Dunia hiburan Tanah Air tengah diguncang oleh sebuah pengakuan emosional dari penyanyi kenamaan Denada Tambunan yang secara terbuka mengakui Ressa Rizky Rossano sebagai anak kandungnya, sebuah langkah besar yang mengakhiri spekulasi panjang mengenai status hubungan mereka selama bertahun-tahun. Pengakuan ini tidak hanya menjadi titik balik bagi kehidupan pribadi Denada, tetapi juga membawa angin segar bagi Ressa yang selama ini menantikan validasi publik atas identitas dirinya sebagai putra sulung dari sang diva dangdut tersebut sebelum kehadiran Aisha Aurum. Di tengah sorotan kamera di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, baru-baru ini, Ressa mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas keberanian ibunya untuk berbicara jujur kepada khalayak luas, meskipun di balik kebahagiaan tersebut tersimpan kerinduan mendalam yang belum tuntas karena pertemuan fisik di antara keduanya masih menjadi misteri yang dinantikan oleh banyak pihak. Momentum ini menandai babak baru dalam dinamika keluarga mereka, di mana pengakuan verbal kini menuntut realisasi dalam bentuk pertemuan tatap muka yang telah lama diidamkan oleh pemuda tersebut.
Ekspresi kebahagiaan terpancar jelas dari wajah Ressa Rossano saat ia memberikan tanggapan resmi mengenai pengakuan sang ibu yang sempat menghebohkan jagat maya. Dengan nada suara yang penuh haru namun tetap tegar, ia berkali-kali mengucapkan kalimat syukur, “Alhamdulillah,” sebagai bentuk apresiasi tertinggi atas pengakuan yang telah ia nantikan. Bagi Ressa, pengakuan ini bukan sekadar urusan status hukum atau formalitas belaka, melainkan sebuah bentuk penerimaan batiniah yang sangat berarti bagi perjalanan hidupnya ke depan. Ia merasa beban yang selama ini mungkin ia pikul kini telah terangkat sebagian, seiring dengan kesediaan Denada untuk membuka tabir yang selama ini menyelimuti hubungan darah mereka. Namun, di balik kata-kata syukur tersebut, terselip sebuah harapan yang sangat manusiawi: keinginan untuk merasakan kehadiran fisik seorang ibu yang selama ini hanya bisa ia saksikan dari kejauhan atau melalui layar kaca. Kebahagiaan Ressa terasa belum mencapai puncaknya karena ia merasa ada potongan teka-teki yang masih hilang, yakni sebuah pelukan hangat dan percakapan langsung dari hati ke hati tanpa perantara media atau pihak ketiga.
Kerinduan yang Tak Terbendung: Ambisi Ressa untuk Bertemu Sang Ibu
Meskipun rasa senang menyelimuti hatinya, Ressa Rossano secara gamblang menyatakan bahwa dirinya belum merasa puas sepenuhnya hanya dengan pengakuan di media sosial atau pernyataan publik. Ia menegaskan bahwa keinginannya yang paling utama saat ini adalah untuk segera ditemui oleh Denada secara langsung. “Tapi Ressa juga pengin ditemuin. Senang pasti, juga menjalin hubungan yang baik,” ungkapnya dengan penuh harap di hadapan awak media. Keinginan ini mencerminkan kebutuhan emosional seorang anak yang ingin membangun kembali jembatan komunikasi yang sempat terputus atau bahkan belum pernah terbangun secara kokoh. Ressa memimpikan sebuah pertemuan yang tidak hanya bersifat formal, tetapi juga menjadi sarana untuk menjalin hubungan kekeluargaan yang lebih harmonis dan sehat di masa depan. Baginya, pengakuan adalah pintu masuk, namun pertemuan fisik adalah kunci untuk benar-benar memulai lembaran baru sebagai keluarga yang utuh, meskipun dalam tatanan yang mungkin berbeda dari keluarga pada umumnya.
Fakta yang cukup mengejutkan terungkap bahwa hingga saat ini, Ressa Rossano ternyata belum pernah menjalin komunikasi langsung secara intens dengan Denada, bahkan setelah pengakuan tersebut mencuat ke publik. Hal ini menambah urgensi bagi dirinya untuk segera merealisasikan pertemuan tersebut sesegera mungkin guna menghindari kesalahpahaman yang lebih jauh. Ressa menyampaikan bahwa dirinya sangat ingin duduk bersama, berbicara, dan mungkin mengenal lebih jauh sosok ibunya dalam kapasitas yang lebih pribadi. Keinginan ini juga didorong oleh niat baik untuk menjalin silaturahmi yang berkelanjutan, bukan sekadar mencari sensasi atau popularitas sesaat di tengah sorotan media. Ia berharap Denada dapat meluangkan waktu di tengah kesibukannya yang padat untuk mewujudkan impian sederhana seorang anak yang hanya ingin diakui keberadaannya secara nyata melalui kehadiran fisik dan interaksi langsung.
Langkah Denada dan Dukungan Lingkaran Terdekat
Di sisi lain, Denada sendiri dikabarkan telah menunjukkan itikad yang sangat positif untuk memperbaiki hubungan ini. Berdasarkan informasi dari lingkaran terdekatnya, sang penyanyi sudah menyampaikan permintaan maaf yang tulus dan mengakui Ressa Rossano sebagai darah dagingnya sendiri. Sahabat sekaligus manajer Denada, Risna Ories, memberikan kesaksian bahwa Denada sebenarnya sangat ingin segera memeluk Ressa dan mempertemukannya dengan adiknya, Aisha Aurum. Risna memastikan bahwa Denada sama sekali tidak menutup diri terhadap kehadiran Ressa; justru sebaliknya, Denada merasa sangat bahagia kini bisa secara terbuka mengakui bahwa ia memiliki seorang putra yang luar biasa. “Bahkan, berkali-kali dia bercerita ke saya tetapi detail seperti apa biar Mbak Denada yang bicara. Dia sudah meminta untuk bertemu Ressa, hanya memang tinggal menunggu waktu saja,” ujar Risna Ories yang menegaskan bahwa kendala utama saat ini hanyalah masalah sinkronisasi waktu dan kondisi yang tepat agar pertemuan tersebut dapat berlangsung secara sakral dan penuh kedamaian.
Perubahan signifikan juga terlihat pada platform media sosial Denada, di mana ia secara simbolis mengubah bio di akun Instagram pribadinya sebagai bentuk validasi atas status Ressa sebagai anaknya. Langkah ini dianggap oleh banyak pakar komunikasi sebagai bentuk pernyataan sikap yang sangat kuat dan permanen di era digital. Selain itu, kuasa hukum Denada juga telah mengambil langkah-langkah prosedural untuk merespons situasi ini, termasuk permintaan untuk meninjau kembali atau mencabut gugatan tertentu demi menciptakan suasana yang lebih kondusif bagi rekonsiliasi keluarga. Denada tampaknya ingin memastikan bahwa ketika pertemuan itu terjadi, tidak ada lagi ganjalan hukum atau konflik kepentingan yang dapat merusak momen emosional tersebut. Fokus utamanya kini adalah bagaimana menyatukan kembali potongan-potongan keluarganya dalam sebuah harmoni yang baru, sembari tetap menjaga privasi dan kenyamanan semua pihak yang terlibat.
Menata Masa Depan: Antara Pengakuan dan Batasan Kehidupan Pribadi
Menariknya, meskipun Ressa Rizky Rossano memiliki keinginan yang sangat besar untuk bertemu dan menjalin hubungan dengan Denada serta Aisha, ia menunjukkan kedewasaan yang luar biasa dengan menyatakan keengganannya untuk tinggal bersama dalam satu atap untuk saat ini. Ressa menegaskan bahwa dirinya ingin membangun hubungan yang baik tanpa harus mengubah tatanan tempat tinggal atau gaya hidup yang sudah ia jalani selama ini. Keputusan ini menunjukkan bahwa Ressa menghargai ruang pribadi masing-masing dan ingin proses adaptasi ini berjalan secara alami tanpa ada paksaan atau perubahan drastis yang bisa memicu tekanan emosional baru. Ia lebih memilih untuk menjadi bagian dari kehidupan Denada sebagai pendukung dari luar yang selalu ada, daripada harus memaksakan integrasi total yang mungkin belum siap dihadapi oleh semua pihak secara psikologis. Fokusnya tetap pada kualitas hubungan, bukan pada kuantitas waktu yang dihabiskan dalam satu rumah.
Keinginan Ressa untuk bertemu dengan adiknya, Aisha Aurum, juga menjadi poin penting yang ia soroti. Ia ingin menjalankan perannya sebagai kakak laki-laki yang bisa memberikan dukungan moral bagi adiknya, terutama mengingat perjuangan kesehatan yang pernah dilalui oleh Aisha. Ressa melihat pengakuan ini sebagai kesempatan emas untuk memperluas jaringan kasih sayang dalam keluarganya, di mana ia bisa menjadi sosok pelindung bagi Aisha. Dengan adanya dukungan dari manajemen Denada dan keinginan kuat dari kedua belah pihak, publik kini hanya tinggal menunggu momen bersejarah ketika ibu dan anak ini akhirnya bersatu kembali dalam sebuah pertemuan yang penuh haru. Kasus ini menjadi pengingat bagi banyak orang tentang pentingnya kejujuran, pemaafan, dan keberanian untuk menghadapi masa lalu demi masa depan yang lebih cerah dan penuh kedamaian emosional.
















