Kawasan Tebet, Jakarta Selatan, kembali menjadi sorotan publik di tahun 2026. Kali ini bukan karena tren kulinernya, melainkan aksi inisiatif warga yang menggambar ulang zebra cross di Jalan Dr. Soepomo dengan desain unik ala karakter video game “Pac-Man”. Fenomena ini bermula dari keresahan warga akan hilangnya marka penyeberangan jalan akibat pengaspalan ulang yang dilakukan pemerintah.
Aksi ini bukan sekadar vandalisme, melainkan bentuk kritik sosial yang cerdas terhadap minimnya perhatian pada fasilitas keselamatan pejalan kaki. Mari kita bedah bagaimana respons Dinas Bina Marga DKI Jakarta menghadapi fenomena ini dan apa dampaknya bagi tata kota Jakarta di masa depan.
Kronologi Zebra Cross “Pac-Man” di Tebet
Segalanya bermula saat marka jalan di salah satu titik tersibuk di Tebet menghilang tertutup lapisan aspal baru. Bagi pejalan kaki, kondisi ini sangat berbahaya karena kendaraan sering melaju kencang tanpa menyadari adanya orang yang ingin menyeberang.
Warga setempat yang merasa terancam keselamatannya memutuskan untuk turun tangan. Alih-alih hanya mengeluh di media sosial, mereka melukis marka tersebut dengan motif ikonik Pac-Man. Desain ini segera viral karena dianggap unik sekaligus sarkastik—menggambarkan bagaimana pejalan kaki harus “berjuang” menghindari kendaraan layaknya karakter dalam game tersebut.
Mengapa Warga Harus Berinisiatif?
- Keamanan: Ketiadaan marka menyebabkan kendaraan tidak melambat.
- Aksesibilitas: Tebet adalah kawasan dengan mobilitas pejalan kaki yang tinggi.
- Ketidakpastian: Tidak adanya kejelasan kapan marka jalan akan dikembalikan setelah perbaikan aspal.
Respons Dinas Bina Marga: Apresiasi dan Penjelasan Teknis
Pihak Dinas Bina Marga Provinsi DKI Jakarta merespons aksi ini dengan sikap yang cukup terbuka namun tetap tegas. Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas Bina Marga, Siti Dinarwenny, menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian dalam pemulihan fasilitas penyeberangan di lokasi tersebut.
Dinas Bina Marga mengakui bahwa keterlambatan pengecatan ulang marka jalan terjadi karena proses administrasi dan teknis pengaspalan yang belum tuntas sepenuhnya. Mereka mengapresiasi kepedulian warga, namun tetap mengingatkan bahwa marka jalan harus memenuhi standar teknis keselamatan yang diatur dalam undang-undang lalu lintas.

Komitmen Bina Marga di Tahun 2026
Untuk meredam keresahan, pemerintah telah berjanji untuk melakukan pemasangan ulang marka jalan sesuai standar yang berlaku. Hal ini menjadi prioritas dalam agenda perbaikan infrastruktur jalan di Jakarta sepanjang tahun 2026. Selain marka, pemerintah juga terus menata estetika kota, termasuk merapikan kabel udara yang semrawut agar ruang publik lebih nyaman bagi pejalan kaki.
Pentingnya Partisipasi Publik dalam Tata Kota
Kasus di Tebet ini memberikan pelajaran berharga bagi pemerintah kota. Partisipasi masyarakat dalam mengawasi fasilitas publik adalah bentuk nyata dari citizen journalism dan kepedulian lingkungan. Ketika pemerintah lamban, warga akan mencari cara kreatif untuk menyuarakan aspirasinya.
Namun, ada batasan yang perlu dipahami bersama. Marka jalan bukan sekadar hiasan, melainkan perangkat keselamatan. Penggunaan warna atau desain yang tidak sesuai standar (seperti desain Pac-Man) bisa membingungkan pengendara jika tidak dikelola dengan benar.
<img alt="Dinas Bina Marga benahi kabel semrawut imbas pohon tumbang di Tebet …" src="https://cdn.antaranews.com/cache/1200×800/2023/03/24/IMG20230324111157_2.jpg” style=”max-width:100%; height:auto; border-radius:8px; margin: 1rem 0;” />
Pelajaran bagi Pemerintah dan Warga
- Responsivitas: Pemerintah diharapkan lebih cepat dalam memulihkan fasilitas umum pasca-pekerjaan konstruksi.
- Dialog: Saluran komunikasi antara warga dan Dinas Bina Marga perlu dipererat agar keluhan seperti ini bisa diselesaikan tanpa harus menunggu viral.
- Standarisasi: Kreativitas warga harus disalurkan melalui ruang yang tepat agar tidak melanggar aturan keselamatan lalu lintas.
Kesimpulan: Menuju Jakarta yang Lebih Ramah Pejalan Kaki
Insiden zebra cross di Tebet adalah cerminan dari dinamika kota besar. Di satu sisi, ada kebutuhan mendesak untuk keamanan pejalan kaki, dan di sisi lain, ada birokrasi yang terkadang menghambat eksekusi di lapangan.
Ke depan, diharapkan Dinas Bina Marga DKI Jakarta dapat lebih proaktif dalam melakukan pemeliharaan rutin. Bagi warga Jakarta, aksi kreatif ini membuktikan bahwa suara Anda sangat berarti dalam membentuk wajah kota. Mari kita berharap di tahun 2026 ini, trotoar dan zebra cross di Jakarta tidak hanya berfungsi, tetapi juga aman dan nyaman bagi semua orang, tanpa perlu lagi “aksi Pac-Man” di tengah jalan.

















