Sebuah pertarungan epik siap tersaji di gelaran puncak Piala Asia Futsal 2026. Tim Nasional Futsal Indonesia akan menghadapi raksasa Asia, Iran, dalam laga final yang dijadwalkan pada Sabtu, 7 Februari, pukul 19:00 WIB, di megah Indonesia Arena. Di tengah euforia dan ketegangan yang menyelimuti, pelatih Timnas Futsal Indonesia, Hector Souto, dengan berani melancarkan ‘psywar’ strategis. Pelatih asal Spanyol itu menyatakan timnya sama sekali tidak merasakan tekanan, bahkan menyoroti riwayat kelam Iran yang kerap takluk di tangan tim-tim yang dibesut oleh juru taktik asal Spanyol. Ini bukan hanya pertarungan taktik di lapangan, melainkan juga perang mental yang krusial, di mana Indonesia mengukir sejarah baru sementara Iran memikul beban ekspektasi untuk mempertahankan dominasi mereka.
Komentar Souto, yang disampaikan dalam konferensi pers pralaga, bukan sekadar pernyataan biasa; ini adalah deklarasi filosofi dan taktik psikologis. “Tekanan adalah hal lain, bukan futsal. Futsal bukan tekanan. Futsal adalah kesenangan. Itu sangat berbeda, oke?” tegas Souto, menolak anggapan bahwa timnya harus gentar menghadapi superioritas Iran. Baginya, esensi futsal adalah kegembiraan dan kebebasan berekspresi, bukan beban yang menghimpit. Lebih lanjut, ia menggarisbawahi posisi unik Indonesia: “Bagaimana kami bisa merasakan tekanan jika ini pertama kalinya kami berada di final?” Pernyataan ini secara cerdik membebaskan anak asuhnya dari beban mental, mengubah status “underdog” menjadi keuntungan psikologis. Sebaliknya, ia membalikkan narasi, menunjuk Iran sebagai pihak yang seharusnya merasakan tekanan jauh lebih besar.
Analisis Souto terhadap kondisi mental Iran didasarkan pada rekam jejak dominasi mereka yang luar biasa di kancah futsal Asia. Iran, yang dikenal sebagai “raksasa Asia”, memiliki tradisi panjang sebagai juara dan selalu menjadi favorit utama. “Jika Iran memainkan 105 pertandingan di AFC dan hanya kalah 4 kali, di mana tekanan kami?” tanya Souto retoris. Ia melanjutkan, “Iran pasti merasakan tekanan. Iranlah yang harus memenangkan pertandingan. Iran memiliki tradisi menjadi juara di AFC. Mereka memiliki kualitas, mereka memiliki banyak pemain yang bermain di luar negeri, mereka memiliki pemain-pemain kuat, ekosistem yang baik sejak awal.” Pernyataan ini secara gamblang menyoroti tekanan masif yang diemban Iran untuk mempertahankan gelar dan reputasi mereka. Mereka memiliki ekosistem futsal yang solid, didukung oleh pemain-pemain kelas dunia yang berkarier di luar negeri, menjadikannya sebuah kekuatan yang sangat sulit ditaklukkan.
Souto kemudian memperdalam ‘psywar’nya dengan menyoroti statistik yang lebih spesifik dan mungkin menjadi “mimpi buruk” bagi Iran. “Dalam 17 kali (Piala Asia Futsal), mereka menang 13 kali. Mereka selalu mencapai final. Hanya pada 2012 mereka kalah di semifinal melawan Thailand 5-4. Hal baiknya adalah mereka kalah dua kali melawan Rodrigo, yang berasal dari Spanyol. Dan mereka kalah melawan Pulpis pada 2012, yang juga berasal dari Spanyol. Dan saya tidak tahu apakah Anda tahu dari mana saya berasal? Oke,” tandasnya dengan nada penuh percaya diri, menyiratkan bahwa dirinya, sebagai pelatih asal Spanyol, bisa menjadi ancaman serupa bagi Iran. Ini adalah sebuah sindiran tajam yang bertujuan mengganggu fokus lawan, mengingatkan mereka pada momen-momen pahit di masa lalu.
Sejarah Kelam Iran di Tangan Taktisi Spanyol
Memang, sejarah mencatat beberapa kekalahan signifikan Iran di Piala Asia Futsal yang melibatkan pelatih asal Spanyol, fakta yang menjadi landasan kuat bagi kepercayaan diri Hector Souto. Pada Piala Asia Futsal 2006, misalnya, Iran mengalami kekalahan telak 1-5 dari Jepang di babak semifinal. Jepang kala itu diasuh oleh pelatih asal Spanyol, Rodrigo Candelas. Kekalahan dengan margin besar ini menjadi salah satu noda dalam rekam jejak Iran yang dominan. Delapan tahun kemudian, pada Piala Asia Futsal 2014, Rodrigo Candelas kembali menjadi momok bagi Iran. Di partai final, Jepang asuhan Rodrigo berhasil mengalahkan Iran melalui adu penalti dengan skor 3-0, setelah bermain imbang di waktu normal. Kekalahan di final ini tentu sangat menyakitkan bagi tim sekelas Iran yang terbiasa menjadi juara.

















