Jakarta, IDN Times – Film horor terbaru, Tolong Saya! (Dowajuseyo), telah berhasil mencuri perhatian publik dan kritikus dengan pendekatan naratifnya yang unik dan berani. Karya sinema ini tidak hanya menyajikan kengerian supranatural, tetapi juga secara mendalam mengangkat isu sensitif kekerasan terhadap perempuan, membungkusnya dalam balutan horor yang sarat emosi. Disutradarai oleh duo sineas berbakat Nur Muhammad Taufik dan Sjahfasyat Bianca, film ini menawarkan sebuah pengalaman sinematik yang memprovokasi pemikiran, memantik rasa penasaran penonton melalui perpaduan cerdas antara mitologi Korea Selatan yang kaya dengan latar belakang karakter-karakter Indonesia yang akrab. Keberanian film ini dalam mengeksplorasi tema-tema berat melalui genre horor menjadikannya sebuah tontonan yang relevan dan penting di tengah diskursus sosial saat ini, menyoroti bagaimana trauma dan ketidakadilan dapat termanifestasi dalam bentuk yang paling menakutkan.
Antusiasme terhadap film ini semakin memuncak pasca-konferensi pers eksklusif yang diselenggarakan usai pemutaran perdana di XXI Epicentrum pada Rabu, 21 Januari 2026. Dalam sesi tanya jawab yang berlangsung intens tersebut, para pemain utama dan sutradara secara terbuka membeberkan detail-detail krusial mengenai inspirasi di balik naskah, khususnya terkait akar mitologi yang menjadi tulang punggung cerita, serta bagaimana mereka menyelaraskan kisah nyata yang melatarinya dengan kebutuhan dramatisasi sinema. Diskusi tersebut memberikan wawasan mendalam tentang proses kreatif di balik layar, menjelaskan bagaimana tim produksi berupaya menciptakan sebuah karya horor yang tidak hanya menakutkan secara visual, tetapi juga memiliki resonansi emosional dan pesan sosial yang kuat, menjadikannya lebih dari sekadar film horor biasa.
Terinspirasi dari Mitos Lokal Korea: Kedalaman Kisah Wonhon
Salah satu elemen paling menarik dari Tolong Saya! (Dowajuseyo) adalah pondasi mitologisnya yang kuat, berakar pada kepercayaan lokal Korea. Pemeran utama, Saskia Chadwick, yang memerankan karakter sentral, Tania, mengungkapkan bahwa perannya secara mendalam bersinggungan dengan entitas supranatural bernama Min Yong, sesosok arwah pendendam yang didasarkan pada mitos Korea yang dikenal sebagai Wonhon. Dalam konferensi pers, Saskia dengan jujur mengakui keterbatasannya dalam memahami sepenuhnya detail mitos tersebut, namun ia sempat mendengar penjelasan dari lawan mainnya, Dito Darmawan, mengenai esensi Wonhon.
Dito Darmawan kemudian menjelaskan secara rinci bahwa Wonhon adalah sebuah kepercayaan yang sangat mengakar dalam budaya Korea, merujuk pada arwah-arwah yang dipenuhi dendam kesumat akibat kematian yang tidak wajar atau tidak adil. Fenomena Wonhon seringkali diasosiasikan dengan individu yang meninggal karena kekerasan, pengkhianatan, atau ketidakadilan sistemik, sehingga arwah mereka tidak bisa beristirahat dengan tenang dan terus gentayangan mencari keadilan atau pembalasan. “Jadi, di Korea itu ada kultur atau kepercayaan bernama Wonhon, di mana ada seorang perempuan yang, maaf, meninggal, karena alasan yang tidak wajar. Kemudian arwah beliau bangkit untuk mencari tahu jawaban kenapa dia meninggal,” jelas Dito, memberikan gambaran yang jelas tentang karakteristik Min Yong dalam film. Konsep Wonhon ini memberikan lapisan horor yang lebih dalam, tidak hanya mengandalkan ketakutan jump-scare, tetapi juga kengerian yang berasal dari ketidakadilan dan penderitaan manusia, menjadikannya sebuah kritik sosial yang terbungkus dalam balutan supernatural.
Adaptasi Kreatif: Dari Kisah Nyata Beby Salsabila Menjadi Dramatisasi Sinematik
Meskipun memiliki akar yang kuat pada pengalaman nyata, sutradara Nur Muhammad Taufik secara tegas menjelaskan bahwa Tolong Saya! (Dowajuseyo) tidak dirancang sebagai replika verbatim dari kisah penulisnya, Beby Salsabila. Kisah personal Beby, yang ia alami saat menempuh pendidikan di Korea Selatan, memang menjadi percikan inspirasi utama, namun tim produksi melakukan adaptasi dan pengembangan signifikan agar cerita lebih menarik dan sesuai dengan medium film. “Dalam arti kisah nyata apa yang dialami Kak Beby. Tapi struktur cerita kami kembangkan agar lebih menarik. Apa yang terjadi dengan Kak Beby kami sesuaikan dengan kebutuhan film. Jadi untuk kisah nyata, film ini tidak 100 persen,” terang Taufik, menyoroti proses kreatif di balik layar yang melibatkan penyesuaian untuk mencapai efek dramatis yang maksimal.
Beby Salsabila sendiri membagikan pengalaman personalnya yang mengerikan pada musim panas Juli 2023. Saat itu, ia menghabiskan waktu hingga pukul 04.00 pagi untuk belajar di sebuah study cafe di Korea Selatan. Baru kemudian ia menyadari bahwa kafe tersebut ternyata berdiri di atas area bekas pemakaman, sebuah detail yang menambah nuansa mistis pada pengalamannya. Di lokasi itulah, Beby pertama kali melihat sosok perempuan hamil yang kemudian ia kenali sebagai Min Yong. Keanehan semakin terasa karena “Yang bikin bingung, enggak ada orang lain yang notice sosok itu. Aku sampai tanya teman, tapi katanya enggak lihat siapa-siapa,” kenang Beby, menggambarkan isolasi dan kengerian yang ia rasakan. Puncak dari pengalaman tersebut terjadi menjelang pagi, ketika sosok misterius itu berjalan keluar sendirian. Didorong rasa panik bercampur iba, Beby mengejar, hanya untuk mendapati kenyataan pahit yang mengguncang jiwanya: yang ia kejar bukanlah manusia. Pengalaman traumatis ini, dengan segala elemen kengerian dan kesendiriannya, menjadi fondasi emosional yang kuat bagi narasi film, meskipun telah diolah dan diperkaya untuk kebutuhan sinematik.
Plot dan Tema Mendalam: Kisah Tania dan Misteri Min Yong dalam Tolong Saya! (Dowajuseyo)
Inti cerita Tolong Saya! (Dowajuseyo)


















