Sebuah jendela imajinasi anak-anak siap terbuka lebar di layar lebar Indonesia. VISINEMA Studios baru saja meluncurkan teaser poster yang memukau untuk film terbarunya, Na Willa, yang dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Tanah Air pada momen Lebaran 2026. Poster ini bukan sekadar pengantar visual, melainkan sebuah undangan mendalam untuk menyelami dunia Na Willa dari perspektif unik seorang anak berusia enam tahun, di mana setiap elemen keseharian bertransformasi menjadi sesuatu yang monumental, ajaib, dan sarat dengan kekuatan imajinasi. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: bagaimana film ini akan membangkitkan kembali rasa takjub dan keajaiban yang seringkali terabaikan dalam hiruk pikuk kehidupan dewasa? Siapa saja yang terlibat dalam penciptaan karya yang menjanjikan ini, dan mengapa VISINEMA Studios memilih tema yang begitu personal dan universal ini untuk dirilis pada momen spesial Lebaran?
Mengungkap Makna Mendalam Teaser Poster Film Na Willa: Sebuah Perjalanan ke Dunia Imajinasi Anak
Teaser poster Na Willa secara visual merepresentasikan perasaan yang akan disajikan film ini kepada penontonnya. Dalam poster tersebut, tubuh Na Willa digambarkan mungil, kontras dengan objek-objek sehari-hari yang membengkak menjadi ukuran kolosal, memancarkan aura magis dan sinematik. Kaleng kerupuk, sebuah radio tua, hingga buah pisang yang lazim ditemui, semuanya tampil dalam skala raksasa, seolah merefleksikan bagaimana dunia dilihat oleh mata seorang anak. Ukuran yang diperbesar ini bukan sekadar trik visual, melainkan metafora kuat untuk menggambarkan bagaimana anak-anak memaknai dan merasakan dunia di sekitar mereka. Keajaiban-keajaiban kecil yang lahir dari persepsi unik inilah yang menjadi inti emosional film ini.
Tangan mungil Na Willa terlihat menggapai sebuah tutup kaleng kerupuk yang menjulang tinggi, sebuah gambaran nyata tentang bagaimana objek sederhana dapat terasa begitu monumental dan mengagumkan bagi anak-anak. Anggia Kharisma, sang produser film Na Willa, dalam keterangan tertulis yang dirilis pada Kamis, 29 Januari 2026, menjelaskan lebih lanjut visi di balik visual tersebut. “Lewat sudut pandang Na Willa, kami ingin mengajak penonton kembali merasakan bagaimana melihat dunia dengan rasa kagum, seperti anak-anak di dalam diri kita yang penuh imajinasi, rasa ingin tahu, dan kehangatan yang kerap terlupakan seiring bertambahnya usia,” ujar Kharisma. Pernyataannya ini menekankan ambisi film untuk menyentuh kembali sisi kekanak-kanakan dalam diri setiap individu, membangkitkan nostalgia dan apresiasi terhadap cara pandang yang lebih murni dan penuh keajaiban.
Film Na Willa. Dok. Visinema Studios
Keberhasilan tim kreator di balik film mega blockbuster Indonesia, Jumbo, yang berhasil menarik lebih dari 10 juta penonton, kini kembali dipertaruhkan dalam proyek Na Willa. Film ini disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Ryan Adriandhy, yang sebelumnya telah membuktikan kehebatannya dalam menggarap film berskala besar. Posisi produser dipegang oleh Anggia Kharisma dan Novia Puspa Sari, yang diharapkan dapat mengulang kesuksesan Jumbo. Keterlibatan nama-nama besar di balik layar ini memberikan jaminan kualitas dan potensi daya tarik yang kuat bagi penonton.
Di depan layar, film ini diperkuat oleh penampilan perdana Luisa Adreena yang didapuk memerankan karakter utama, Na Willa. Aktingnya akan beradu dengan sejumlah nama yang tak kalah mumpuni. Irma Rihi, yang telah mendapatkan nominasi Aktris Pendukung Terbaik di Film Pilihan Tempo 2024, akan memerankan karakter Mak, sementara Junior Liem akan tampil sebagai Pak. Deretan aktor dan aktris berbakat lainnya yang turut memeriahkan film ini antara lain Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, Arsenio Rafisqy, Ira Wibowo, Melissa Karim, Nayla Purnama, Agla Artalidia, dan Putri Ayudya. Kehadiran para aktor berpengalaman ini diharapkan dapat memberikan kedalaman emosional dan keragaman karakter yang memperkaya narasi film.
Sebuah Perjalanan Nostalgia ke Era 1960-an Melalui Lensa Anak-Anak
Na Willa menandai debut Ryan Adriandhy dalam menggarap film live-action pertamanya. Dalam sebuah pernyataan, Ryan mengungkapkan ambisinya untuk membawa penonton kembali ke masa lalu. “Lewat Na Willa, saya ingin mengajak penonton menyusuri Indonesia di era 1960-an dari sudut pandang seorang anak berusia enam tahun, ketika dunia kecil terasa luas dan penuh kemungkinan,” ujar Ryan. Era 1960-an dipilih sebagai latar waktu yang spesifik, menawarkan nuansa nostalgia yang kental, sekaligus memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi bagaimana kehidupan dan imajinasi anak-anak berkembang dalam konteks sosial dan budaya pada dekade tersebut.
Ryan melanjutkan, “Menurut dia, dari kacamata anak, hal-hal sederhana seperti rumah, gang, radio, atau kaleng kerupuk bisa terasa hidup dan magis. Perspektif inilah yang ingin kami hadirkan: cara melihat dunia dengan rasa ingin tahu, imajinasi, dan kepekaan yang jujur,” tuturnya. Penekanan pada “hal-hal sederhana” ini mengindikasikan bahwa film akan berfokus pada keajaiban yang tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari, yang seringkali terlewatkan oleh orang dewasa. Melalui mata Na Willa, penonton diajak untuk melihat kembali elemen-elemen familiar dengan cara yang baru dan penuh keajaiban, membangkitkan kembali rasa ingin tahu dan apresiasi terhadap detail-detail kecil kehidupan.
Film Na Willa. Dok. Visinema Studios
Reda Gaudiamo, penulis buku orisinal Na Willa, menyambut hangat perilisan teaser poster film ini. Ia menyatakan kegembiraannya melihat cerita yang ia ciptakan kini menjelma dalam format visual yang memikat. “Ada perasaan yang sangat hangat saat melihat cerita Na Willa hadir di layar lebar. Ryan Adriandhy dan Visinema Studios mampu menghidupkan imajinasi Willa kecil menjadi sebuah karya baru yang terasa begitu hangat dan memeluk, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa,” ujar Reda. Pernyataan ini menggarisbawahi potensi film untuk resonansi emosional yang luas, tidak hanya menyasar segmen penonton anak-anak, tetapi juga orang dewasa yang merindukan sentuhan kehangatan dan imajinasi masa kecil. Kemampuan film untuk “memeluk” penonton, baik tua maupun muda, menunjukkan kedalaman narasi dan kekuatan emosional yang diharapkan dapat ditawarkan.
Sinopsis Na Willa: Pergulatan Seorang Anak dengan Perubahan dan Keajaiban yang Berpindah Tempat
Na Willa akan membawa penonton menyelami kisah Willa, seorang gadis kecil berusia enam tahun yang menemukan kesempurnaan dan keajaiban di dunia mungilnya yang terletak di sebuah gang di Surabaya. Bagi Willa, lagu-lagu yang diputar di radio terdengar hidup, kios langganan selalu menawarkan kejutan menarik, dan setiap hari adalah petualangan seru bersama teman-temannya. Dunia yang ia kenal adalah dunia yang penuh warna dan imajinasi, di mana hal-hal sederhana memiliki makna yang mendalam.
Namun, kedamaian dunia Willa mulai terusik ketika sahabat terdekatnya mengalami kecelakaan. Disusul dengan kenyataan bahwa satu per satu teman bermainnya mulai memasuki dunia sekolah, dunia Willa perlahan berubah dan terasa semakin sepi. Perubahan ini mendorong Willa untuk mengambil keputusan besar: ia bertekad untuk mengikuti jejak teman-temannya ke bangku Taman Kanak-Kanak. Harapannya adalah dengan berada di lingkungan yang sama, segalanya bisa kembali seperti sedia kala, dan keajaiban masa kecilnya dapat dipertahankan.
Perjalanan masuk sekolah ternyata membuka lembaran baru yang terasa asing bagi Willa. Ia dihadapkan pada dunia yang penuh dengan aturan, batasan, dan rasa ketidakpahaman. Di tengah tantangan ini, Willa perlahan mulai belajar sebuah pelajaran berharga tentang tumbuh kembang: bahwa tumbuh berarti berdamai dengan perubahan yang tak terhindarkan. Ia juga mulai menyadari bahwa keajaiban tidak selalu menghilang, melainkan terkadang hanya berpindah tempat. Diceritakan secara utuh dari sudut pandang seorang anak kecil, Na Willa diposisikan sebagai film keluarga yang hangat dan magis untuk perayaan Lebaran. Film ini diharapkan mampu memberikan pengalaman menonton yang mendalam, mengajak anak-anak dan orang dewasa untuk melihat kembali dunia dengan mata yang penuh rasa kagum dan kebebasan imajinasi, mengingatkan kita bahwa keajaiban seringkali terletak pada cara kita memandang.


















