Jakarta, sebagai jantung budaya dan hiburan Indonesia, kembali menjadi saksi bisu sebuah penutup yang monumental dalam perjalanan musik seorang talenta muda. Pada Sabtu, 17 Januari 2026, panggung MBloc Live House di bilangan Jakarta Selatan bergemuruh menyambut kedatangan Raissa Anggiani, menandai titik akhir yang emosional dan penuh makna dari rangkaian panjang Kepada, Yang Terhormat Album Tour. Konser penutup ini bukan sekadar pertunjukan musik biasa; ia adalah perayaan atas sebuah karya debut yang personal, sebuah jurnal musikal yang telah menyentuh hati banyak pendengar di berbagai kota. MBloc Live House, dengan reputasinya sebagai salah satu ruang kreatif dan panggung musik independen terkemuka di ibu kota, menyediakan latar yang intim dan otentik, memungkinkan interaksi yang lebih mendalam antara Raissa dan para penggemarnya yang setia.
Malam itu, sorot lampu meredup, dan suasana hening sesaat sebelum Raissa Anggiani muncul di atas panggung, disambut dengan sorakan meriah dari para penonton. Sebagai pembuka, ia memilih lagu Menari, Aku Menari, sebuah komposisi yang dikenal dengan irama syahdu dan lirik puitisnya. Pemilihan lagu ini terasa sangat pas, seolah mengajak setiap individu di ruangan itu untuk sejenak melarutkan diri dalam alunan melodi dan refleksi. Suara merdu Raissa, dipadukan dengan aransemen musik yang menenangkan, segera menciptakan atmosfer magis. Para penonton tampak benar-benar terhanyut, beberapa di antaranya terlihat memejamkan mata, menikmati setiap nada yang mengalir, sementara yang lain ikut bernyanyi pelan, larut dalam emosi yang disampaikan Raissa. Setelah lagu pembuka yang sukses membius audiens, Raissa menyapa dengan hangat, “Hai semuanya selamat malam, perkenalkan nama aku Raissa Anggiani, selamat datang di Album Tour Kepada, Yang Terhormat, di titik terakhir ku du Jakarta, semua kabar baik?” Sapaan ini disambut dengan antusiasme yang membahana, menandakan betapa para penggemar telah menantikan momen ini.
Dalam interaksi awal dengan para penggemar, Raissa tak sungkan mengakui perasaannya yang campur aduk. “Gais, karena ini titik terakhir aku deg-degan banget, I think I’m shaking right now,” tuturnya dengan jujur, memperlihatkan sisi rapuh namun otentik dari seorang seniman di hadapan momen penting. Pengakuan ini tidak hanya menunjukkan kerendahan hatinya, tetapi juga membangun koneksi emosional yang lebih kuat dengan penonton, yang memahami betapa berharganya malam itu bagi Raissa. Ia kemudian menjelaskan bahwa konser malam itu akan dibagi menjadi dua babak yang berbeda, masing-masing dengan nuansa dan tujuan yang unik. Babak pertama didedikasikan sebagai “fase nostalgia,” sebuah kesempatan bagi Raissa untuk membawakan lagu-lagu yang telah mengukir namanya di industri musik, karya-karya yang dirilis sebelum peluncuran album penuh perdananya Kepada, Yang Terhormat. Ini adalah janji untuk membawa penonton kembali ke awal perjalanannya, menghidupkan kembali kenangan indah melalui melodi yang familiar. Sementara itu, babak kedua akan menjadi panggung utama bagi materi-materi dari album terbarunya, memberikan kesempatan bagi penggemar untuk sepenuhnya meresapi kedalaman dan eksplorasi musikal yang ditawarkan oleh karya debutnya itu.
Perjalanan Emosional: Dari Nostalgia ke Kedalaman Album Debut
Babak pertama konser dimulai dengan deretan lagu yang telah akrab di telinga para penggemar. Raissa membawakan Loosing Us, Itu Aku, hingga Berjalan di Atas Waktu secara bergiliran, masing-masing lagu memancarkan pesona dan cerita tersendiri. Setiap lirik dinyanyikan dengan penuh perasaan, dan penonton merespons dengan bernyanyi bersama, menciptakan paduan suara yang indah di seluruh ruangan. Momen kolaborasi menjadi salah satu sorotan di babak ini, ketika Raissa mengundang Satria STM ke atas panggung untuk membawakan lagu if u could see me cryin’ in my room. Duet mereka menghadirkan dinamika baru, perpaduan vokal yang harmonis dan chemistry panggung yang kuat menambah dimensi pada pertunjukan. Satria STM, dengan gaya khasnya, berhasil melengkapi vokal Raissa, menciptakan momen yang tak terlupakan bagi para penonton.
Sebuah kejutan manis tersaji ketika Raissa Anggiani mengambil gitar dan mulai memainkannya untuk lagu Aku Kamu yang Lain. Dengan senyum malu-malu, ia berbagi cerita tentang instrumen barunya, “Aku baru beli gitar baru ini. Niatnya kalau beli berarti harus main, harus dimainin. Jadi maaf kalau banyak kurangnya,” ujarnya, menunjukkan kerendahan hati yang menggemaskan. Meskipun ia merasa masih banyak kekurangan, melodi yang ia petik dari gitar barunya terdengar indah dan menyentuh, menambah keintiman pada penampilan lagu tersebut. Aku Kamu yang Lain kemudian dibawakan dengan penuh penghayatan, diikuti oleh serangkaian lagu populer lainnya seperti & if we don’t belong together, Lagi Lagi, hingga Kau Rumahku yang menjadi penutup babak pertama. Setiap lagu di babak nostalgia ini seolah menjadi jembatan waktu, membawa penonton kembali ke berbagai fase emosional dalam hidup mereka, yang terwakili melalui karya-karya Raissa.
Menggali Kedalaman “Kepada, Yang Terhormat”
Transisi ke babak kedua terasa mulus, namun dengan energi yang berbeda. Kali ini, fokus sepenuhnya beralih ke materi dari album Kepada, Yang Terhormat. Raissa membuka babak ini dengan lagu-lagu seperti Satu Langkah, Gemercik Cinta, dan Jika Nanti. Setiap lagu dari album ini terasa lebih matang, lebih dalam, dan merefleksikan pertumbuhan artistik Raissa. Lirik-liriknya yang puitis dan aransemen musik yang kaya berhasil menciptakan suasana yang introspektif namun tetap memukau. Di lagu Jika Nanti, Raissa kembali menghadirkan kolaborasi yang dinantikan, kali ini dengan Kamga, vokalis yang dikenal dengan suara khas dan pengalaman musikalnya. Duet mereka memberikan interpretasi yang kuat pada lagu tersebut, menambah kedalaman emosi dan kompleksitas vokal yang memukau seluruh penonton. Interaksi antara Raissa dan Kamga di atas panggung menunjukkan harmoni yang luar biasa, memperkaya pengalaman mendengarkan.
Malam itu, Raissa Anggiani tidak hanya sukses membuat penonton terpukau dengan materi album barunya, tetapi juga berhasil menciptakan jembatan emosional antara masa lalu dan masa kini. Kemampuannya untuk membawakan lagu-lagu nostalgia yang telah melambungkan namanya, sekaligus memperkenalkan karya-karya baru dari album Kepada, Yang Terhormat dengan penuh percaya diri dan penghayatan, adalah bukti dari kedewasaan artistiknya. Penonton tidak hanya bernostalgia, tetapi juga diajak untuk tumbuh dan mengeksplorasi dimensi baru dalam musik Raissa. Antusiasme yang tak henti-hentinya dari awal hingga akhir konser menunjukkan betapa kuatnya ikatan yang telah terjalin antara Raissa dan para penggemarnya.


















