Jakarta, IDN Times – Dalam sebuah keputusan yang mengakhiri rentetan peristiwa hukum yang panjang dan penuh gejolak, Pengadilan Distrik Nara di Jepang pada Rabu (21/1/2026) waktu setempat secara resmi menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Tetsuya Yamagami, terdakwa tunggal dalam kasus pembunuhan mantan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe.
Keputusan pengadilan ini menandai titik akhir dari proses persidangan yang memakan waktu lebih dari tiga setengah tahun, sebuah periode yang diwarnai oleh kompleksitas hukum dan perlawanan yang signifikan dari pihak terdakwa. Alotnya persidangan mencerminkan kedalaman emosi dan perdebatan yang mengelilingi kasus ini, yang mengguncang fondasi politik dan sosial Jepang.
Jaksa penuntut umum, dalam argumen penutup mereka, secara tegas menyatakan bahwa hukuman penjara seumur hidup adalah sanksi yang paling setimpal dan proporsional bagi Yamagami. Mereka menggambarkan tindakan pembunuhan terhadap Shinzo Abe sebagai sebuah perbuatan yang sangat keji, tidak bermoral, dan merupakan serangan langsung terhadap tatanan demokrasi Jepang. Penekanan diberikan pada dampak luas dari kejahatan ini, tidak hanya bagi keluarga korban tetapi juga bagi masyarakat Jepang secara keseluruhan.
Analisis Mendalam: Tuntutan Jaksa dan Pembelaan Pengacara
Selama proses persidangan berlangsung, tim kuasa hukum Tetsuya Yamagami telah berupaya keras untuk mengajukan permohonan hukuman yang lebih ringan bagi klien mereka. Permohonan tersebut secara spesifik meminta agar hukuman yang dijatuhkan tidak melebihi batas maksimal 20 tahun penjara. Argumen pembelaan kemungkinan besar berfokus pada faktor-faktor yang meringankan, seperti kondisi mental terdakwa, motif yang kompleks, atau upaya untuk menunjukkan penyesalan mendalam.
Namun, permintaan ini ditolak mentah-mentah oleh pihak jaksa penuntut umum. Jaksa berpegang teguh pada pandangan bahwa kejahatan yang dilakukan Yamagami memiliki tingkat keparahan yang luar biasa dan tidak dapat dimaafkan dengan hukuman yang relatif ringan. Di sisi lain, Tetsuya Yamagami sendiri dilaporkan telah menunjukkan sikap pasrah dan tidak lagi melakukan perlawanan aktif terhadap proses hukum. Ia secara terbuka mengakui perbuatannya dan menyatakan rasa bersalahnya atas pembunuhan Shinzo Abe. Pernyataan jujurnya pada hari pertama persidangan pada Oktober 2025, seperti yang dilaporkan oleh BBC, “Semuanya benar. Tidak ada keraguan bahwa aku melakukan semua ini,” menjadi bukti kuat akan penerimaan tanggung jawabnya atas tindakan tersebut.
Latar Belakang Tragedi: Dendam Terhadap Unification Church
Peristiwa tragis yang merenggut nyawa Shinzo Abe terjadi pada tahun 2022, sebuah insiden yang menggemparkan dunia. Saat itu, Yamagami melancarkan serangan fatal terhadap mantan perdana menteri Jepang tersebut menggunakan senjata rakitan yang dibuatnya sendiri. Serangan terjadi di tengah keramaian saat Abe sedang menyampaikan pidato publik di Kota Nara.
Motif di balik tindakan brutal Yamagami ternyata berakar pada kebencian mendalam terhadap sebuah kelompok keagamaan yang dikenal sebagai Unification Church. Yamagami meyakini bahwa mantan perdana menteri Shinzo Abe memiliki kaitan atau afiliasi dengan organisasi tersebut. Unification Church, yang didirikan di Korea Selatan pada tahun 1954, telah memperluas jaringannya ke Jepang sejak tahun 1960-an dan memiliki sejumlah besar anggota serta pengikut.
Dendam Yamagami terhadap Unification Church sangatlah personal dan menghancurkan. Ia mengungkapkan bahwa keluarganya mengalami kehancuran finansial yang parah akibat sumbangan besar yang diberikan oleh ibunya kepada gereja tersebut. Ibunya dilaporkan telah menyumbangkan sekitar 100 juta yen, yang setara dengan Rp10,7 miliar, dan menunjukkan kesetiaan yang luar biasa kepada organisasi tersebut hingga mengabdikan seluruh hidupnya. Kehancuran finansial ini menjadi pemicu utama bagi Yamagami untuk merencanakan aksinya.
Simpati Publik dan Kontroversi Unification Church
Menariknya, di tengah statusnya sebagai terdakwa pembunuhan, Tetsuya Yamagami justru mendapatkan simpati dari sebagian besar masyarakat Jepang. Banyak yang memandang tindakannya sebagai upaya putus asa untuk membela keluarganya dari apa yang mereka anggap sebagai penipuan oleh Unification Church. Narasi ini diperkuat oleh persepsi publik yang luas bahwa Unification Church adalah sebuah kelompok keagamaan yang sesat, dengan ajaran-ajaran yang dianggap kontroversial dan menyimpang dari norma-norma umum masyarakat.
Di sisi lain, Akie Abe, janda dari mendiang Shinzo Abe, secara konsisten menyatakan keinginannya agar Yamagami dihukum seberat-beratnya. Kesedihan mendalam yang masih ia rasakan akibat kehilangan suaminya yang dibunuh secara brutal oleh orang yang tidak bertanggung jawab, menjadi dorongan kuat di balik tuntutannya. Ungkapannya, “Aku hanya ingin dia (Shinzo Abe) tetap hidup,” mencerminkan rasa kehilangan dan kepedihan yang mendalam akibat tragedi tersebut.


















