JAKARTA – Drama hukum yang melibatkan Ressa Rossano, putra dari penyanyi Denada, dengan gugatan penelantaran anak kini semakin memanas, menyeret dua figur publik ternama, Irfan Hakim dan Iis Dahlia, ke dalam pusaran konflik. Peristiwa ini memicu ketegangan yang signifikan, terutama setelah Ressa mengaku mengalami tekanan psikis berat dari rekan-rekan ibunya dalam sebuah acara televisi di Mampang, Jakarta Selatan, pada Sabtu, akhir Januari lalu. Kuasa hukum Ressa, Ronald Armada dan Andika Meigista, secara tegas melayangkan peringatan kepada kedua selebriti tersebut, meminta mereka untuk tidak mencampuri urusan yang mereka anggap tidak sepenuhnya dipahami. Situasi ini tidak hanya menyoroti kompleksitas hubungan keluarga di ranah publik, tetapi juga etika intervensi pihak ketiga dalam sengketa hukum pribadi.
Gugatan penelantaran anak yang dilayangkan Ressa Rossano terhadap ibundanya, Denada, bukanlah perkara sepele. Tim kuasa hukum Ressa secara konsisten menegaskan bahwa mereka memiliki dasar yang sangat kuat dan bukti nyata yang tak terbantahkan terkait dugaan penelantaran yang dialami Ressa selama 24 tahun. Angka dua puluh empat tahun ini bukan sekadar durasi, melainkan cerminan dari sebuah periode panjang yang membentuk pengalaman hidup Ressa, sebuah fakta yang menurut tim hukumnya, tidak bisa dipandang sebelah mata atau disederhanakan. Konflik internal keluarga ini, yang seharusnya diselesaikan di meja hijau, justru merembet ke ranah publik dan melibatkan pihak-pihak di luar lingkaran inti keluarga, menambah kompleksitas dan intensitas permasalahan.
Tekanan Psikis dan Keterlibatan Figur Publik
Puncak ketegangan terjadi baru-baru ini ketika Ressa Rossano, dalam sebuah pertemuan di acara televisi di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, mengaku mengalami tekanan psikis yang hebat. Menurut pengakuan Ressa dan tim kuasa hukumnya, ia sempat “dikerubungi” dan “diteror secara psikis” oleh sejumlah rekan artis Denada, termasuk Irfan Hakim dan Iis Dahlia. Perlakuan ini digambarkan membuat Ressa merasa seakan-akan dirinyalah yang menjadi penyebab utama masalah, khususnya terkait kabar boikot yang menimpa karier Denada di beberapa stasiun televisi. “Tadi itu Ressa sempat dikerubungi dan diteror secara psikis, seakan-akan dia yang bersalah sehingga Denada itu tidak mendapatkan pekerjaan di stasiun TV karena diboikot. Itu makanya saya geram,” ujar Ronald Armada, kuasa hukum Ressa, dengan nada penuh kekesalan.
Ressa sendiri mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap dampak hukum ini pada karier ibunya. Meskipun ia adalah pihak yang menggugat, Ressa tidak menginginkan Denada mengalami kesulitan profesional. “Ya intinya saja, bagaimana pun itu masih darah daging. Terus kasihan, itu diboikot dari pihak stasiun TV. Ya, maksudnya Ressa, Ressa enggak meminta seperti ini dan bukan Ressa yang minta diboikot,” ungkap Ressa kepada awak media. Namun, rasa prihatinnya ini justru dibalas dengan perlakuan yang tidak menyenangkan, yang oleh tim hukumnya disebut sebagai serangan mental yang tidak proporsional dan tidak beralasan.
Peringatan Tegas untuk Irfan Hakim dan Iis Dahlia
Merespons dugaan intimidasi psikis yang dialami kliennya, tim kuasa hukum Ressa Rizky Rossano, melalui Ronald Armada dan Andika Meigista, melayangkan teguran keras kepada Irfan Hakim dan Iis Dahlia. Kedua selebriti ini dianggap telah memberikan “pembelaan buta” terhadap Denada dan terlalu jauh mencampuri permasalahan yang seharusnya menjadi urusan pribadi antara ibu dan anak. Khusus untuk Iis Dahlia, Ronald Armada secara terang-terangan menyebut namanya, menuding penyanyi dangdut senior itu telah memojokkan Ressa dan memberikan penilaian sepihak tanpa memahami akar permasalahan. “Terutama buat Iis Dahlia, ya, saya menyebut nama karena itu yang terjadi. Dia memojokkan Ressa seakan gara-gara dia, temannya itu tidak dapat pekerjaan,” tegas Ronald Armada, menyoroti betapa Iis Dahlia dinilai telah melampaui batas dalam memberikan dukungannya.
Tidak hanya Iis Dahlia, nama presenter kondang Irfan Hakim juga turut diseret dalam pusaran teguran ini. Meskipun kuasa hukum Ressa mengakui dan menghormati sosok Irfan Hakim sebagai individu yang beradab dan berakhlak, mereka tetap meminta Irfan untuk lebih objektif dalam melihat duduk perkara. “Bang Irfan itu saya lihat orang yang beradab dan orang yang berakhlak. Saya sangat kagum dengan beliau. Akan tetapi dalam konteks ini, jangan karena temannya, dia melakukan pembelaan. Kalau temannya salah, katakan yang salah,” lanjut Ronald Armada, menekankan pentingnya integritas dan keadilan, bahkan di tengah ikatan pertemanan. Peringatan ini menggarisbawahi bahwa dukungan seharusnya tidak berarti pembelaan buta terhadap kesalahan, melainkan dorongan untuk mencari kebenaran dan keadilan.
Komitmen Terhadap Kebenaran dan Keadilan
Pihak Ressa Rossano menegaskan bahwa mereka tidak akan mundur sedikit pun dalam perjuangan hukum ini. Mereka memiliki keyakinan penuh terhadap kebenaran dan bukti-bukti yang telah dikumpulkan terkait penelantaran yang dialami Ressa selama lebih dari dua dekade. Kuasa hukum Ressa meminta agar para artis, termasuk Irfan Hakim dan Iis Dahlia, tidak hanya melihat permasalahan ini dari satu sisi pertemanan saja, melainkan mencoba memahami “asbabun nuzul” atau akar permasalahan yang mendalam. “Jadi buat Bang Irfan Hakim dan Iis Dahlia, tolonglah agak sedikit adil, jangan ikut campur kalau tidak tahu asbabun nuzulnya persoalan ini,” ucap Ronald, mengimbau agar ada pemahaman yang lebih komprehensif sebelum memberikan intervensi.
Dengan tekad yang bulat, pihak Ressa menyatakan kesiapan mereka untuk menghadapi tantangan dari pihak mana pun yang mencoba memanipulasi fakta atau mengaburkan kebenaran. Pernyataan ini bukan sekadar gertakan, melainkan sebuah komitmen kuat untuk membela hak-hak Ressa hingga titik terakhir. “Saya berbicara tentang fakta. Bismillah, apa yang saya nyatakan ini benar. Kalau sampai kalian mau menantang, silakan. Saya tidak pernah takut sama siapa pun selama saya membela kebenaran,” tutup kuasa hukum Ressa dengan tegas. Pernyataan ini menegaskan bahwa kasus ini telah melampaui batas sengketa keluarga biasa, menjadi pertarungan prinsip keadilan di tengah sorotan publik dan intervensi figur-figur terkenal.

















