Jakarta, ibu kota yang dinamis dan terus berkembang, kini tengah mengukuhkan posisinya di kancah global melalui strategi pariwisata urban yang ambisius dan terstruktur, dengan fokus utama menjadikan kota ini sebagai “Kota Sinema” atau City of Cinema. Inisiatif transformatif ini bertujuan memposisikan Jakarta sebagai destinasi produksi film ikonik yang tidak hanya menarik investasi substansial bagi industri kreatif, tetapi juga memikat jutaan wisatawan lokal dan mancanegara melalui fenomena “film tourism” atau wisata berbasis lokasi film. Langkah konkret dari strategi ini telah terlihat sejak akhir Januari 2026, dengan dimulainya syuting sebuah film Korea di kawasan bersejarah Kota Tua. Kehadiran produksi berskala internasional ini, yang menampilkan bintang global, menjadi bukti nyata bagaimana kolaborasi strategis antara pemerintah dan industri film dapat secara signifikan meningkatkan kunjungan wisata dan memperluas jangkauan promosi Jakarta di panggung internasional, seperti yang diungkapkan dalam acara Astindo Jakarta International Travel Exchange (AJITEX) pada Senin, 2 Februari 2026.
Visi menjadikan Jakarta sebagai Kota Sinema bukanlah sekadar slogan, melainkan sebuah rencana komprehensif yang dirancang untuk memanfaatkan potensi besar industri film dalam mempromosikan pariwisata. Budi Supriyanti, Ketua Sub Kelompok Pengumpulan dan Analisis Data Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, menegaskan bahwa kolaborasi erat dengan industri film adalah pendekatan paling efektif untuk memperluas jangkauan promosi Jakarta hingga ke tingkat internasional. Konsep “film tourism” sendiri telah terbukti menjadi magnet yang ampuh di berbagai belahan dunia, di mana lokasi-lokasi yang muncul dalam film atau serial televisi populer seringkali mengalami lonjakan kunjungan wisatawan yang ingin merasakan langsung suasana dan keindahan yang mereka saksikan di layar. Jakarta, dengan lanskapnya yang beragam, mulai dari pesona arsitektur kolonial di kawasan bersejarah hingga gemerlap gedung pencakar langit modern di pusat kota, menawarkan palet visual yang kaya bagi para pembuat film. Keunikan ini memberikan pengalaman visual yang mendalam bagi penikmat film, yang pada gilirannya memicu rasa penasaran mendalam bagi turis untuk datang dan menjelajahi langsung lokasi syuting tersebut, menciptakan ikatan emosional antara penonton dan destinasi.
Strategi ini juga berpotensi besar untuk memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi kota. Budi Supriyanti menjelaskan lebih lanjut, “Nanti apabila ada pembuatan film di Jakarta, tentunya bisa menarik wisatawan luar negeri juga, kemudian dapat memberikan pemasukan untuk kota Jakarta.” Pemasukan ini tidak hanya berasal dari pengeluaran langsung wisatawan, seperti akomodasi, transportasi, kuliner, dan pembelian suvenir, tetapi juga dari investasi produksi film itu sendiri. Industri film membawa serta kru, peralatan, dan kebutuhan logistik yang besar, yang semuanya berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja lokal dan perputaran ekonomi di sektor-sektor terkait. Lebih dari itu, citra positif yang terbangun melalui film-film berkualitas tinggi dapat meningkatkan daya tarik Jakarta sebagai pusat ekonomi kreatif dan investasi global, memperkuat posisinya sebagai destinasi yang kompetitif di mata dunia.
Langkah awal yang sangat menjanjikan dari strategi ini adalah dimulainya syuting film Korea di Kota Tua pada akhir Januari 2026. Film berjudul Extraction: Tygo, yang dibintangi oleh mega bintang K-pop Lisa Blackpink, sontak menarik perhatian khalayak luas, baik di dalam maupun luar negeri. Kehadiran seorang figur dengan daya tarik global seperti Lisa Blackpink secara instan meningkatkan visibilitas Jakarta dan khususnya Kota Tua. Fenomena K-pop dan K-drama memiliki basis penggemar yang masif di seluruh dunia, dan setiap lokasi yang terkait dengan idola mereka otomatis menjadi titik fokus perhatian. Peningkatan kunjungan ke kawasan bersejarah itu pun segera terlihat, menjadi indikator awal keberhasilan strategi “film tourism” ini.
Dampak Nyata Film Tourism: Studi Kasus Kota Tua

















