Kisah asmara selebritas Ranty Maria dan Rayn Wijaya, yang berawal dari ketidakcocokan di lokasi syuting hingga berujung pada janji suci pernikahan, telah memikat perhatian publik. Perjalanan cinta yang unik ini, diwarnai oleh penolakan awal, persahabatan yang tak terduga, dan pengakuan perasaan yang jujur, akhirnya bermuara pada momen sakral pemberkatan nikah mereka pada Senin, 26 Januari 2026, di sebuah lokasi eksotis di Pulau Dewata, Bali. Dihadiri oleh keluarga dan sahabat terdekat, pernikahan ini menjadi puncak dari komitmen yang telah mereka bangun selama lebih dari lima tahun, membuktikan bahwa cinta sejati seringkali ditemukan di tempat yang paling tidak terduga, bahkan di antara dua insan yang awalnya merasa “bukan tipe satu sama lain.”
Sebelum benih-benih asmara tumbuh, hubungan Ranty dan Rayn diwarnai oleh penolakan yang cukup gamblang. Ranty Maria secara terang-terangan mengungkapkan bahwa Rayn Wijaya bukanlah tipe pria idamannya. “Kamu tuh bukan tipeku dari awal, aku lebih suka pribumi aja, ya udah kita hidup masing-masing aja,” ujarnya, mencerminkan preferensi personal yang kala itu belum bisa menerima sosok Rayn. Penolakan ini bukan tanpa alasan. Saat keduanya dipertemukan dalam proyek sinetron populer Putri untuk Pangeran yang tayang hingga 209 episode, baik Ranty maupun Rayn sama-sama memiliki kehidupan asmara masing-masing. Ranty dikabarkan sedang dekat dengan seorang pria, sementara Rayn juga masih menjalin hubungan. Selain itu, Ranty sendiri mengakui kurang tertarik dengan pria keturunan Tionghoa, sebuah preferensi yang semakin mempertegas jarak di antara mereka pada awalnya. Interaksi mereka di lokasi syuting lebih bersifat profesional dan sebatas rekan kerja, tanpa ada indikasi ketertarikan romantis sama sekali. Bahkan, mereka berdua secara terbuka menyatakan tidak tertarik satu sama lain, mengubur potensi hubungan romantis jauh di dalam benak mereka.
Mulai Merasa Kosong: Ketika Persahabatan Berubah Bentuk
Namun, takdir memiliki jalannya sendiri. Setelah periode waktu tertentu, baik Ranty maupun Rayn sama-sama mengalami fase putus cinta dari pasangan masing-masing. Meskipun mereka tidak pernah secara eksplisit berbagi cerita detail tentang perpisahan mereka, sebuah ikatan emosional yang tak terucapkan mulai terbentuk. Dalam suasana hati yang serupa, mereka secara alami berusaha hadir untuk satu sama lain, memberikan dukungan moral yang mungkin tidak mereka sadari pentingnya pada saat itu. Kedekatan mereka tumbuh secara organik, bermula dari kebiasaan sederhana seperti sering nongkrong bersama setelah syuting atau pulang bareng karena arah rumah yang searah. Pada awalnya, tidak ada niat romantis sama sekali. Interaksi ini murni didasari oleh kenyamanan persahabatan dan praktisnya kebersamaan. Mereka berdua sama-sama tidak menyadari bahwa di balik rutinitas sehari-hari tersebut, sebuah perasaan baru perlahan mulai bersemi, mengubah dinamika hubungan mereka dari sekadar rekan kerja menjadi lebih dari itu.
Titik balik krusial terjadi ketika secara tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas, kontak di antara mereka terputus. Kehilangan komunikasi yang mendadak ini justru menjadi katalisator bagi keduanya untuk menyadari kedalaman perasaan yang telah tumbuh. Rayn Wijaya, khususnya, mulai merasakan adanya kekosongan yang signifikan dalam hidupnya. Absennya Ranty membuat ia menyadari betapa pentingnya kehadiran wanita itu dalam kesehariannya. Rasa kehilangan dan rindu yang mendalam mendorong Rayn untuk memberanikan diri. Ia menghubungi Ranty, bukan lagi sebagai teman biasa, melainkan untuk mengungkapkan rasa rindu yang tak terbendung. Momen ini menjadi pengakuan tak langsung akan perasaan yang selama ini terpendam. Menariknya, Ranty mengisahkan bahwa hubungan mereka tidak diawali dengan “penembakan” atau pernyataan cinta formal seperti kebanyakan pasangan. “Tapi kita belum pacaran ya, ini bener-bener hubungan pertamaku aku enggak ditembak,” ucapnya, menyoroti keunikan dan keaslian cara mereka menjalin ikatan, yang dibangun dari rasa saling membutuhkan dan kenyamanan emosional.
Meminta Kepastian: Mengukuhkan Komitmen
Seiring berjalannya waktu, meskipun perasaan di antara mereka semakin kuat, status hubungan Ranty dan Rayn masih belum jelas. Ranty Maria, dengan kedewasaan dan keberaniannya, tidak ingin larut dalam ketidakpastian. Ia memutuskan untuk mengambil inisiatif dan menanyakan langsung kepada Rayn tentang status hubungan mereka. Momen tersebut, yang Ranty ceritakan sambil tertawa, menggambarkan percakapan yang jujur dan apa adanya. “Jadi kita ini pacaran enggak sih? Kayak gitulah, ‘ya kamu maunya gimana,'” kenang Ranty, menunjukkan keinginannya akan komitmen yang jelas. Pertanyaan ini menjadi pemicu bagi Rayn untuk secara resmi menentukan status hubungan mereka. Pada saat itulah, mereka berdua sepakat untuk memulai babak baru sebagai pasangan kekasih. Mereka secara resmi menetapkan tanggal 26 Maret 2021 sebagai hari jadi hubungan mereka.
Sejak saat itu, Rayn Wijaya tidak pernah ragu untuk secara terbuka menunjukkan rasa cintanya kepada Ranty Maria. Pada perayaan ulang tahun pertama hubungan mereka, Rayn secara gamblang menuliskan pesan manis yang penuh makna, mengukuhkan komitmennya di mata publik. Kebiasaan ini berlanjut. Di anniversary kedua, Rayn bahkan menyatakan bahwa Ranty adalah “pacar terlamanya.” Pernyataan ini bukan sekadar romansa biasa, melainkan indikasi kuat akan keseriusan dan kedalaman hubungan yang telah mereka bangun. Perjalanan cinta mereka yang dimulai sekitar tahun 2020 dan diresmikan pada 2021, terus berlanjut dengan konsisten dan penuh komitmen. Ini membuktikan bahwa hubungan mereka bukanlah kisah romansa instan, melainkan tumbuh perlahan melalui proses panjang yang matang, mengantarkan mereka pada keputusan besar untuk menikah setelah sekitar lima tahun lebih menjalani hubungan pacaran yang serius.
Yakin Pilihannya: Dari Teman Menjadi Pasangan Hidup
Keyakinan Rayn Wijaya terhadap Ranty Maria sebagai pasangan hidupnya semakin menguat seiring waktu. Momen lamaran romantis yang dilakukannya pada tahun 2024 menjadi bukti nyata dari keseriusan niatnya. Rayn mulai menyadari bahwa Ranty adalah sosok yang selama ini ia cari, terutama setiap kali ia merasakan kehilangan yang mendalam saat Ranty jauh darinya. Perasaan ini menjadi konfirmasi bahwa Ranty bukan hanya sekadar kekasih, melainkan bagian integral dari kebahagiaan dan keutuhan hidupnya. Rayn mengungkapkan bahwa fondasi hubungan mereka yang berawal dari persahabatan adalah salah satu faktor kunci yang membuat ikatan mereka begitu kuat dan otentik. “Yang seru, karena aku sama Ranty sama-sama dari temen, jadi genuine, enggak ada yang dibuat-buat,” kata Rayn. Kejujuran dan keaslian ini memungkinkan mereka untuk menjadi diri sendiri sepenuhnya di hadapan satu sama lain, tanpa perlu berpura-pura atau menyembunyikan apapun. Hubungan yang dibangun atas dasar persahabatan yang tulus ini menjadi landasan kokoh bagi mereka untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
Pada akhirnya, perjalanan cinta Ranty Maria dan Rayn Wijaya mencapai puncaknya di pelaminan. Dari PDKT (pendekatan) yang diam-diam, lamaran yang romantis di tahun 2024, hingga akhirnya resmi mengikat janji suci pernikahan pada Senin, 26 Januari 2026, di Bali. Prosesi pemberkatan nikah berlangsung khidmat, disaksikan oleh keluarga dan sahabat terdekat yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang mereka. Kisah mereka adalah testimoni bahwa cinta bisa tumbuh dari benih ketidakcocokan, berkembang dalam persahabatan yang tulus, dan mencapai puncaknya melalui komitmen yang kuat dan saling percaya. Pernikahan ini bukan hanya sekadar akhir dari sebuah babak, melainkan awal dari perjalanan baru bagi Ranty dan Rayn, yang telah membuktikan bahwa cinta sejati adalah tentang menerima, tumbuh bersama, dan memilih satu sama lain, setiap hari.


















