Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara resmi menginstruksikan pelarangan penggunaan material seng sebagai atap pada seluruh proyek pembangunan rumah susun (rusun) dan hunian baru di wilayah ibu kota mulai Februari 2025. Langkah strategis ini diambil sebagai respons cepat terhadap arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai gerakan “Gentengisasi” nasional guna meningkatkan standar kualitas hidup warga, menekan suhu ruangan yang ekstrem, serta mempercantik estetika arsitektur perkotaan Jakarta. Kebijakan ini menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menghadirkan hunian yang lebih layak, ramah lingkungan, dan berkelanjutan bagi masyarakat berpenghasilan rendah maupun penghuni fasilitas publik lainnya, sekaligus menandai berakhirnya era penggunaan material logam tipis yang dianggap tidak lagi relevan dengan visi pembangunan modern.
Dalam sebuah pernyataan tegas yang disampaikan kepada awak media di Balai Kota DKI Jakarta pada Rabu (4/2), Pramono Anung menekankan bahwa instruksi ini bersifat mengikat bagi seluruh jajaran dinas terkait, terutama Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP). Gubernur menyatakan bahwa setiap unit hunian baru yang dibiayai atau dibangun oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak lagi diperbolehkan menggunakan seng sebagai penutup atap. “Saya akan memerintahkan untuk rumah-rumah susun baru atau rumah-rumah baru yang dibangun oleh Pemerintah DKI Jakarta udah nggak boleh lagi pakai seng,” ujar Pramono dengan nada lugas. Perintah ini merupakan langkah konkret untuk memastikan bahwa proyek-proyek infrastruktur perumahan di Jakarta memiliki standar material yang lebih tinggi, yang tidak hanya mengedepankan aspek fungsionalitas tetapi juga kenyamanan jangka panjang bagi para penghuninya.
Kebijakan ini merupakan tindak lanjut langsung dari visi besar Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan adanya transformasi wajah bangunan di seluruh pelosok Indonesia. Melalui konsep “Gentengisasi”, pemerintah pusat berupaya menghapus citra pemukiman kumuh yang identik dengan atap seng berkarat. Pramono Anung menjelaskan bahwa Jakarta, sebagai pusat gravitasi ekonomi dan politik nasional, harus menjadi pionir dalam mengimplementasikan arahan presiden tersebut. “Jadi hal yang berkaitan dengan gentengisasi, tentunya yang pertama DKI Jakarta akan menindaklanjuti apa yang menjadi arahan Bapak Presiden. Karena memang bagi Jakarta juga lebih baik lah,” jelas Pramono. Ia menambahkan bahwa transisi dari seng ke genteng akan membawa dampak positif yang signifikan terhadap tata kota, mengingat material genteng memberikan kesan yang lebih rapi, kokoh, dan berkelas dibandingkan dengan material seng yang cenderung memberikan kesan industrial yang kurang terawat seiring berjalannya waktu.
Transformasi Arsitektur Jakarta: Mengakhiri Era Atap Seng demi Kenyamanan Warga
Secara teknis, penggunaan material seng pada bangunan di Jakarta memang telah mengalami penurunan dalam beberapa dekade terakhir, terutama pada bangunan komersial dan hunian kelas menengah ke atas. Namun, pada proyek-proyek perumahan rakyat atau pemukiman padat penduduk, seng masih sering ditemukan karena harganya yang ekonomis dan proses pemasangannya yang relatif cepat. Pramono mengakui bahwa di Jakarta sebenarnya pemanfaatan seng sudah tidak terlalu masif, namun ia ingin memastikan bahwa sisa-sisa penggunaan material tersebut benar-benar dihilangkan dari proyek pemerintah. “Dan memang di Jakarta yang memanfaatkan seng itu sebenarnya tidak terlalu banyak,” kata beliau. Dengan adanya larangan ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan beralih sepenuhnya ke material genteng, baik itu genteng tanah liat, keramik, maupun genteng beton yang memiliki daya tahan lebih baik terhadap cuaca ekstrem di Jakarta yang seringkali dilanda panas terik dan hujan lebat.
Keputusan untuk meninggalkan seng didasari oleh berbagai pertimbangan teknis dan lingkungan yang sangat mendasar. Material seng dikenal memiliki konduktivitas termal yang sangat tinggi, yang berarti seng sangat cepat menyerap dan menyalurkan panas matahari ke dalam ruangan di bawahnya. Di kota dengan suhu rata-rata yang cukup tinggi seperti Jakarta, penggunaan atap seng justru memperburuk fenomena “urban heat island” dan membuat suhu di dalam rumah menjadi tidak nyaman tanpa bantuan pendingin ruangan (AC) yang boros energi. Sebaliknya, genteng memiliki kemampuan insulasi panas yang jauh lebih baik, sehingga mampu menjaga suhu ruangan tetap sejuk secara alami. Selain itu, aspek kebisingan juga menjadi pertimbangan; suara rintik hujan pada atap seng seringkali menimbulkan polusi suara yang mengganggu kenyamanan penghuni, sebuah masalah yang tidak ditemukan pada penggunaan genteng yang lebih tebal dan mampu meredam suara dengan efektif.
Visi Estetika Nasional: Gerakan Gentengisasi Presiden Prabowo Subianto
Gagasan besar mengenai “Gentengisasi” ini pertama kali mencuat secara nasional saat Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 yang berlangsung di Sentul, Jawa Barat, pada Senin (2/2). Presiden secara terbuka mengkritik penggunaan seng yang masih marak di berbagai daerah di Indonesia. Beliau menilai bahwa penggunaan seng adalah salah satu faktor yang menghambat terciptanya pemandangan kota dan desa yang indah. “Seng ini panas untuk penghuni, seng ini juga berkarat, jadi tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng. Maaf saya tidak tahu ini dari dulu industri aluminium dari mana ya, maaf bikin yang lain-lain deh,” ungkap Presiden Prabowo di hadapan para kepala daerah. Kritik ini menunjukkan keinginan kuat kepala negara untuk melihat Indonesia yang lebih tertata secara visual melalui penggunaan material bangunan yang lebih estetik dan tahan lama.
Presiden Prabowo juga menekankan bahwa gerakan ini bukan sekadar masalah tampilan luar, melainkan sebuah proyek nasional untuk meningkatkan martabat dan kualitas hidup rakyat Indonesia. Beliau menginginkan agar setiap rumah di Indonesia memiliki atap yang layak dan mampu melindungi penghuninya dari cuaca dengan lebih baik tanpa harus mengorbankan keindahan lingkungan. “Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng. Jadi nanti ini gerakannya adalah gerakan, proyeknya adalah proyek gentengisasi ke Indonesia,” lanjut Presiden. Arahan ini kemudian ditangkap oleh Pramono Anung sebagai mandat yang harus segera dieksekusi di Jakarta, mengingat status Jakarta sebagai barometer pembangunan nasional. Dengan dilarangnya seng di rusun-rusun baru, diharapkan kualitas udara di dalam ruangan akan membaik dan beban biaya listrik warga untuk penggunaan kipas angin atau AC dapat ditekan.
Implementasi kebijakan ini diprediksi akan mengubah lanskap pembangunan perumahan di Jakarta dalam beberapa tahun ke depan. Para pengembang yang bekerja sama dengan pemerintah daerah kini diwajibkan untuk menyesuaikan spesifikasi teknis bangunan mereka sesuai dengan standar baru ini. Meskipun penggunaan genteng mungkin memerlukan struktur rangka atap yang lebih kuat dibandingkan seng, manfaat jangka panjangnya dinilai jauh lebih menguntungkan, baik dari segi biaya perawatan (maintenance) maupun nilai properti itu sendiri. Genteng tidak mengalami korosi atau karat seperti seng, sehingga masa pakai bangunan menjadi lebih lama. Langkah berani Pramono Anung ini diharapkan tidak hanya berhenti pada bangunan pemerintah, tetapi juga menginspirasi sektor swasta dan masyarakat luas untuk beralih ke material bangunan yang lebih berkualitas demi mewujudkan Jakarta yang lebih sejuk, indah, dan manusiawi.
Sebagai penutup, kebijakan gentengisasi ini juga membawa pesan kuat tentang pentingnya keberlanjutan lingkungan dalam pembangunan perkotaan. Dengan mengurangi penggunaan material logam yang cepat rusak dan sulit didaur ulang secara efektif di tingkat rumah tangga, Jakarta melangkah menuju standar hunian yang lebih hijau. Pramono Anung memastikan bahwa pengawasan terhadap instruksi ini akan dilakukan secara ketat, mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan di lapangan. Masyarakat Jakarta kini menantikan wajah baru hunian vertikal dan perumahan rakyat yang lebih teduh, di mana atap-atap seng yang kusam dan panas akan segera digantikan oleh jajaran genteng yang rapi, mencerminkan kemajuan peradaban dan kesejahteraan warga ibu kota di bawah kepemimpinan yang responsif terhadap kebutuhan rakyat dan arahan pemerintah pusat.
















