lawan bicara yang dianggap tidak menyambung (disconnect) dalam sebuah sketsa verbal.
Klarifikasi Fajar Sadboy dan Respons Empati Amanda Manopo
Isu ini semakin memanas ketika cuplikan-cuplikan pendek dari podcast tersebut tersebar di TikTok dan Instagram tanpa konteks yang utuh, sehingga memicu kemarahan warganet yang menganggap Indra Frimawan telah melakukan tindakan perundungan atau bullying terhadap anak di bawah umur. Menyadari situasi yang tidak kondusif, Amanda Manopo yang saat itu sedang berada di luar negeri melakukan siaran langsung TikTok bersama Fajar untuk menggali kebenaran di balik video tersebut. Dengan nada bicara yang penuh rasa ingin tahu sekaligus protektif, Amanda menginterogasi Fajar mengenai kronologi sebenarnya. “Cerita dulu katanya kamu datang ke podcast Deddy Corbuzier, terus ada kak Indra, katanya kamu diludahin. Diludahin beneran?” tanya Amanda dengan raut wajah yang menunjukkan keterkejutan mendalam sebagaimana terekam dalam siaran tersebut.
Mendengar pertanyaan tersebut, Fajar Sadboy memberikan respons yang sangat tenang dan justru membela Indra Frimawan. Fajar menegaskan bahwa hubungannya dengan Indra sangat baik dan tidak ada dendam pribadi di antara mereka. “Yang sama abang Indra, mereka baik banget kok sama aku. Kan itu becanda juga, beliau kan komedian,” ungkap Fajar dengan nada bicara yang tulus. Fajar bahkan melakukan introspeksi diri secara terbuka, menyatakan bahwa jika ada tindakan yang dirasa kurang pantas, mungkin hal itu dipicu oleh kesalahannya sendiri dalam berkomunikasi. Sikap rendah hati Fajar ini membuat Amanda Manopo akhirnya meredakan ketegangannya dan menyimpulkan bahwa segala kejadian yang sudah berlalu tersebut hanyalah bagian dari bumbu pekerjaan di dunia hiburan yang tidak perlu diperpanjang lagi.
Analisis Sikap Positif Fajar Sadboy dan Dampaknya di Media Sosial
Klarifikasi yang disampaikan oleh Fajar Sadboy tidak hanya meredam konflik, tetapi juga mengubah persepsi publik terhadap kepribadian remaja asal Gorontalo tersebut. Warganet yang semula menghujat Indra Frimawan kini justru berbalik memberikan pujian setinggi langit kepada Fajar. Banyak yang menilai bahwa Fajar memiliki tingkat kecerdasan emosional yang luar biasa karena mampu mengedepankan prasangka baik (positive thinking) di tengah situasi yang secara visual terlihat merendahkan dirinya. Komentar-komentar seperti “Fajar baik banget, positif thinking terus” dan “Fajar bukan pendendam, dia sangat baik” membanjiri kolom komentar di berbagai platform, menandakan adanya rasa simpati yang besar dari masyarakat terhadap karakter Fajar yang dinilai tulus dan tidak mudah tersinggung.
Lebih jauh lagi, penelusuran digital mengungkapkan bahwa insiden serupa ternyata bukan pertama kalinya terjadi. Sekitar tiga bulan sebelumnya, dalam podcast “Logic” yang dipandu langsung oleh Indra Frimawan, interaksi dengan pola serupa juga pernah ditampilkan. Hal ini menguatkan argumen bahwa tindakan “meludah” tersebut merupakan bagian dari gaya komedi fisik atau slapstick verbal yang memang menjadi ciri khas persona panggung Indra Frimawan saat berhadapan dengan tamu yang memiliki logika unik seperti Fajar. Meskipun demikian, fenomena ini menjadi pelajaran penting bagi para pembuat konten di Indonesia mengenai batasan antara komedi dan tindakan yang bisa dipersepsikan sebagai pelecehan, terutama ketika berinteraksi dengan individu yang memiliki basis penggemar yang sangat protektif.
Sebagai penutup dari polemik ini, Fajar Sadboy membuktikan bahwa popularitas yang ia dapatkan bukan sekadar karena air mata atau kisah cinta yang sedih, melainkan juga karena integritas pribadinya yang mampu menjaga etika dan hubungan baik dengan sesama rekan artis. Di sisi lain, keterlibatan Amanda Manopo dalam memberikan ruang klarifikasi menunjukkan adanya solidaritas antar-publik figur dalam meluruskan disinformasi yang berpotensi merusak reputasi seseorang. Kini, publik diharapkan dapat melihat konten hiburan secara lebih holistik dan tidak mudah terprovokasi oleh potongan video pendek yang sering kali menghilangkan konteks asli dari sebuah interaksi kreatif di meja podcast.

















