Dalam sebuah pengungkapan yang menarik perhatian publik, selebritas multitalenta Tengku Dewi Putri secara resmi mengonfirmasi keputusannya untuk kembali menekuni profesi lamanya sebagai seorang disjoki (DJ). Konfirmasi ini datang langsung dari Tengku Dewi saat menjadi bintang tamu di salah satu program televisi populer, Pagi-pagi Ambyar di Trans TV, baru-baru ini. Keputusan ini bukan sekadar nostalgia karier, melainkan sebuah langkah strategis yang didasari oleh keinginan mendalam untuk menemukan kebahagiaan pribadi, mengurangi tingkat stres pasca-perceraian, dan menyeimbangkan tuntutan karier dengan perannya sebagai seorang ibu tunggal melalui jadwal kerja yang lebih fleksibel. Kabar ini sontak menjadi perbincangan hangat, mengingat Tengku Dewi telah cukup lama vakum dari dunia hiburan malam, terutama setelah fokus pada kehidupan rumah tangga dan mengurus buah hatinya.
Pengakuan Tengku Dewi Putri di hadapan jutaan pemirsa televisi mengakhiri spekulasi yang beredar luas mengenai aktivitas barunya. Wanita berusia 38 tahun ini, yang juga dikenal sebagai mantan istri aktor Andrew Andika, dengan lugas menyatakan, “Iya (kembali jadi DJ).” Pernyataan singkat namun padat itu membuka tirai di balik alasan-alasan yang lebih kompleks. Setelah lebih dari satu tahun melewati proses perceraian yang tidak mudah dan beradaptasi dengan status barunya sebagai ibu tunggal, Tengku Dewi merasa perlu untuk menemukan kembali pijakan dan identitas dirinya, tidak hanya sebagai seorang ibu, tetapi juga sebagai seorang individu yang memiliki passion dan kebutuhan akan ekspresi diri. Kembalinya ia ke panggung DJ menandai babak baru dalam hidupnya, sebuah periode di mana ia memprioritaskan kesehatan mental dan kebahagiaan pribadinya.
Mengurai Benang Stres: DJ sebagai Katarsis Emosional
Alasan utama yang mendorong Tengku Dewi Putri kembali ke balik meja putar adalah kebutuhan fundamental akan kebahagiaan dan keinginan untuk melepas stres yang mungkin menumpuk. “Tahu enggak kenapa aku balik lagi? Biar enggak stres,” ungkapnya dengan jujur. Pernyataan ini memberikan gambaran mendalam tentang tekanan yang mungkin ia alami, baik dari kehidupan pribadi maupun tuntutan profesi sebelumnya. Dunia hiburan, dengan segala dinamikanya, seringkali membawa beban emosional yang signifikan. Ditambah lagi dengan transisi kehidupan pasca-perceraian dan tanggung jawab mengasuh anak seorang diri, tingkat stres dapat meningkat drastis. Bagi Tengku Dewi, DJing bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah katarsis, sebuah wadah untuk menyalurkan energi, emosi, dan menemukan kegembiraan melalui musik.

















