Sebuah mahakarya sinema anak Indonesia, Pelangi di Mars, siap menggebrak layar lebar Tanah Air pada momen libur Lebaran 2026, tepatnya mulai 18 Maret 2026. Film animasi bergenre fiksi ilmiah ini bukan sekadar tontonan biasa, melainkan sebuah manifestasi ambisi besar yang digarap selama lima tahun penuh dedikasi oleh sutradara visioner Upie Guava dan tim produksi Mahakarya Pictures. Proyek monumental ini, yang berlatar tahun 2100 dan menjanjikan petualangan imajinatif di planet merah, secara resmi diperkenalkan kepada publik melalui peluncuran balon raksasa yang memukau di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, pada Kamis, 19 Februari 2026. Kehadiran film ini menjawab kerinduan akan konten anak lokal berkualitas, menggabungkan kecanggihan teknologi Extended Reality (XR) dengan narasi yang mendidik, serta memiliki visi jangka panjang untuk membangun jagat sinema anak yang berkelanjutan.
Perjalanan panjang di balik layar Pelangi di Mars menjadi kisah tersendiri yang patut disoroti. Sutradara Upie Guava mengungkapkan bahwa lima tahun penggarapan film ini bukanlah waktu yang singkat, namun setiap detiknya diisi dengan riset mendalam dan pengembangan teknologi yang revolusioner. Tiga tahun pertama, menurut Upie, dihabiskan secara eksklusif untuk membangun fondasi teknis yang kuat, termasuk riset dan pengembangan teknologi Computer-Generated Imagery (CGI) serta animasi mutakhir. Sebuah studio khusus dibangun dari nol, berfungsi sebagai “pabrik” untuk memproduksi setiap detail visual film. “Kami bikin dulu ‘pabriknya’ tiga tahun, kami melakukan banyak hal yang mungkin tidak semua orang mau melakukannya,” ungkap Upie, menggambarkan betapa intensifnya fase persiapan ini. Dedikasi ini mencerminkan komitmen tim untuk tidak hanya menciptakan film, tetapi juga ekosistem produksi yang mampu bersaing di kancah global. Upie sendiri kerap merasa terharu ketika mengenang seluruh proses panjang ini, yang bermula dari keinginan sederhana untuk menjadi “pendongeng” bagi anak-anak Indonesia. Baginya, film ini telah melampaui sekadar proyek pribadi; ia melihatnya sebagai sebuah “gerakan” kolektif yang harus terus dikawal, sebuah bukti nyata dari kerja keras dan kolaborasi seluruh tim produksi yang ia apresiasi setinggi-tingginya.
Transformasi Pemeran Utama dan Visi Misi Mendalam
Panjangnya proses produksi Pelangi di Mars juga tergambar jelas melalui perjalanan salah satu pemeran utamanya, Messi Gusti, yang memerankan karakter sentral bernama Pelangi. Messi telah melakoni perannya sejak ia masih duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar, dan kini, setelah lima tahun berlalu, ia telah beranjak ke jenjang Sekolah Menengah Atas. Perubahan fase hidup yang signifikan ini menjadi bukti nyata durasi penggarapan film yang luar biasa. Meskipun demikian, Messi Gusti mengaku tetap antusias dan senang dapat menjadi bagian dari proyek ambisius ini. “Ini salah satu kebanggaan juga untuk aku dengan proses syuting XR, jadi kayak pengalaman baru buatku,” kata Messi, menyoroti pengalaman uniknya berinteraksi dengan teknologi Extended Reality yang digunakan dalam produksi. Teknologi XR ini memungkinkan kombinasi antara live action dan elemen animasi yang kaya, menciptakan dunia yang imersif dan belum pernah ada sebelumnya dalam sinema anak Indonesia.
Dendi Reynando, selaku produser Pelangi di Mars, menjelaskan bahwa film ini lahir dari keresahan mendalamnya terhadap minimnya pilihan film anak berkualitas di Indonesia. “Pilihannya untuk anak-anak tidak selalu ada. Kalaupun ada biasanya dari Hollywood dan yang dari Indonesia mungkin jarang, dua sampai tiga bulan sekali,” tutur Dendi, menggarisbawahi dominasi konten asing dan kelangkaan produksi lokal yang relevan. Film ini, yang berlatar di masa depan, tepatnya tahun 2100, diharapkan dapat mengisi kekosongan tersebut dengan menyajikan kisah fiksi ilmiah yang tidak hanya menghibur tetapi juga sarat makna. Ia berharap Pelangi di Mars akan menjadi bagian dari perjalanan sinema Indonesia yang siap mengajak semua keluarga bertualang, mengangkat nilai-nilai penting seperti imajinasi, inspirasi kecanggihan teknologi, dan literasi cerita anak Indonesia. Dendi juga menyoroti minimnya pengembangan lebih lanjut atas Intellectual Property (IP) film yang berasal dari Indonesia. Baginya, sebuah cerita tidak hanya berhenti di layar bioskop, melainkan harus mampu membentuk narasi yang berkelanjutan untuk anak-anak dan generasi mendatang. “Kita percaya bahwa cerita adalah instrumen pembentuk peradaban,” tegasnya, menunjukkan visi besar di balik produksi ini yang melampaui sekadar hiburan.
Strategi Komersialisasi dan Keberlanjutan IP Lokal
Untuk mendukung keberlanjutan Intellectual Property (IP) film Pelangi di Mars, Dendi Reynando dan tim telah merancang berbagai langkah komersialisasi yang ambisius. Salah satu strategi utama adalah menciptakan cendera mata atau merchandise yang beragam, seperti buku gambar dan figur aksi. Harapannya, produk-produk ini tidak hanya menjadi pelengkap film, tetapi juga mampu bersaing secara kualitas dan daya tarik dengan produk dari IP luar negeri yang serupa. “Kita sudah diskusi dengan beberapa retail store dan Alhamdulillah respons dari mereka juga positif,” tutur Dendi, mengindikasikan penerimaan pasar yang baik terhadap upaya pengembangan IP lokal ini. Langkah ini menunjukkan pemikiran strategis yang menyeluruh, bahwa sebuah film anak tidak hanya dilihat sebagai produk tunggal, tetapi sebagai pintu gerbang menuju sebuah jagat semesta yang lebih luas dan berkelanjutan.
Visi jangka panjang Pelangi di Mars tidak berhenti pada merchandise. Dendi mengungkapkan rencana besar untuk melanjutkan petualangan ini dengan sekuel yang direncanakan tayang secara berkala setiap tahun, mulai dari 2028 hingga 2030. Cetak biru atau rencana awal untuk sekuel-sekuel ini telah disiapkan, namun Dendi menekankan bahwa arah dan realisasi rencana tersebut akan sangat bergantung pada capaian dan kesuksesan film pertamanya. “Film ini sangat menentukan bagaimana nanti IP dan universe-nya akan berkembang,” ungkap Dendi, menegaskan betapa krusialnya performa film perdana ini di bioskop. Ambisi untuk menciptakan waralaba film anak yang berkelanjutan ini merupakan langkah berani yang jarang terlihat dalam industri perfilman Indonesia, menunjukkan komitmen Mahakarya Pictures untuk membangun fondasi yang kokoh bagi sinema anak di masa depan.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, turut memberikan apresiasi tinggi terhadap film Pelangi di Mars. Irene menilai film ini sebagai salah satu proyek dengan gagasan yang “langka” karena mampu memikirkan aspek keberlanjutannya sejak awal produksi. “The good thing is sudah mikirin komersialisasinya seperti apa dan one of the very rare films yang memikirkan dari segi merchandising,” ujarnya. Pujian ini menyoroti foresight tim produksi dalam merencanakan tidak hanya aspek artistik, tetapi juga model bisnis yang berkelanjutan, sebuah kunci penting untuk kemajuan industri kreatif. Kehadiran film ini juga diharapkan mampu mencapai sukses serupa film Jumbo yang juga tayang di libur Lebaran 2025, menandai tren positif bagi film-film animasi lokal di momen liburan.
Pelangi di Mars mengombinasikan antara teknik live action dan animasi secara harmonis, menciptakan pengalaman visual yang unik dan inovatif. Oleh karena itu, film ini akan turut melibatkan beberapa aktor sulih suara berbakat yang akan menghidupkan karakter-karakter animasinya, seperti Bimo Kusumo, Kristo Immanuel, dan Gilang Dirga. Perpaduan antara akting langsung dan pengisi suara profesional menjanjikan kualitas produksi yang tinggi dan mendalam. Dengan segala persiapan matang dan visi yang jauh ke depan, film Pelangi di Mars siap menjadi tontonan wajib bagi keluarga Indonesia pada libur Lebaran tahun ini, memulai petualangan sinematik yang diharapkan akan membentuk peradaban baru bagi anak-anak Indonesia.

















