JAKARTA – Pengalaman mendalam memerankan mendiang Putri Diana dalam film biografi “Spencer” tampaknya meninggalkan jejak emosional yang tak terhapuskan bagi aktris ternama Kristen Stewart. Meskipun film tersebut telah dirilis beberapa tahun lalu, Stewart mengaku masih merasakan ikatan batin yang kuat, bahkan hingga merasa “dihantui” oleh energi mendiang Putri Wales tersebut. Keterikatan ini tidak hanya terbatas pada momen-momen syuting, tetapi juga meresap ke dalam kehidupan sehari-harinya, memicu kilas balik emosional yang spontan, terutama saat ia mengunjungi lokasi-lokasi bersejarah yang terkait dengan kehidupan Diana. Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendalam tentang bagaimana sebuah peran dapat melampaui batas akting, menyentuh ranah psikologis dan spiritual seorang aktor, serta bagaimana warisan seorang tokoh ikonik dapat terus bergema melalui medium seni.
Koneksi Spiritual dan Emosional yang Mendalam
Kristen Stewart secara terbuka membagikan bagaimana kedekatannya dengan karakter Putri Diana melampaui batas-batas profesionalisme akting. Ia mengungkapkan bahwa pengalaman memerankan sosok yang begitu dicintai dan kompleks ini telah membentuk ikatan emosional yang intens, bahkan ia mengakui bahwa ia tidak bisa berkendara di sekitar London dan Paris tanpa memikirkan Diana. Pernyataan ini menggarisbawahi betapa terintegrasinya karakter tersebut ke dalam persepsi Stewart, seolah-olah ia telah menyerap esensi kehidupan dan perjuangan sang Putri. Lokasi-lokasi yang pernah disinggahi Diana kini menjadi pemicu kenangan emosional yang kuat, menunjukkan bahwa pengalaman tersebut telah menancapkan dirinya secara mendalam dalam kesadaran Stewart.
Proses produksi film “Spencer” menuntut Stewart untuk melakukan pendekatan yang sangat totalitas, di mana batas antara dirinya sebagai pribadi dan karakter Putri Diana menjadi semakin kabur. Ia meyakini bahwa selama berbulan-bulan syuting, sebuah koneksi spiritual yang unik telah terbentuk. Stewart merasa seolah-olah ia telah menyerap beban emosional yang begitu besar yang pernah dipikul oleh Diana. Pengakuan ini, yang dilansir dari berbagai sumber terkemuka seperti The Guardian, mengindikasikan bahwa pengalaman tersebut bukan sekadar sebuah penjiwaan karakter, melainkan sebuah penyerapan energi dan penderitaan yang membentuk persepsi Stewart terhadap sosok Diana. Ia menyatakan, “Saya tidak tahu apakah saya percaya pada hantu, tetapi saya percaya pada energi yang tersisa. Saya mengambilnya,” sebuah kalimat yang menunjukkan kedalaman keyakinannya pada keberadaan jejak spiritual dari individu.
Lebih jauh, Stewart menyoroti kerentanan Putri Diana yang luar biasa dalam menghadapi sorotan publik yang tanpa henti dan tekanan dari paparazzi. Ia menggambarkan bagaimana Diana terjebak dalam pusaran tekanan tersebut, yang pada akhirnya berkontribusi pada tragedi yang menimpanya. Perasaan “dihantui” yang ia rasakan kini berakar pada rasa perlindungan yang mendalam terhadap sosok Diana, sebuah perasaan yang tidak luntur seiring berjalannya waktu. Hal ini menunjukkan bahwa Stewart tidak hanya melihat Diana sebagai subjek peran, tetapi juga sebagai individu yang rentan dan membutuhkan empati, bahkan setelah kematiannya. Pengalaman ini telah mengubah cara pandang Stewart terhadap ketahanan mental dan kerentanan manusia, memberikan perspektif baru yang mendalam.
Pesona Emosional yang Abadi
Dampak dari peran ini bertahan jauh melampaui masa promosi film. Stewart mengaku bahwa ia masih bisa menangis kapan saja hanya dengan memikirkan kisah tragis Diana. “Semua cinta yang terpancar dari wanita ini, saya bisa menangis karenanya kapan saja,” ungkapnya, menggarisbawahi kekuatan emosional yang masih ia rasakan dari sosok Putri Wales. Pengakuan ini, seperti yang dilaporkan oleh E!News, menunjukkan bahwa cinta dan kebaikan yang dipancarkan oleh Diana memiliki resonansi yang kuat dan abadi, bahkan bagi seseorang yang tidak mengenalnya secara pribadi. Kemampuan Stewart untuk merasakan dan mengekspresikan emosi ini kembali menegaskan kedalaman penjiwaannya terhadap karakter tersebut.
Beban emosional dan tekanan publik yang pernah ditanggung oleh Putri Diana kini, menurut Stewart, sedikit banyak ikut ia rasakan. Ia memilih untuk mengatasi perasaan ini dengan menerima koneksi tersebut sebagai bagian integral dari proses penghormatan terhadap mendiang. Tindakan ini bukan hanya tentang memainkan peran, tetapi tentang memahami dan merasakan beban yang dihadapi oleh seorang figur publik yang hidup di bawah mikroskop dunia. Pengalaman ini secara fundamental telah mengubah pandangan hidup Stewart mengenai kerentanan dan ketahanan mental, memberinya apresiasi yang lebih dalam terhadap kompleksitas kehidupan manusia, terutama bagi mereka yang hidup dalam sorotan publik.
“Dia diburu, diburu sampai mati oleh paparazzi. Dan kualitas pemberontakannya terasa begitu putus asa, begitu muda, dan begitu rentan,” ucap Stewart, menggambarkan dengan jelas penderitaan yang dialami Diana. Pernyataan ini menyoroti aspek tragis dari kehidupan Diana yang seringkali terabaikan di balik citra glamornya. Stewart melihat pemberontakan Diana bukan sebagai tindakan melawan, tetapi sebagai ekspresi keputusasaan dan kerentanan seorang individu yang terperangkap dalam situasi yang tak terkendali. Peran dalam film “Spencer” terbukti menjadi pengalaman spiritual bagi Kristen Stewart, di mana perasaan “dihantui” bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan sebuah manifestasi dari ikatan batin yang tak terpisahkan dengan sosok yang ia perankan. Ia merasa telah berhasil menyerap energi emosional Putri Diana selama berbulan-bulan syuting, menjadikan pengalaman tersebut sebagai bagian tak terpisahkan dari dirinya.

















