Di tengah pusaran isu perselingkuhan dan gugatan cerai yang melanda rumah tangga poligami, sosok Insanul Fahmi muncul ke permukaan untuk memberikan klarifikasi tegas mengenai status hubungannya dengan kedua wanita yang menyandang status sebagai istrinya, yakni Inara Rusli dan Wardatina Mawa. Menampik berbagai rumor yang beredar luas di publik, Insanul Fahmi secara gamblang menyatakan bahwa hingga saat ini, belum ada satupun proses talak yang dilayangkan kepada kedua belah pihak, baik kepada Inara Rusli maupun istri sahnya, Wardatina Mawa. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Insanul Fahmi dalam sebuah sesi wawancara eksklusif yang dilakukan melalui platform Zoom pada hari Jumat, 27 Februari, yang secara spesifik mengklarifikasi kabar miring terkait dirinya.
Klarifikasi Tegas: Belum Ada Proses Talak Dilayangkan
Insanul Fahmi menegaskan posisinya dengan lugas, membantah keras segala spekulasi yang menyebutkan dirinya telah menjatuhkan talak kepada Inara Rusli, yang dinikahinya secara siri. Lebih jauh, klarifikasi ini juga mencakup sang istri sah, Wardatina Mawa, yang saat ini tengah dalam proses gugatan cerai di Pengadilan Agama Medan. Dalam wawancara tersebut, Insanul Fahmi menyatakan, “Untuk saat ini belum ada sih soal talak-menalak semuanya itu belum ada, ke semua pihak belum ada.” Pernyataan ini mengindikasikan bahwa dinamika yang terjadi dalam rumah tangganya, meskipun kompleks dan penuh gejolak, belum sampai pada tahap pemutusan ikatan pernikahan secara formal melalui pengucapan talak.
Lebih lanjut, Insanul Fahmi mengungkapkan bahwa saat ini, ia dan kedua istrinya sedang menjalani fase “masing-masing dulu.” Frasa ini menyiratkan adanya jarak emosional dan fisik yang tercipta, di mana setiap individu dalam pernikahan tersebut sedang mengambil ruang untuk refleksi diri dan mempertimbangkan langkah selanjutnya. Kondisi ini timbul pasca gugatan cerai yang diajukan oleh Wardatina Mawa, yang kabarnya dipicu oleh penolakan terhadap praktik poligami dan tudingan perselingkuhan. Meskipun demikian, Insanul Fahmi memilih untuk tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan terkait talak, baik kepada Inara maupun Wardatina.
Menyongsong Masa Depan Pernikahan: Diskusi dan Keadilan
Mengenai nasib pernikahannya dengan Inara Rusli di masa depan, Insanul Fahmi mengaku belum memiliki gambaran yang jelas. Ia mengakui bahwa situasi yang terjadi saat ini sudah terbilang “carut-marut,” sebuah ungkapan yang menggambarkan kompleksitas dan kerumitan masalah yang dihadapinya. Dalam menghadapi ketidakpastian ini, Insanul Fahmi memiliki niat kuat untuk mengajak kedua belah pihak, baik Inara maupun Wardatina, untuk duduk bersama dalam sebuah diskusi mendalam. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi apakah visi dan tujuan pernikahan yang sama masih dapat dijalankan oleh semua pihak yang terlibat.
Insanul Fahmi menekankan prinsipnya untuk tidak memaksakan kehendak jika memang hubungan tersebut sudah tidak lagi sejalan. Ia percaya bahwa setiap keputusan harus diambil dengan pertimbangan yang matang dan, yang terpenting, adil bagi semua pihak yang terlibat. “Yang jelas aku mau yang paling prioritas duduk dulu sama masing-masing pihak, pengin bertanya, apakah bisa menjalankan visi dan goals yang sama. Tapi kalau misalnya memang enggak bisa, ya enggak ada yang ku paksakan,” tuturnya. Komitmennya untuk bersikap adil tercermin dari keinginannya untuk mengajukan pertanyaan yang sama kepada kedua istrinya, memastikan bahwa proses pengambilan keputusan didasarkan pada pemahaman yang setara dan objektif.
Pernyataan Insanul Fahmi ini muncul di tengah berbagai pemberitaan yang mengaitkan dirinya dengan isu poligami dan perceraian. Gugatan cerai yang dilayangkan oleh Wardatina Mawa di Pengadilan Agama Medan menjadi titik krusial yang memicu berbagai spekulasi. Wardatina Mawa dilaporkan menggugat cerai karena menolak dipoligami dan menuding adanya perselingkuhan. Di sisi lain, Insanul Fahmi, meskipun tengah menjalani “hidup masing-masing” dengan Inara Rusli, menegaskan bahwa ia belum menjatuhkan talak kepada istri sirinya tersebut. Ia juga menyatakan bahwa ia pasrah dan enggan memaksakan hubungan jika visi dan misi pernikahan dengan kedua istrinya sudah tidak lagi sejalan. Keterangan ini memperjelas bahwa, meskipun rumah tangganya berada di ujung tanduk, Insanul Fahmi masih membuka ruang untuk dialog dan mencari solusi yang paling adil bagi semua pihak, sembari menunggu keputusan final yang akan diambil setelah diskusi mendalam.

















