Industri musik global tengah bersiap menyambut kembalinya sang maestro yang telah membentuk fondasi K-Pop modern, Lee Soo Man, yang secara resmi dijadwalkan mengakhiri masa “pengasingan” profesionalnya pada Februari 2026 mendatang. Sosok yang dijuluki sebagai “Godfather of K-Pop” ini dipastikan akan kembali menggebrak panggung domestik Korea Selatan setelah tiga tahun menepi akibat gejolak korporasi yang sempat mengguncang stabilitas pasar modal dan manajemen SM Entertainment pada awal 2023. Melalui bendera baru A2O Entertainment, Lee Soo Man tidak hanya sekadar merencanakan kepulangan, melainkan sebuah re-invasi strategis yang melibatkan debut boy group baru dengan konsep revolusioner. Langkah ini menandai berakhirnya masa vakum paksa yang diakibatkan oleh klausul hukum, sekaligus menjadi sinyal dimulainya era baru persaingan antara visi orisinal Lee Soo Man dengan sistem manajemen modern yang kini mendominasi industri hiburan Seoul.
Kembalinya Lee Soo Man ke pusat gravitasi musik Korea Selatan secara hukum dimungkinkan oleh berakhirnya klausul non-kompetisi yang sebelumnya mengikat dirinya dalam kontrak penjualan saham dengan raksasa hiburan HYBE. Pada tahun 2023, di tengah sengketa perebutan kekuasaan di SM Entertainment, Lee Soo Man menyepakati perjanjian yang melarang dirinya untuk terlibat dalam aktivitas produksi musik, manajemen artis, maupun operasional bisnis hiburan di wilayah domestik Korea Selatan selama jangka waktu tiga tahun. Selama masa tersebut, Lee Soo Man terpaksa mengalihkan fokus bisnisnya ke pasar internasional, terutama melalui perusahaan investasinya, Blooming Grace, yang berbasis di luar negeri. Namun, dengan hitung mundur menuju Februari 2026 yang kian dekat, batasan hukum tersebut akan segera kedaluwarsa, memberikan kebebasan penuh bagi sang produser legendaris untuk kembali mengoperasikan mesin kreatifnya di tanah kelahirannya sendiri tanpa hambatan legal.
Restrukturisasi Strategis dan Markas Baru di Jantung Cheongdam-dong
Persiapan untuk fase baru ini dilaporkan telah mencapai tahap final yang sangat matang, menunjukkan bahwa Lee Soo Man tidak pernah benar-benar berhenti bekerja selama masa hiatusnya. Berdasarkan laporan mendalam dari berbagai sumber industri, termasuk The Chosun Daily dan Naver, Lee Soo Man telah melakukan langkah berani dengan memindahkan pusat operasional A2O Entertainment dari Singapura dan Cina kembali ke jantung industri hiburan Korea, yakni kawasan elit Cheongdam-dong di Gangnam, Seoul. Melalui Blooming Grace, ia telah mendirikan kantor pusat baru yang megah, yang berfungsi sebagai pusat komando untuk memantau bakat-bakat muda dan memproduksi konten-konten musik masa depan. Perpindahan fisik ini bukan sekadar urusan logistik, melainkan pernyataan simbolis bahwa Lee Soo Man siap merebut kembali pengaruhnya di pusat ekosistem K-Pop. Di markas baru inilah, proses seleksi dan pelatihan intensif bagi para trainee sedang berlangsung dengan sangat rahasia, di mana sebuah boy group baru diproyeksikan akan melakukan debut besar mereka pada paruh pertama tahun 2026, segera setelah larangan beraktivitas Lee Soo Man resmi berakhir.
Salah satu aspek yang paling menarik dari kebangkitan Lee Soo Man adalah kembalinya “gerbong lama” yang terdiri dari tokoh-tokoh kunci di balik kesuksesan global SM Entertainment selama beberapa dekade terakhir. Di dalam struktur kepemimpinan A2O Entertainment, terdapat nama Yoo Young Jin, produser legendaris yang dikenal sebagai arsitek utama suara khas “SMP” (SM Music Performance). Yoo Young Jin, yang telah menciptakan hits ikonik untuk TVXQ, EXO, hingga NCT, kini menjabat sebagai direktur musik di A2O, memastikan bahwa identitas musik yang kuat akan tetap menjadi pilar utama agensi baru ini. Selain itu, keterlibatan Sunny, mantan personel Girls’ Generation sekaligus keponakan Lee Soo Man, menambah dimensi emosional dan profesional dalam proyek ini. Sunny dilaporkan berperan aktif dalam memberikan bimbingan, evaluasi, dan pelatihan mental bagi para trainee, menggunakan pengalamannya sebagai bintang global untuk membentuk generasi idola berikutnya. Kehadiran tim elit ini menegaskan bahwa Lee Soo Man ingin mempertahankan standar kualitas “sentuhan emas” yang selama ini menjadi ciri khasnya, namun dengan pendekatan yang lebih segar dan adaptif terhadap teknologi modern.
Visi Zalpha-Pop: Integrasi Budaya dan Teknologi Tanpa Batas
Dalam upaya untuk melampaui pencapaian masa lalunya, Lee Soo Man memperkenalkan paradigma baru yang ia sebut sebagai “Zalpha-Pop”. Konsep ini merupakan penggabungan strategis antara karakteristik unik Generasi Z dan Generasi Alpha, yang tumbuh besar dalam ekosistem digital yang sepenuhnya terintegrasi. Lee Soo Man percaya bahwa masa depan musik tidak lagi terbatas pada audio semata, melainkan harus melibatkan pengalaman imersif melalui kecerdasan buatan (AI), metaverse, dan teknologi blockchain. Dalam visi barunya, budaya dianggap sebagai entitas yang cair yang harus terus mengalir melampaui batas-batas geografis dan fisik melalui bantuan teknologi. Sistem pelatihan di A2O Entertainment pun dirancang secara spesifik dengan membagi para trainee ke dalam kategori umur yang berbeda, yaitu HTB (High Teen Boys) untuk remaja usia atas dan LTB (Low Teen Boys) untuk kelompok usia yang lebih muda. Pendekatan ini memungkinkan kurikulum pelatihan yang lebih personal dan tersegmentasi, memastikan bahwa setiap talenta dapat berkembang sesuai dengan tahap perkembangan psikologis dan teknis mereka sebelum diperkenalkan ke pasar global.
Kemunculan kembali Lee Soo Man di kancah domestik secara otomatis menciptakan dinamika persaingan yang sangat dinamis, terutama dengan mantan agensinya sendiri, SM Entertainment, yang kini beroperasi di bawah sistem “SM 3.0” tanpa keterlibatannya. Industri hiburan Korea kini menantikan bagaimana persaingan antara sistem manajemen kolektif yang diterapkan SM saat ini akan beradu dengan visi sentralistik namun visioner milik Lee Soo Man. Para analis pasar memprediksi bahwa persaingan ini akan memicu gelombang inovasi baru dalam cara idola diproduksi dan dipasarkan. Dengan modal pengalaman puluhan tahun dan dukungan tim produksi yang solid, Lee Soo Man diprediksi tidak hanya akan melahirkan grup musik baru, tetapi juga akan mencoba mendefinisikan ulang standar industri yang ia bantu bangun sejak awal tahun 1990-an. Kepulangan sang produser ke Seoul pada 2026 bukan hanya merupakan babak penutup dari sebuah konflik korporasi, melainkan babak pembuka dari sebuah revolusi budaya yang akan menentukan arah K-Pop di dekade mendatang.
Secara keseluruhan, kembalinya Lee Soo Man melalui A2O Entertainment membawa harapan besar sekaligus tantangan bagi para pemain lama di industri musik Korea Selatan. Dengan fokus pada “Zalpha-Pop” dan pemanfaatan teknologi mutakhir, Lee Soo Man menunjukkan bahwa meskipun ia telah berusia lanjut, insting bisnis dan kreativitasnya tetap tajam dan relevan dengan perkembangan zaman. Publik kini menantikan pengumuman resmi mengenai anggota boy group baru tersebut, yang diharapkan akan membawa warna baru yang berbeda dari tren K-Pop saat ini. Dengan berakhirnya masa larangan berbisnis pada Februari 2026, mata dunia sekali lagi akan tertuju pada Cheongdam-dong untuk melihat apakah sang “Godfather” masih memiliki kemampuan untuk menciptakan fenomena global yang akan mengubah peta musik dunia sekali lagi.

















