Sebuah pukulan telak menghantam Cong An Ha Noi (CAHN) FC, pesaing Persib Bandung di ajang AFC Champions League Two (ACL Two) 2025/2026. Klub asal Vietnam ini secara mengejutkan dinyatakan kalah walkover (WO) dengan skor 0-3 melawan Tampines Rovers dari Singapura, meskipun pada pertandingan leg pertama mereka berhasil meraih kemenangan telak 4-0. Keputusan drastis ini, yang diumumkan oleh Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), berakar pada pelanggaran administratif serius terkait pendaftaran dan penurunkan pemain yang tidak memenuhi syarat. Insiden ini tidak hanya menggagalkan kemenangan di lapangan, tetapi juga menjerat CAHN FC pada sanksi finansial yang signifikan, mengubah drastis peta persaingan di babak 16 besar kompetisi prestisius ini.

Pelanggaran Administratif Berujung Sanksi Berat
Jantung dari sanksi yang dijatuhkan AFC kepada CAHN FC terletak pada pelanggaran terhadap beberapa pasal krusial dalam regulasi kompetisi. Berdasarkan dokumen resmi, CAHN FC dinyatakan melanggar Pasal 56 dan Pasal 67 ayat 1 dari Kode Disiplin dan Etik AFC. Lebih spesifik lagi, pelanggaran ini juga berkaitan erat dengan ketentuan yang tertuang dalam Pasal 25 Regulasi Kompetisi ACL Two 2025/2026. Inti dari pelanggaran ini adalah terkait dengan status pemain yang diturunkan dalam pertandingan melawan Tampines Rovers.
Berdasarkan investigasi dan bukti yang dikumpulkan, AFC menemukan bahwa CAHN FC telah menurunkan dua pemain yang tidak memenuhi kualifikasi atau persyaratan yang ditetapkan oleh regulasi AFC untuk berkompetisi di ACL Two. Ketidaksesuaian ini bisa bermacam-macam, mulai dari masalah pendaftaran, status transfer, hingga pemenuhan kriteria kewarganegaraan atau izin bermain yang sah. Penurunan pemain ilegal ini, terlepas dari niat klub, merupakan sebuah pelanggaran berat yang tidak dapat ditoleransi oleh otoritas sepak bola tertinggi di Asia.
Konsekuensi dari pelanggaran ini sangatlah fatal. Keputusan AFC secara resmi membatalkan kemenangan 4-0 yang diraih CAHN FC di lapangan. Pertandingan tersebut kini dianggap tidak sah, dan CAHN FC dinyatakan kalah secara walkover (WO) dengan skor akhir 0-3. Skor ini ditetapkan sebagai hasil kekalahan otomatis bagi CAHN FC, menggantikan skor yang sebenarnya terjadi di lapangan. Keputusan ini mengindikasikan bahwa AFC mengambil sikap tegas untuk menjaga integritas dan keadilan kompetisi, di mana setiap klub wajib mematuhi aturan yang berlaku tanpa terkecuali.
Dampak Finansial dan Implikasi Strategis bagi CAHN FC
Sanksi yang dijatuhkan AFC tidak hanya berhenti pada pembatalan kemenangan dan kekalahan WO. CAHN FC juga harus menanggung beban finansial yang tidak sedikit akibat kelalaian mereka. Klub ini diwajibkan membayar denda sebesar USD 2.000, yang jika dikonversikan ke dalam mata uang Rupiah setara dengan Rp 33 juta. Denda ini memiliki batas waktu pembayaran, yaitu dalam kurun waktu 30 hari sejak tanggal keputusan sanksi tersebut disampaikan secara resmi oleh AFC.
Namun, sanksi finansial yang lebih memberatkan adalah pemotongan dana partisipasi. CAHN FC harus rela kehilangan 50 persen dari total hak biaya partisipasi yang seharusnya mereka terima. Nilai partisipasi awal yang ditetapkan untuk klub adalah sebesar USD 80.000 (sekitar Rp 1,3 miliar). Dengan pemotongan 50 persen, AFC tidak akan membayarkan sejumlah USD 40.000, atau setara dengan Rp 673 juta, kepada klub tersebut. Hilangnya sebagian besar dana partisipasi ini tentu akan berdampak signifikan pada keuangan klub, terutama untuk operasional dan pengembangan tim di masa mendatang.
Secara strategis, kondisi ini menjadi pukulan telak bagi ambisi CAHN FC di ACL Two. Peluang mereka untuk melaju ke babak perempat final kini menjadi sangat tipis. Pada pertandingan leg kedua, CAHN FC dijadwalkan akan bertandang ke markas Tampines Rovers di Jalan Besar Stadium, Singapura, pada hari Rabu, 18 Februari. Dengan kekalahan WO 0-3 di leg pertama, mereka kini dihadapkan pada tugas yang sangat berat. Untuk bisa membalikkan keadaan dan lolos ke babak selanjutnya, CAHN FC harus mampu meraih kemenangan dengan selisih skor yang sama persis seperti kekalahan mereka di leg pertama, yaitu minimal 4-0, atau bahkan lebih besar lagi, untuk bisa unggul agregat.

Situasi ini juga secara tidak langsung memberikan keuntungan bagi pesaing lain di grup yang sama, termasuk Persib Bandung. Dengan tersingkirnya salah satu rival potensial, peta persaingan menjadi sedikit berubah. Keputusan AFC ini menjadi pengingat keras bagi seluruh klub peserta kompetisi internasional mengenai pentingnya kepatuhan terhadap regulasi, terutama dalam hal administrasi pemain. Kesalahan kecil dalam administrasi bisa berakibat fatal dan merusak kerja keras tim di lapangan.

















