Dalam sebuah langkah yang mengejutkan dan segera menjadi sorotan publik, aktris sekaligus pengusaha muda Prilly Latuconsina mengaktifkan status “Open To Work” di platform profesional LinkedIn. Keputusan ini, yang diumumkan baru-baru ini, memicu gelombang perdebatan sengit di media sosial, di mana sebagian besar warganet menilai tindakan tersebut kurang sensitif terhadap realitas sulitnya mencari pekerjaan yang dihadapi banyak orang di tengah kondisi ekonomi saat ini. Menanggapi gelombang kritik yang deras, Prilly Latuconsina dengan cepat tampil ke hadapan publik melalui sebuah video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, menyampaikan permintaan maaf yang tulus, menjelaskan motivasi di balik keputusannya, dan berupaya menjernihkan kesalahpahaman yang terjadi.
Kontroversi ini bermula ketika Prilly, seorang figur publik dengan karier cemerlang di berbagai bidang mulai dari akting, produksi, hingga bisnis, memilih untuk menandai profil LinkedIn-nya dengan fitur “Open To Work”. Fitur ini, yang umumnya digunakan oleh para pencari kerja atau profesional yang ingin beralih karier, secara tak terduga memicu reaksi negatif dari sebagian masyarakat. Banyak pihak berpendapat bahwa dengan posisi istimewa dan kesuksesan finansial yang telah diraihnya, Prilly seharusnya lebih peka terhadap perjuangan jutaan individu yang benar-benar berjuang keras untuk mendapatkan pekerjaan atau sekadar mempertahankan mata pencarian mereka. Kritik yang muncul menyoroti persepsi bahwa tindakan Prilly seolah-olah meremehkan kesulitan yang dialami masyarakat luas, menimbulkan rasa ketidaknyamanan dan kekecewaan di tengah kondisi pasar kerja yang sangat kompetitif dan penuh tantangan.
Menyadari dampak dan gelombang emosi yang ditimbulkan oleh aksinya, Prilly Latuconsina tidak menunda untuk memberikan klarifikasi dan permintaan maaf. Melalui sebuah video yang diunggah di akun Instagramnya, @prillylatuconsina96, ia menyampaikan penyesalan mendalam. “Aku minta maaf dengan tulus,” ujarnya dalam video tersebut, “Kalau apa yang terjadi telah menimbulkan rasa enggak nyaman atau kesalahpahaman. Ini sama sekali bukan hal yang ingin aku ciptakan.” Prilly menunjukkan pemahaman yang mendalam terhadap kemarahan, kekecewaan, dan ketidaknyamanan yang dirasakan oleh sejumlah pihak. Ia mengakui bahwa posisinya sebagai seorang figur publik dengan pengalaman hidup yang jauh berbeda dari kebanyakan pencari kerja di luar sana, mungkin menjadi pemicu utama mengapa tindakannya dapat terasa menyakitkan bagi sebagian orang. Pernyataan ini menegaskan upayanya untuk tidak bersikap tidak berempati, melainkan untuk menjalin komunikasi dan menjelaskan perspektifnya secara transparan, sembari mengakui adanya perbedaan pengalaman hidup yang signifikan.
Mengurai Niat di Balik “Open To Work”
Dalam upaya untuk menghilangkan kesalahpahaman, Prilly Latuconsina secara eksplisit menjelaskan motivasi sebenarnya di balik pengaktifan status “Open To Work”. Perempuan berusia 29 tahun yang dikenal multi-talenta ini menegaskan bahwa alasannya murni berorientasi pada pengembangan diri dan profesionalisme. “Aku ingin menggunakannya sebagai cara untuk membuka peluang kolaborasi lintas industri dan memperluas jejaring profesional, terutama di bidang atau ruang yang sebelumnya belum pernah aku coba,” jelasnya. Ini bukan tentang mencari pekerjaan dalam artian konvensional seperti yang dipahami banyak orang, melainkan sebuah inisiatif strategis untuk mengeksplorasi ranah baru, memperkaya wawasan, dan membangun koneksi yang lebih luas di luar lingkup industri hiburan yang selama ini ia geluti. Prilly menekankan bahwa niatnya adalah untuk belajar hal-hal baru, mengasah keterampilan, dan terus bertumbuh sebagai seorang profesional yang dinamis dan adaptif. Ia dengan tegas membantah bahwa tindakannya dimaksudkan untuk mengambil kesempatan dari mereka yang benar-benar membutuhkan pekerjaan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan personalnya dalam mengejar pertumbuhan dan inovasi diri.
Lebih lanjut, Prilly Latuconsina menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi positif. Ia menyatakan bahwa dirinya berkomitmen untuk melanjutkan kerja sama serta kegiatan yang dapat memberikan dampak positif bagi banyak orang, sebuah prioritas yang akan selalu ia pegang teguh. Komitmen ini tidak hanya mencakup proyek-proyek profesionalnya, tetapi juga inisiatif sosial dan kemasyarakatan yang kerap ia dukung. “Sekali lagi, aku ingin minta maaf karena telah menimbulkan situasi yang tidak nyaman bagi teman-teman semua,” pungkasnya, sembari menyampaikan terima kasih atas masukan, perhatian, dan pengertian yang telah diberikan oleh publik. Permintaan maaf kedua ini menunjukkan keseriusannya dalam mendengarkan kritik dan memperbaiki persepsi yang keliru, sekaligus menggarisbawahi pentingnya komunikasi dua arah antara figur publik dan masyarakat.
Respons Positif dan Peluang Baru yang Terbuka Lebar
Meskipun kontroversi sempat meruak, respons terhadap langkah Prilly Latuconsina di LinkedIn ternyata juga menuai hasil yang luar biasa positif. Dalam video yang sama yang diunggahnya pada Kamis (30/1) lalu, Prilly mengungkapkan bahwa ia menerima tak kurang dari 30.000 permintaan koneksi di akun LinkedIn-nya. Angka fantastis ini menunjukkan betapa besar minat dan kepercayaan yang diberikan oleh berbagai pihak terhadap sosoknya. “Halo semuanya, aku mau ngucapin terima kasih untuk 30 ribu connection request yang masuk di LinkedIn aku. Terima kasih untuk kalian para perusahaan, teman-teman organisasi, pelaku usaha dan brand yang udah reach out dari kemarin,” ucap Prilly dengan nada bahagia dan penuh rasa syukur. Ribuan permintaan koneksi ini datang dari beragam entitas, mulai dari perusahaan multinasional, organisasi nirlaba, pelaku usaha rintisan, hingga berbagai merek ternama, semuanya tertarik untuk menjalin kolaborasi atau sekadar berjejaring dengan Prilly.
Prilly Latuconsina tidak hanya merasa bahagia karena banyaknya kepercayaan yang diberikan kepadanya, tetapi juga secara aktif menindaklanjuti setiap tawaran yang masuk. Sebagai langkah konkret, ia mengungkapkan telah memulai komunikasi intensif dengan beberapa perusahaan, organisasi, dan komunitas yang menunjukkan minat. Bahkan, salah satu peluang yang muncul dan menarik perhatiannya adalah tawaran untuk menjadi seorang reporter di salah satu media. Ini adalah bukti nyata bahwa niat awalnya untuk memperluas jejaring dan mengeksplorasi bidang baru telah membuahkan hasil yang konkret dan menjanjikan. Kesempatan menjadi reporter ini sejalan dengan keinginannya untuk belajar hal baru dan bertumbuh di luar zona nyamannya, membuktikan bahwa platform profesional seperti LinkedIn, bahkan bagi seorang figur publik, dapat menjadi gerbang menuju peluang tak terduga dan pengembangan karier yang lebih holistik.

















