Sebuah revolusi dalam industri perfilman Indonesia tengah digaungkan oleh Visinema Studios melalui produksi film terbaru mereka, “Na Willa”. Film yang dijadwalkan tayang pada momen libur Lebaran 2026 ini tidak hanya menjanjikan petualangan seru bagi penonton muda, tetapi juga menetapkan standar baru dalam proses produksinya. Dengan sutradara Ryan Adriandhy di balik kemudi, film drama keluarga ini secara fundamental mengubah cara pendekatan terhadap syuting film yang melibatkan anak-anak, dengan memprioritaskan kenyamanan, keamanan, dan kesejahteraan seluruh elemen yang terlibat, mulai dari aktor cilik hingga kru profesional. Apa saja inovasi yang diusung, dan bagaimana hal ini membentuk pengalaman syuting yang unik?
Menciptakan Lingkungan Syuting yang Ramah Anak: Lebih dari Sekadar Fasilitas
Visinema Studios, melalui Anggia Kharisma selaku produser, menegaskan komitmennya untuk menciptakan sebuah produksi yang tidak hanya menghasilkan karya berkualitas, tetapi juga bertanggung jawab secara etis, terutama ketika melibatkan anak-anak. Anggia secara gamblang menyatakan bahwa keinginan untuk membuat film anak seringkali diiringi dengan kelalaian untuk memastikan proses produksinya sendiri juga ramah bagi mereka. “Ketika menginginkan film anak, kadang kita suka lupa untuk membuat produksinya juga ramah untuk anak-anak,” ujar Anggia dalam konferensi pers yang digelar pada Kamis, 12 Februari 2026, di XXI Plaza Senayan, Jakarta Pusat. Pernyataan ini menjadi landasan filosofis di balik setiap keputusan yang diambil dalam proses syuting “Na Willa”.
Untuk mewujudkan visi ini, tim produksi telah merancang berbagai fasilitas yang secara khusus ditujukan untuk menunjang kenyamanan para aktor cilik. Fasilitas ini jauh melampaui sekadar area tunggu biasa. Terdapat ruang bermain yang didesain menarik, sudut baca yang dilengkapi dengan perpustakaan mini untuk merangsang imajinasi dan kecintaan pada literasi, wahana mandi bola yang menghadirkan keceriaan, perosotan yang membangkitkan semangat bermain, hingga tenda-tendaan yang menciptakan suasana petualangan imajiner. “Spesialnya kalau buat anak-anak di sini, mereka kami kasih ruang bermain,” ungkap Anggia, menekankan betapa pentingnya memberikan ruang bagi anak-anak untuk tetap menjadi anak-anak, bahkan di tengah kesibukan syuting.
Lebih jauh lagi, referensi tambahan dari berbagai sumber mengkonfirmasi upaya Visinema Studios dalam membuat lokasi syuting “Na Willa” menjadi seperti taman bermain yang aman dan nyaman. Inisiatif seperti menjadikan area syuting sepenuhnya bebas rokok, sebuah kebijakan yang diinisiasi oleh Ryan Adriandhy, menunjukkan perhatian mendalam terhadap kesehatan dan kenyamanan semua pihak. Kebijakan ini bukan sekadar aturan, melainkan sebuah kesepakatan yang dijaga ketat untuk menciptakan lingkungan yang benar-benar aman dan sehat, terutama bagi para pemain cilik yang lebih rentan terhadap paparan asap rokok. Upaya ini sejalan dengan misi Visinema untuk konsisten memproduksi film yang merangkul audiens anak-anak, sebagaimana yang juga terlihat pada kesuksesan film mereka sebelumnya, “Jumbo”.
Kenyamanan Holistik: Melampaui Batasan Aktor Cilik
Filosofi “ramah anak” yang diusung oleh Visinema Studios dalam produksi “Na Willa” tidak berhenti pada para aktor cilik saja. Anggia Kharisma menekankan bahwa kenyamanan dan kesejahteraan seluruh kru film menjadi prioritas yang setara. Ia mengibaratkan seluruh tim produksi sebagai satu kesatuan besar yang bekerja bersama, di mana setiap individu diperlakukan dengan rasa hormat dan perhatian yang sama. “Ketika bekerja kan sebenarnya kami meninggalkan keluarga, bayangkan mereka juga adalah anak-anak itu sendiri yang lagi bermain bersama kami,” tuturnya, menggambarkan bagaimana menciptakan suasana kekeluargaan dan kebersamaan di lokasi syuting. Dengan demikian, setiap anggota kru merasa dihargai dan menjadi bagian integral dari sebuah pengalaman kolektif yang positif.
Aspek kesejahteraan kru ini diwujudkan dalam berbagai kebijakan praktis. Salah satunya adalah perhatian terhadap asupan nutrisi makanan. Tim produksi memastikan bahwa makanan yang disajikan bergizi dan sesuai untuk menjaga stamina seluruh anggota tim, baik aktor maupun kru. Lebih unik lagi, kebijakan mengenai jam tidur siang diberlakukan bukan hanya untuk para aktor cilik, tetapi juga untuk seluruh kru. “Bukan cuma buat pemain aja tapi buat all crew members karena enggak ada perbedaan kita semua manusia, jadi kami bikin senyaman mungkin,” jelas Anggia. Kebijakan ini mengakui kebutuhan biologis setiap individu untuk beristirahat dan memulihkan energi, yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja secara keseluruhan. Ini adalah pendekatan revolusioner yang jarang terlihat di industri film Indonesia, di mana jam kerja yang panjang seringkali dianggap sebagai norma.
Ryan Adriandhy, sang sutradara, turut memperkuat komitmen ini dengan menegaskan kesepakatan awal mengenai lokasi syuting yang harus bebas asap rokok. “Jadi kalau ada yang kebiasaan (merokok) kami tegur baik-baik karena dari awal deal enggak ada yang merokok,” ujar Ryan. Tindakan ini tidak hanya melindungi kesehatan para pemain dan kru, tetapi juga menciptakan lingkungan kerja yang lebih profesional dan bertanggung jawab. Kebijakan ini menjadi salah satu pilar penting dalam menciptakan atmosfer yang aman dan kondusif, sejalan dengan upaya Visinema Studios untuk terus konsisten dalam memproduksi film yang tidak hanya menghibur tetapi juga membangun kesadaran akan pentingnya lingkungan yang sehat.
Pengalaman Syuting yang Menyenangkan: Ketika Batasan Antara Rumah dan Lokasi Kerja Kabur
Upaya keras tim produksi dalam menciptakan lingkungan syuting yang ramah anak dan nyaman bagi seluruh kru rupanya membuahkan hasil yang signifikan. Para aktor, khususnya Luisa Adreena yang memerankan karakter utama Na Willa, merasakan langsung dampak positif dari berbagai fasilitas dan peraturan yang diterapkan. Luisa menggambarkan pengalamannya di lokasi syuting sebagai sesuatu yang sangat seru dan menyenangkan, bahkan ia merasa seperti berada di rumah sendiri. “Jadi aku itu kayak bukan syuting, kayak beneran di rumah,” ungkapnya dengan antusias. Perasaan nyaman ini tentu saja berkontribusi besar pada performanya di depan kamera, memungkinkannya untuk berakting secara natural dan lepas.
Kesan positif Luisa tidak terlepas dari adegan-adegan yang ia jalani, yang merefleksikan kehidupan sehari-hari seorang anak pada era 1960-an, latar waktu film “Na Willa”. Adegan-adegan seperti pergi ke pasar bersama karakter Mak (diperankan oleh Irma Rihi), menikmati minuman favorit “Orange Cruz”, mendengarkan cerita dibacakan, hingga momen tidur siang, semuanya terasa akrab dan alami bagi Luisa. Hal ini menunjukkan keberhasilan tim produksi dalam menciptakan kembali suasana yang otentik sekaligus nyaman bagi para pemain cilik. Pengalaman ini menjadi bukti bahwa film anak dapat diproduksi dengan pendekatan yang menghargai dunia anak, bukan hanya sebagai objek cerita, tetapi sebagai subjek yang utuh.
Karakter Na Willa sendiri digambarkan sebagai anak berusia enam tahun yang memiliki sifat pemberani, ceria, penuh rasa ingin tahu, dan gemar berpetualang. Luisa Adreena merasa sangat terhubung dengan karakter yang ia perankan. Ia mengakui bahwa kepribadian Na Willa tidak jauh berbeda dengan dirinya sendiri. “Dan salah satunya enggak bisa diam kayak aku. Jadi Luisa itu Na Willa, Na Willa itu Luisa,” ucapnya, menunjukkan betapa ia telah menyatu dengan perannya. Kemampuan untuk menyatu dengan karakter seperti ini sangat terbantu oleh lingkungan syuting yang mendukung, di mana ia dapat merasa nyaman dan menjadi dirinya sendiri. Pengalaman syuting yang menyenangkan ini menjadi fondasi kuat bagi film “Na Willa” untuk tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga sebuah narasi yang menyentuh hati dan memberikan inspirasi.

















