Sutradara visioner Indonesia, Joko Anwar, akan mengukir jejaknya di kancah perfilman Eropa dengan menerima undangan istimewa sebagai Tamu Kehormatan di Festival Film Fantastis Internasional Gérardmer ke-33. Perhelatan akbar yang berfokus pada genre fantasi, horor, dan thriller ini dijadwalkan berlangsung dari tanggal 27 Januari hingga 1 Februari 2026 di kota Gérardmer, Prancis. Kehadiran Joko Anwar di salah satu festival paling prestisius di Eropa ini menegaskan pengakuan internasional terhadap karya-karyanya yang inovatif dan mendalam.
Pilihan Editor: Koleksi Kabel Charger Joko Anwar
Selama rangkaian festival berlangsung, beberapa mahakarya sinematik Joko Anwar akan diputar untuk disaksikan oleh para penikmat film dan kritikus dari seluruh dunia. Judul-judul yang akan menghiasi layar festival meliputi film-film yang telah meraih kesuksesan kritis dan komersial, seperti Pengabdi Setan, Perempuan Tanah Jahanam, dan Modus Anomali. Joko Anwar sendiri mengungkapkan antusiasmenya, mengenang pengalaman positifnya di Gérardmer pada tahun 2012 saat pemutaran Modus Anomali. Ia menggambarkan festival tersebut sebagai sebuah pengalaman yang sangat berkesan, berkat suasana kota yang kecil dan intim, serta sesi tanya jawab yang dipenuhi pertanyaan-pertanyaan mendalam dari penonton yang menunjukkan apresiasi tulus terhadap seni perfilman.
Lebih lanjut, Joko Anwar menyoroti bagaimana festival di Prancis, dan masyarakat Prancis secara umum, memiliki pandangan yang komprehensif terhadap sinema. Ia menggarisbawahi bahwa genre horor, yang seringkali dianggap sekadar hiburan belaka, di Prancis justru diakui memiliki potensi kuat untuk mengangkat dan membicarakan isu-isu sosial yang krusial. Pandangan holistik ini, menurutnya, memungkinkan apresiasi terhadap film secara menyeluruh, tanpa memilah-milah mana yang dianggap penting dan mana yang tidak. Hal ini mencerminkan kedalaman apresiasi budaya Prancis terhadap seni film sebagai medium refleksi sosial dan eksistensial.
Pengakuan Resmi dari Pemerintah Prancis: Chevalier dans l’Ordre des Arts et des Lettres
Pencapaian Joko Anwar tidak berhenti pada undangan festival. Pada bulan Desember tahun sebelumnya, di Paris, Joko Anwar turut hadir dalam acara “Panorama Sinema Indonesia,” sebuah pameran retrospektif perdana yang didedikasikan untuk sinema Indonesia, diselenggarakan oleh la Cinémathèque française. Momen bersejarah ini semakin lengkap ketika ia dianugerahi medali Chevalier dans l’Ordre des Arts et des Lettres oleh Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati. Penghargaan prestisius ini diberikan sebagai bentuk pengakuan tertinggi atas kontribusi luar biasa Joko Anwar terhadap dunia perfilman, serta dedikasinya dalam membangun jembatan dialog yang berkelanjutan antara audiens dan institusi perfilman di Prancis.
Joko Anwar memaknai penghargaan ini sebagai simbol kerja sama yang erat antara pemerintah Prancis dan para sineas Indonesia. Ia melihatnya sebagai bentuk apresiasi terhadap karya-karya sineas Indonesia yang mampu menembus batas budaya. Lebih dari itu, ia berharap penghargaan ini dapat memfasilitasi kolaborasi praktis yang lebih intensif, termasuk produksi film bersama antara Prancis dan Indonesia. Ia juga menekankan pentingnya fasilitas dan pertukaran pengetahuan mengenai industri perfilman Prancis bagi para sineas Indonesia. Belajar dari praktik dan pendekatan yang diterapkan di negara lain, menurutnya, akan memperkaya khazanah karya perfilman Indonesia, memberikan perspektif yang lebih tebal, lebih luas, dan lebih mendalam.
Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, turut memberikan pandangannya mengenai inisiatif ini. Ia menyatakan bahwa upaya semacam ini bertujuan untuk meningkatkan visibilitas perfilman Indonesia di kancah internasional. Penone secara khusus memuji karya-karya Joko Anwar, menyebutnya sangat menarik karena pesan yang disampaikan. Melalui lensa genre horor dan fantasi, film-film Joko Anwar berhasil menampilkan sisi artistik yang luar biasa dalam mengamati dan menggambarkan masyarakat serta sejarah Indonesia, mulai dari isu psikologis yang bersifat personal hingga isu-isu politik dan sosial yang kompleks. Penone menganggap perspektif ini sangat berharga dan menarik bagi Prancis.
Dalam diskusi mengenai preferensi genre, Penone mengemukakan bahwa komedi merupakan genre yang paling digemari oleh masyarakat Prancis, sementara di Indonesia, genre horor dan fantasi memegang peranan penting. Namun, ia menarik paralel bahwa, sama seperti di Prancis yang menggunakan komedi untuk membahas berbagai isu, baik yang serius maupun ringan, genre horor di Indonesia juga memiliki kapasitas serupa. Prancis, menurut Penone, sedang giat mengeksplorasi cara-cara baru untuk menggambarkan dan merepresentasikan kehidupan melalui genre horor Indonesia, menunjukkan ketertarikan mendalam terhadap narasi unik yang ditawarkan.
Mengenai pemilihan film-film Joko Anwar yang akan diputar di Festival Gérardmer, Kedutaan Besar Prancis menegaskan bahwa mereka tidak memiliki campur tangan langsung dalam proses kurasi tersebut. Peran mereka lebih bersifat mendukung kelancaran proses seleksi yang sepenuhnya independen. Penone menekankan keindahan dari sifat independen festival-festival semacam ini. Untuk edisi ke-33 Festival Gérardmer, yang merupakan salah satu festival film horor dan fantasi paling terkemuka di dunia, kali ini menyoroti Indonesia sebagai tamu kehormatan, sebuah pencapaian yang sangat signifikan, dengan Joko Anwar sebagai representasi utamanya.
Pilihan Editor: Pertunjukan Soundtrack Film Janji Joni Setelah 20 Tahun


















