Sebuah simfoni alam dan budaya Papua akan segera menggema di layar lebar ketika film Teman Tegar: Maira Whisper from Papua dijadwalkan tayang pada 5 Februari 2026. Film yang melanjutkan narasi dari kesuksesan Tegar (2022) ini tidak hanya menjanjikan kisah persahabatan yang menyentuh hati dan keberanian anak-anak, tetapi juga secara mendalam menyelami perjuangan masyarakat adat dalam menjaga kelestarian hutan sebagai denyut nadi kehidupan mereka. Di balik keindahan visual dan cerita yang membumi, terdapat peran krusial seorang Joan Wakum, aktris dan penyanyi multitalenta, yang didapuk untuk merangkai melodi dan harmoni yang akan menghidupkan setiap adegan. Joan Wakum tidak hanya menjadi pemeran karakter Teh Isy, tetapi juga menjadi arsitek utama di balik sembilan lagu orisinal yang menjadi tulang punggung musikal film ini, menciptakan sebuah pengalaman sinematik yang kaya akan nuansa Timur Indonesia.
Proses Kreatif Joan Wakum: Merangkai Jiwa Papua dalam Melodi
Joan Wakum memaparkan bahwa proses kreatif dalam pengembangan musik untuk Teman Tegar: Maira Whisper from Papua merupakan sebuah perjalanan yang sarat akan eksplorasi dan kolaborasi. Ia menggambarkan film ini sebagai sebuah karya musikal yang unik, di mana setiap nada dan irama harus mencerminkan kekayaan budaya dan lanskap alam Papua. “Film ini bisa dibilang film musikal yang memang warna musiknya semuanya dari Timur ya. Puji Tuhan, Joan yang buat semuanya,” ungkapnya dengan bangga saat ditemui di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, pada Selasa, 27 Januari 2026. Pernyataannya ini menegaskan komitmennya untuk menghadirkan otentisitas musik Papua yang belum banyak terekspos dalam kancah perfilman nasional.
Dalam film ini, Joan Wakum bertanggung jawab penuh atas penciptaan sembilan lagu orisinal, yang merupakan bagian dari total sembilan belas lagu yang telah dikerjakannya. Menariknya, dari sembilan lagu tersebut, dua di antaranya merupakan adaptasi dari lagu daerah dan lagu rohani yang telah mengakar di masyarakat Papua, memberikan sentuhan nostalgia dan spiritualitas yang mendalam. Inspirasi utama Joan dalam menciptakan karya-karyanya ini datang langsung dari keindahan alam Papua yang memukau, serta bimbingan dari pengarah musik, Etho Ririmasse. “Saya banyak terinspirasi dari alam Papua kemudian pengarah musiknya Etho Ririmasse. Dia banyak mengetahui soal musik-musik Papua,” jelasnya.
Perpaduan antara kepekaan artistik Joan dan pengetahuan mendalam Etho tentang musik Papua terbukti menjadi formula yang ampuh. Joan, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu finalis Indonesian Idol, mengungkapkan bahwa proses penulisan lirik seringkali dilakukan dengan pendekatan yang sangat bebas dan ekspresif. Ia mengakui kompleksitas musik Papua yang kaya akan nuansa emosional, mulai dari melodi minor yang menyentuh hati hingga nada-nada yang menggambarkan kemarahan. “Musik Papua kompleks, sense-nya ada minor, ada lagu sedih itu nadanya ke mana, nah lagu marah itu nadanya ke mana, nah itu tuh cocok banget sama Kak Etho. Jadi Joan saat dipasangkan sama Kak Etho, Joan secara pribadi pun bangga sama hasil karya yang Joan buat,” tuturnya dengan penuh antusiasme.
Harmoni Alam, Budaya, dan Sinema: Pesan Mendalam di Balik Lagu
Film Teman Tegar: Maira Whisper from Papua dirancang bukan sekadar sebagai tontonan hiburan, melainkan sebagai medium untuk menyampaikan pesan-pesan penting mengenai kelestarian lingkungan dan kekayaan budaya. Sutradara Anggi Frisca menekankan bahwa film ini bertujuan untuk menyuarakan jeritan hutan Papua dan mengajak penonton untuk merenungkan kembali cara pandang mereka terhadap kehidupan. “Film ini bukan hanya tentang menyelamatkan hutan, tapi juga tentang menyelamatkan cara kita memandang hidup,” ujar Anggi Frisca. Ia menambahkan bahwa visi mereka adalah menyederhanakan isu-isu besar seperti krisis iklim menjadi sebuah cerita yang dapat dicerna oleh anak-anak, namun tetap hangat, jujur, dan membumi.
Pendekatan Anggi Frisca dalam menggarap film ini sangat inovatif, di mana ia menggandeng musisi lokal dan nasional, termasuk Joan Wakum, untuk menciptakan komposisi musik yang unik. Kolaborasi ini menghasilkan karya orisinal yang berhasil memadukan ritme tradisional Papua yang khas dengan orkestrasi sinematik yang megah. “Banyak anak di Papua yang mungkin tidak bisa membaca, tapi mereka tidak buta nada. Musik menjadi bahasa universal yang menjembatani cerita, alam dan emosi,” kata Anggi, menyoroti kekuatan musik sebagai alat komunikasi yang melampaui batas-batas konvensional. Melalui musik, film ini berupaya menjembatani kesenjangan pemahaman dan menumbuhkan empati terhadap isu-isu yang dihadapi masyarakat adat Papua.
Rencana perilisan seluruh lagu soundtrack Teman Tegar: Maira ke publik juga menjadi salah satu poin menarik yang diungkapkan oleh Joan Wakum. Saat ini, dua lagu, yaitu “Sapo Kampung” dan “Enjai Mete,” telah tersedia di berbagai platform digital, memberikan gambaran awal mengenai kekayaan musikal film ini. Joan menjelaskan bahwa lagu-lagu lainnya masih dalam proses penyempurnaan, mengingat format lagu-lagu film pendek seringkali perlu diperpanjang agar sesuai untuk perilisan komersial. “Ini baru dua yang rilis. Ada satu “Sapo Kampung” sama “Enjai Mete”, sudah ada di platform digital. Yang lainnya masih dalam proses karena memang lagu film pendek-pendek kan, jadi diperpanjang dulu kalau misalnya mau dirilis,” terangnya.
Lebih jauh, film ini akan memperkenalkan karakter Maira, seorang gadis berusia 12 tahun asal Papua, yang kisahnya akan terjalin dengan perjalanan Tegar. Melalui interaksi mereka, film ini akan mengeksplorasi tema persahabatan yang tulus, keberanian luar biasa yang dimiliki anak-anak, serta perjuangan gigih masyarakat adat dalam mempertahankan hutan yang merupakan sumber kehidupan mereka. Kehadiran film ini, yang dijadwalkan tayang pada Desember 2025 (berdasarkan referensi tambahan, namun konten asli menyebutkan 5 Februari 2026), diharapkan dapat memperluas diskusi publik mengenai pentingnya menjaga kelestarian alam dan sekaligus berfungsi sebagai sarana edukasi yang efektif melalui seni dan musik. Film ini menjadi bukti nyata bagaimana seni dapat menjadi alat yang ampuh untuk menginspirasi perubahan dan meningkatkan kesadaran akan isu-isu krusial yang dihadapi bangsa.


















