Dalam sebuah langkah progresif yang mengedepankan pendekatan humanis, Badan Pemelihara Keamanan (Baharkam) Polri secara resmi menyelenggarakan Festival Komik Polisi Penolong 2025. Inisiatif ini bukan sekadar ajang perlombaan seni visual biasa, melainkan sebuah manifestasi dari keinginan institusi Kepolisian Republik Indonesia untuk mendengarkan suara publik melalui medium yang lebih cair dan jujur. Menurut pandangan seorang jenderal bintang tiga Polri yang memimpin inisiatif ini, komik dan karikatur memiliki kekuatan luar biasa sebagai instrumen komunikasi massa yang mampu merepresentasikan pandangan, kritik tajam, hingga harapan terdalam masyarakat terhadap kinerja Polri. Dengan gaya bahasa yang lugas namun konstruktif, medium visual ini dianggap mampu menembus batas-batas formalitas birokrasi, memberikan gambaran riil tentang bagaimana Korps Bhayangkara dipandang di mata rakyat. Hal ini dipandang sangat krusial bagi institusi yang saat ini tengah berada dalam fase transformasi besar untuk terus berbenah diri, mengevaluasi kekurangan, dan meningkatkan standar pelayanan publik secara menyeluruh di seluruh pelosok negeri.
Visi besar di balik penyelenggaraan festival ini berakar pada semangat transformasi Polri yang lebih inklusif. Jenderal bintang tiga tersebut menegaskan bahwa keterbukaan terhadap kritik adalah kunci utama dalam proses pendewasaan institusi. Beliau memaparkan bahwa Polri ingin melihat secara objektif bagaimana ekspektasi masyarakat terhadap peran polisi di masa depan, terutama dalam konteks memberikan pertolongan yang cepat, tepat, dan tanpa pamrih. Semangat ini selaras dengan program strategis yang telah dicanangkan oleh Baharkam Polri sejak akhir tahun lalu, yakni kampanye “Polisi Penolong”. Program ini bukan hanya sekadar slogan administratif, melainkan sebuah komitmen moral untuk mengembalikan jati diri personel kepolisian sebagai pelindung dan pelayan masyarakat yang hadir di saat-saat paling genting. Dengan hadirnya komik-komik ini, Polri berharap dapat memetakan area mana saja yang memerlukan kehadiran fisik dan empati anggota kepolisian guna memberikan rasa aman yang autentik bagi setiap warga negara.
Transformasi Institusi Melalui Kritik Visual dan Pengawasan Publik
Sebagai sosok yang memiliki rekam jejak panjang dalam dunia kepolisian, termasuk pengalaman strategis saat menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya, sang jenderal menekankan bahwa transparansi adalah harga mati. Beliau secara terbuka memberikan pernyataan yang sangat tegas bahwa pihak kepolisian tidak akan pernah menutup mata terhadap berbagai bentuk pelanggaran atau perilaku oknum yang masih mencederai martabat institusi. Kesadaran akan adanya celah dan kekurangan ini menjadi alasan mengapa peran aktif masyarakat dalam memberikan pengawasan sangat dibutuhkan. Festival komik ini hanyalah salah satu saluran; sang jenderal juga mengingatkan kembali pentingnya mekanisme pelaporan formal melalui Divisi Profesi dan Pengamanan (Divpropam) Polri bagi masyarakat yang menemukan ketidakprofesionalan di lapangan. Sinergi antara kritik kreatif melalui karya seni dan laporan administratif yang akuntabel diharapkan dapat menciptakan ekosistem pengawasan yang komprehensif, demi mewujudkan Polri yang tidak hanya kuat secara hukum, tetapi juga benar secara moral dan etika profesi.
Lebih lanjut, keterlibatan masyarakat dalam memberikan masukan dianggap sebagai bahan bakar utama bagi perbaikan internal. Setiap guratan pena dalam komik yang masuk ke meja panitia dipandang sebagai aspirasi yang harus direspons dengan tindakan nyata. “Ini menjadi bahan masukan dan harapan kita bersama bahwa Polri ke depan harus semakin baik dan semakin benar,” ungkap jenderal tersebut dengan nada penuh optimisme. Beliau meyakini bahwa institusi yang besar adalah institusi yang berani berkaca pada kekurangan dirinya sendiri. Dengan menerima kritik yang dibalut dalam estetika karikatur, Polri mencoba meruntuhkan sekat-sekat kaku antara petugas dan sipil, membangun jembatan komunikasi yang lebih egaliter, dan memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil di tingkat pusat maupun daerah senantiasa berorientasi pada kemaslahatan masyarakat luas.
Bedah Kreativitas: Seleksi Ketat dan Profesionalisme Dewan Juri
Kualitas dari Festival Komik Polisi Penolong 2025 ini dijaga dengan sangat ketat melalui kehadiran panel dewan juri yang memiliki reputasi nasional dan integritas tinggi di bidang industri kreatif. Baharkam Polri menghadirkan tiga sosok kunci sebagai kurator dan penilai utama. Pertama adalah Jam Praba, seorang seniman dan komikus senior yang dikenal memiliki ketajaman dalam menangkap fenomena sosial melalui karya-karyanya. Kedua, Wahyu Aditya, tokoh komikus digital nasional sekaligus pendiri HelloMotion yang membawa perspektif modernitas dan inovasi visual ke dalam penilaian. Ketiga, Hasby Ristama, sosok inisiator Lomba Komik Polisi Penolong yang memahami betul visi dan misi di balik gerakan ini. Ketiga juri ini bekerja keras menyaring ratusan karya yang masuk dari berbagai penjuru tanah air, mulai dari komikus amatir hingga profesional, guna mencari karya yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga memiliki kedalaman pesan yang kuat.
Proses kurasi berlangsung dengan sangat kompetitif, di mana dari sekian banyak partisipan, dewan juri akhirnya mengerucutkan pilihan menjadi 500 karya terbaik yang dianggap paling mampu merepresentasikan tema “Polisi Penolong”. Dari jajaran finalis tersebut, persaingan menjadi semakin sengit hingga akhirnya terpilihlah para pemenang utama yang berhasil mencuri perhatian juri melalui narasi visual yang menyentuh. Nana Naung berhasil mengukuhkan posisinya sebagai juara pertama lewat karya yang sangat emosional. Dalam komiknya, Nana menggambarkan secara detail peran heroik personel Polri di tengah situasi darurat bencana alam. Fokus ceritanya terletak pada dedikasi anggota polisi yang tanpa lelah membantu korban bencana dalam misi pencarian anggota keluarga yang terpisah. Karya ini dianggap sangat kuat karena mampu memotret sisi kemanusiaan polisi di tengah kekacauan bencana, menggambarkan bahwa kehadiran polisi adalah secercah harapan bagi mereka yang kehilangan segalanya.
Prestasi gemilang juga diraih oleh M. Fuad Azhar B yang menyabet gelar juara kedua. Fuad mengangkat tema yang sangat relevan dengan kondisi geografis Indonesia, yakni peran anggota polisi di wilayah terluar dan terpencil. Karyanya mengisahkan tentang kegigihan seorang polisi yang membantu siswa-siswi menempuh perjalanan sulit menuju sekolah di daerah perbatasan. Narasi ini memberikan apresiasi khusus bagi para personel yang bertugas di garda terdepan nusantara, yang seringkali harus melampaui tugas pokoknya demi memastikan roda pendidikan tetap berputar. Sementara itu, posisi juara ketiga ditempati oleh Musrifah Medkom. Melalui goresan tangannya, Musrifah menampilkan adegan yang mungkin terlihat sederhana namun sarat makna: kesigapan seorang anggota polisi lalu lintas dalam membantu seorang lansia yang kesulitan menyeberangi jalan raya yang padat. Karya ini menjadi pengingat bahwa kepahlawanan tidak selalu harus dalam peristiwa besar, melainkan bisa hadir dalam tindakan kecil yang penuh kepedulian di kehidupan sehari-hari.
Secara keseluruhan, Festival Komik Polisi Penolong 2025 telah berhasil menjadi panggung bagi masyarakat untuk berekspresi sekaligus menjadi cermin bagi Polri untuk terus berevolusi. Keberhasilan para pemenang dalam menangkap esensi dari tugas kepolisian menunjukkan bahwa masih ada kepercayaan besar dari publik terhadap institusi ini. Dengan total 500 karya terbaik yang telah diseleksi, Polri kini memiliki aset visual yang kaya akan pesan moral dan kritik konstruktif yang dapat dijadikan pedoman dalam merumuskan strategi pelayanan di masa mendatang. Inisiatif ini membuktikan bahwa di bawah kepemimpinan jajaran jenderal yang progresif di Baharkam, Polri siap melangkah menuju era baru yang lebih transparan, akuntabel, dan benar-benar menjadi “penolong” bagi setiap lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
| Peringkat | Nama Pemenang | Tema Karya |
|---|---|---|
| Juara I | Nana Naung | Pertolongan polisi terhadap korban bencana alam dan pencarian keluarga hilang. |
| Juara II | M. Fuad Azhar B | Dedikasi polisi membantu akses pendidikan siswa di wilayah terluar Indonesia. |
| Juara III | Musrifah Medkom | Kesigapan dan empati polisi membantu lansia di jalan raya yang ramai. |

















