Ringkasan Berita:
- Manohara adalah seorang model dan aktris tanah air yang sedang diperbincangkan karena pengakuannya tentang sang ibu.
- Hubungannya dengan ibunya sudah terputus sejak lama.
- Ada trauma masa lalu yang membuatnya meninggalkan ibunya, salah satunya adalah praktik ilmu hitam.
TRIBUNNEWSSULTRA.COM – Kisah hidup seorang figur publik seringkali menjadi santapan khalayak ramai, namun jarang ada yang seintens dan sepersonal pengakuan yang baru-baru ini dilontarkan oleh Manohara Odelia Pinot. Model dan aktris kenamaan Tanah Air ini kembali menyita perhatian publik dengan sebuah pernyataan yang menggemparkan, mengungkap sisi gelap dari masa lalunya yang selama ini tersembunyi rapat. Pengakuan blak-blakan ini, yang disampaikannya secara terbuka melalui platform media sosial pribadinya, bukan sekadar curahan hati biasa, melainkan sebuah tabir yang terbuka lebar tentang hubungan rumit dan penuh luka dengan ibunya, Daisy Fajarina. Manohara secara eksplisit menyatakan bahwa ia kini tidak lagi hidup bersama sang ibu, sebuah fakta yang bukan didasari oleh kemandirian semata, melainkan oleh rentetan permasalahan mendalam yang telah lama membayangi relasi ibu dan anak ini. Curhatannya tersebut dengan cepat menyebar dan menjadi viral, memicu gelombang simpati dan perdebatan di kalangan warganet, seiring Manohara mengungkap perasaan traumanya yang mendalam akibat perlakuan dari wanita yang melahirkannya itu.
Dalam serangkaian unggahan di Instagram Story, Manohara tanpa ragu dan dengan keberanian yang luar biasa, secara gamblang menuding ibunya telah lama terlibat dalam praktik ilmu hitam. Tuduhan ini bukan sekadar klaim tanpa dasar, melainkan berakar pada pengalaman pribadi Manohara yang mengerikan selama masa kecilnya. Ia menceritakan bagaimana dirinya, sejak usia belia, dipaksa untuk mengikuti berbagai kegiatan dan ritual yang berbau mistis, sebuah pengalaman yang sangat membingungkan dan menakutkan bagi seorang anak, apalagi dengan latar belakang blasteran yang mungkin membuatnya kurang familiar dengan tradisi semacam itu. Manohara bahkan mengungkapkan kesulitan emosionalnya dalam menyebut Daisy Fajarina sebagai ibunya, sebuah pernyataan yang menggarisbawahi betapa parahnya luka batin yang ia alami. “Saya bahkan kesulitan menyebutnya sebagai ibuku, karena tindakannya bertentangan dengan setiap definisi kemanusiaan tentang bagaimana seharusnya seorang ibu,” tulis Manohara dalam bahasa Inggris, sebuah kalimat yang menggema kuat di benak publik, dikutip pada Rabu (21/1/2026).
Manohara melanjutkan pengungkapannya dengan menceritakan detail-detail yang lebih mengerikan tentang masa kecilnya. Ia mengaku bahwa sejak kecil, dirinya seringkali dibawa mengunjungi dukun atau orang pintar atas permintaan sang ibu. Lokasi-lokasi seperti Sukabumi dan Bogor disebut Manohara sebagai tempat-tempat di mana ia dipaksa menghadapi praktik-praktik spiritual yang gelap. Menurut Manohara, alasan ibunya membawanya ke dukun-dukun tersebut adalah karena ia dianggap tidak patuh dan memiliki “sesuatu yang jahat” di dalam dirinya, sebuah justifikasi yang meresahkan dan sarat akan manipulasi. Ia secara spesifik mengingat bagaimana dirinya dipaksa untuk mengikuti ritual mandi dengan minyak-minyak tertentu, serta minum air ritual yang tidak diketahui asal-usulnya. Pengalaman-pengalaman ini, bagi Manohara, adalah bentuk penyiksaan yang meninggalkan jejak trauma mendalam. “Saya dipaksa minum air ritual, mandi dengan minyak, dan menjalani praktik-praktik yang menakutkan. Pengalaman ini traumatis dan terus membekas hingga saya dewasa,” ungkapnya pilu, menggambarkan betapa kuatnya dampak psikologis dari peristiwa-peristiwa tersebut yang masih memengaruhinya hingga kini.
Dalam konteks pengakuannya, Manohara juga menegaskan bahwa tindakan-tindakan ibunya sama sekali tidak mencerminkan ajaran agama yang benar. Ia secara tegas membedakan praktik ilmu hitam yang dialaminya dari ajaran Islam, agama yang dianutnya. Baginya, apa yang ia alami adalah murni bentuk pelecehan yang dibungkus rapi dengan alasan-alasan mistis atau spiritual. “Ini bukan Islam. Ilmu hitam dilarang dalam Islam. Saya punya banyak teman Muslim, dan mereka tidak mempraktikkan apa yang ia lakukan,” tegas Manohara, membantah segala upaya untuk membenarkan praktik-praktik tersebut atas nama agama. Pernyataan ini tidak hanya berfungsi sebagai klarifikasi, tetapi juga sebagai seruan untuk menolak segala bentuk kekerasan dan manipulasi yang berlindung di balik kedok kepercayaan atau tradisi, menyoroti pentingnya membedakan antara spiritualitas yang sehat dengan praktik-praktik yang merugikan dan dilarang secara moral maupun agama.
Selama bertahun-tahun, di mata publik, hubungan antara Manohara dan Daisy Fajarina tampak harmonis dan penuh kasih sayang. Citra ini seringkali ditampilkan di media, menciptakan persepsi publik yang positif tentang keluarga mereka. Namun, Manohara kini mengakui bahwa kedekatan yang terlihat itu hanyalah sebuah kedok, sebuah pencitraan yang dibangun demi menjaga reputasi dan penampilan di mata masyarakat. Di balik layar, ia mengaku menjadi korban kekerasan fisik yang berulang, manipulasi emosional yang cerdik, serta penyiksaan emosional dan psikologis yang berlangsung dalam jangka waktu sangat panjang. Pengakuan ini membuka mata publik terhadap realitas pahit di balik fasad yang sempurna, menunjukkan betapa seringnya penderitaan tersembunyi di balik senyum dan penampilan yang meyakinkan. Kini, setelah mampu hidup mandiri dan melepaskan diri dari kontrol penuh sang ibu, Manohara mengambil langkah drastis namun esensial: ia memilih untuk memutuskan hubungan secara total. Keputusan ini diambil demi kesehatan mental dan kebahagiaannya sendiri, sebuah langkah berani untuk memutus lingkaran toksik yang telah lama menjeratnya.
Masa Lalu Manohara: Lingkaran Kekerasan yang Tak Berujung


















