Serial animasi Nussa dan Rarra telah menorehkan jejak signifikan dalam lanskap hiburan anak di Indonesia, bahkan melampaui batas negara hingga Asia Tenggara. Sejak kemunculannya, serial ini tidak hanya berhasil memikat hati berbagai kalangan melalui karakter-karakter yang menggemaskan dan cerita yang menghibur, tetapi juga secara konsisten menyajikan nilai-nilai edukatif yang mendalam, khususnya yang berlandaskan ajaran Islam. Kehadirannya menjadi oase di tengah minimnya konten anak yang relevan secara budaya dan spiritual, menjadikannya lebih dari sekadar tontonan, melainkan sebuah media pembelajaran inspiratif bagi keluarga Indonesia.
Animasi yang pertama kali mengudara melalui kanal YouTube Nussa Official pada November 2018 ini merupakan buah karya dari studio animasi terkemuka, The Little Giantz. Di balik kesuksesan studio dan serial tersebut, berdiri sosok visioner bernama Aditya Triantoro, seorang animator berpengalaman yang telah malang melintang di kancah industri kreatif global. Kisah perjalanan Aditya Triantoro adalah cerminan dedikasi, inovasi, dan keberanian untuk mewujudkan visi besar dalam industri animasi lokal.
Profil Singkat Aditya Triantoro: Dari Kancah Internasional ke Tanah Air
Aditya Triantoro, seorang nama yang kini identik dengan kebangkitan animasi Indonesia, lahir di ibu kota Jakarta. Namun, masa kecilnya justru lebih banyak dihabiskan di luar negeri, sebuah pengalaman yang tak pelak membentuk perspektif global dan keahliannya di kemudian hari. Ia menghabiskan sembilan tahun di Amerika Serikat, menyerap budaya dan kemajuan teknologi di salah satu pusat industri hiburan dunia. Setelah itu, delapan tahun berikutnya ia menetap di Singapura, sebuah hub strategis di Asia yang juga memiliki ekosistem kreatif yang dinamis. Pengalaman hidup di dua negara maju ini memberinya wawasan yang luas mengenai standar produksi internasional dan tren global dalam dunia animasi. Pada tahun 2014, Aditya memutuskan untuk kembali ke Indonesia, membawa serta segudang pengalaman dan ambisi untuk berkontribusi pada industri kreatif di tanah air. Meskipun detail mengenai kehidupan pribadinya jarang dipublikasikan, diketahui bahwa Aditya pernah menikah dengan Annisa Hadiyanti, namun hubungan tersebut berakhir pada tahun 2022.
Perjalanan Karier Gemilang Aditya Triantoro: Menjelajahi Dunia Animasi Global hingga Membangun IP Lokal
Jejak karier Aditya Triantoro dimulai pada tahun 2001 di Los Angeles, Amerika Serikat, di mana ia sempat berkecimpung sebagai seorang web developer. Namun, panggilan jiwanya terhadap dunia visual dan narasi mendorongnya untuk beralih haluan secara signifikan ke bidang desain grafis dan, yang terpenting, sebagai 3D animator. Peralihan ini menandai awal dari perjalanan panjangnya di industri animasi. Pada tahun 2007, talentanya diakui secara internasional ketika ia dipercaya menjabat sebagai lead animator untuk film animasi Sing to the Dawn di Infinite Frameworks Studios, sebuah pengalaman krusial yang mengasah kemampuannya dalam mengelola tim dan proyek berskala besar. Perjalanan kariernya terus menanjak, membawanya menjadi senior animator di Sparky Animation, sebuah studio yang memberinya kesempatan untuk terlibat dalam berbagai proyek internasional ternama seperti serial komedi fisik Oddbods, serial edukasi anak Rob the Robot, dan petualangan serangga Insectibles. Keterlibatannya dalam produksi-produksi global ini memberinya pemahaman mendalam tentang standar kualitas, alur kerja, dan manajemen proyek animasi kelas dunia.
Puncak dari akumulasi pengalaman dan visinya terwujud pada tahun 2016, ketika Aditya Triantoro mendirikan studio animasinya sendiri, The Little Giantz. Di studio ini, ia menjabat sebagai CEO hingga tahun 2023, memimpin tim untuk mewujudkan ambisi besar. Pada awalnya, The Little Giantz beroperasi sebagai studio layanan animasi internasional, melayani klien-klien global dengan reputasi tinggi. Portofolio mereka mencakup proyek-proyek prestisius seperti serial LEGO StarWars, Rabbids Invasion, adaptasi karakter klasik Moomin, dan bahkan film animasi Tiongkok yang sukses besar, Nezha. Pengalaman ini tidak hanya membuktikan kapabilitas The Little Giantz dalam memenuhi standar global, tetapi juga membangun fondasi yang kuat dalam hal teknologi, keahlian sumber daya manusia, dan jaringan industri.
Memanfaatkan keahlian dan pengalaman yang telah terakumulasi, The Little Giantz di bawah kepemimpinan Aditya Triantoro kemudian membuat lompatan strategis yang revolusioner: mengembangkan kekayaan intelektual (IP) milik sendiri. Pada tahun 2018, IP pertama mereka, Nussa, diluncurkan dan segera meraih kesuksesan luar biasa di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Keberhasilan Nussa bukan hanya terletak pada kualitas animasinya yang setara dengan produksi internasional, melainkan juga pada kemampuannya menyentuh hati penonton dengan konten Islami yang relevan, edukatif, dan menghibur. Setelah sukses besar dengan The Little Giantz dan Nussa, Aditya Triantoro melanjutkan dedikasinya terhadap industri kreatif dengan mendirikan Adittoro Revolutionary Creatives pada Januari 2024. Melalui entitas baru ini, ia kini berperan sebagai konsultan dan investor, fokus pada pengembangan dan penguatan industri animasi serta bisnis kreatif di Indonesia. Selain itu, Aditya juga aktif sebagai Business Partner di Dream Ratio, sebuah peran yang memungkinkannya untuk terus menciptakan peluang bisnis baru dan mengembangkan IP-IP potensial, menegaskan komitmennya untuk terus memajukan ekosistem kreatif di tanah air.
Karya-karya Ikonik Aditya Triantoro dalam Industri Animasi
Kiprah Aditya Triantoro dalam industri animasi global dan nasional telah menghasilkan beragam karya yang menunjukkan keluasan keahlian dan perannya. Dari posisi teknis sebagai animator hingga peran strategis sebagai produser eksekutif, kontribusinya telah membentuk beberapa proyek animasi yang dikenal luas.
Sebagai Animator/Lead Animator/Character Designer:
-
Nussa: Bundaku (2019, Short) – Sebagai Character Designer, ia memberikan sentuhan visual yang khas pada karakter-karakter yang dicintai.
-


















