Dalam sebuah pengungkapan yang memukau publik, aktris senior Indonesia, Olla Ramlan, membagikan kisah penuh tantangan dan emosi saat menjalani syuting serial Malaysia terbaru berjudul Walid. Proyek sekuel dari serial viral Bidaah ini membawa Olla Ramlan melintasi batas negara dan zona nyaman, mengharuskannya beradaptasi dengan kondisi ekstrem di pelosok hutan Malaysia selama 20 hari. Pengalaman ini, yang disebut Olla sebagai “campur aduk” antara ketegangan dan kebahagiaan, tidak hanya menguji ketahanan fisik dan mentalnya, tetapi juga memperlihatkan dedikasi seorang seniman dalam mengejar otentisitas peran. Dari perjalanan panjang melelahkan hingga adegan beku di air terjun deras, Olla Ramlan berhasil menuntaskan setiap rintangan, meninggalkan jejak air mata sekaligus senyum bangga atas pencapaiannya.
Tantangan Ekstrem di Pelosok Hutan Malaysia
Keterlibatan Olla Ramlan, aktris berusia 46 tahun dengan segudang pengalaman di industri hiburan, dalam serial Walid bukanlah tanpa pengorbanan. Ia harus terbang ke Negeri Jiran dan menghadapi realitas syuting yang jauh berbeda dari biasanya. Olla menceritakan bagaimana lokasi syuting mengharuskannya menembus pedalaman Malaysia, sebuah perjalanan yang memakan waktu hingga lima jam dari Kuala Lumpur. “Lokasi syuting 3-4 hari pertama tuh masih sejam dari tempat tinggal. Di hari berikutnya, dari Kuala Lumpur itu (menuju lokasi syuting) 5 jam lagi. Itu benar-benar di pelosok, hutan semua,” kenang Olla, menggambarkan transisi drastis dari area yang relatif terjangkau menuju jantung hutan belantara.
Situasi ini jelas mengejutkan bagi Olla. Fasilitas yang minim menjadi tantangan berikutnya. Ia dan timnya harus menginap di penginapan yang sangat sederhana, jauh dari kemewahan atau kenyamanan yang biasa ia temui. Salah satu detail yang paling menyorot perhatian adalah kondisi kamar mandi yang jauh dan harus berbagi dengan seluruh kru. “Olla Ramlan mengalami kesulitan syuting serial Walid Season 2 di pedalaman hutan Malaysia selama 20 hari. Aktris tersebut menghadapi fasilitas minim, seperti penginapan terbuka dan kamar mandi bersama tanpa perlakuan khusus,” demikian dilaporkan oleh salah satu sumber. Momen tersebut, ketika ia menyadari betapa ekstremnya kondisi yang harus dihadapi, memicu respons emosional yang tak terbendung. Olla mengaku sampai meneteskan air mata. “Jadi aku nangis dulu. Nah pas di situnya, aku, ‘Masya Allah, ya ampun nyari duit segininya banget?'” kenangnya sambil tertawa, sebuah refleksi jujur tentang dedikasi dan pengorbanan yang diperlukan dalam profesinya. Momen ini, yang juga disebutnya sempat menimbulkan “trauma” ringan, menunjukkan betapa mendalamnya pengalaman tersebut.
Dinginnya Air Terjun dan Solidaritas Kru
Selain tantangan geografis dan fasilitas, Olla Ramlan juga dihadapkan pada ujian fisik yang cukup berat, terutama saat pengambilan adegan di air terjun. Dinginnya air di pagi hari, ditambah dengan derasnya aliran air, menciptakan kondisi yang sangat tidak nyaman. “Asli, aku itu kedinginannya, masya Allah banget,” ujarnya. Lebih dari sekadar menahan dingin, Olla dituntut untuk tetap profesional dengan melakoni dialog di tengah deru air terjun yang kencang. Ini bukan hanya masalah fisik, melainkan juga teknis. Komunikasi menjadi sangat sulit, dan kemungkinan besar adegan tersebut memerlukan beberapa kali pengulangan untuk mendapatkan hasil yang sempurna, menguras energi dan konsentrasi.
Kondisi di lokasi syuting semakin diperparah dengan tidak adanya air panas. “Gak ada hot water,” tegas Olla. Bayangkan mandi di pagi hari dengan air dingin setelah berjam-jam syuting di air terjun yang dingin, sebuah pengalaman yang pasti menguji batas toleransi setiap individu. Selain itu, tidak ada perlakuan istimewa bagi Olla sebagai aktris terkenal. Kamar mandi yang digunakan pun harus dibagi dan antre dengan seluruh kru. “Udah itu kamar mandinya bareng-bareng. Jadi, mandinya tuh ngantre. Gak ada VIP, gak ada semua, kita semuanya sama,” ungkapnya. Pengalaman ini justru memperkuat filosofi Olla tentang kebersamaan di lokasi syuting. “Ya, aku sih beranggapan kalau syuting di manapun mau series, sinetron, atau film itu di lokasi syuting itu keluarga kedua. Jadi memang kita harus dekat,” tambahnya. Prinsip ini menunjukkan profesionalisme dan kemampuannya beradaptasi, mengubah kesulitan menjadi kesempatan untuk membangun ikatan yang lebih kuat dengan tim.
Dedikasi dan Kebahagiaan di Balik Layar Walid
Terlepas dari segala tantangan dan momen emosional yang dialaminya, Olla Ramlan menyatakan rasa syukur dan kebahagiaannya bisa menjadi bagian dari proyek Walid. Serial yang digarap oleh sutradara Pali Yahya ini dianggapnya sebagai “kesempatan luar biasa banget” yang memberikan pengalaman berbeda dan berharga. “Aku sangat menghargai karena ini sesuatu yang berbeda, pengalaman berbeda, dan aku happy banget bisa ikut,” pungkasnya. Pengalaman ini tidak hanya menambah portofolio aktingnya tetapi juga memperkaya jiwanya sebagai seorang seniman yang berani keluar dari zona nyaman.
Dalam serial Walid, Olla Ramlan memerankan karakter Raras Kartika, yang menurut referensi tambahan, adalah seorang anak kiai. Peran ini tentu menuntut pendalaman karakter yang signifikan, termasuk adaptasi dengan dialek atau nuansa bahasa Malaysia, meskipun Olla mengakui ada kendala bahasa. Ia beradu akting dengan aktor Malaysia Faizal Hussein, yang sebelumnya telah mencuri perhatian publik dengan aktingnya yang viral di serial Bidaah. Kolaborasi lintas negara ini menciptakan ekspektasi tinggi di kalangan penggemar kedua negara. Serial Walid dijadwalkan tayang mulai tanggal 26 Februari 2026 di platform Viu, menjanjikan tontonan yang tidak hanya menghibur tetapi juga penuh makna, dengan kisah di balik layar yang tak kalah dramatis.
Kisah Olla Ramlan dalam serial Walid adalah bukti nyata bahwa di balik gemerlap dunia hiburan, ada kerja keras, dedikasi, dan pengorbanan yang tak terlihat. Pengalaman syuting di pelosok Malaysia, dengan segala keterbatasan dan tantangannya, telah membentuknya menjadi pribadi dan seniman yang lebih tangguh. Keberaniannya menghadapi kondisi ekstrem, kemampuannya beradaptasi, dan semangatnya untuk terus berkarya patut menjadi inspirasi bagi banyak pihak.

















