Jakarta – Sebuah langkah strategis dalam pengembangan transportasi publik di Indonesia akan segera terwujud dengan peluncuran rute baru TransJabodetabek yang menghubungkan pusat aktivitas perkotaan di Terminal Blok M dengan gerbang udara internasional, Bandara Soekarno-Hatta (Soetta). Inisiatif ini, yang digagas oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, akan segera dioperasikan pekan depan, mengerahkan armada awal sebanyak 20 unit bus. Tujuannya jelas: untuk mempermudah mobilitas warga, mengurangi beban kemacetan, dan meningkatkan efisiensi perjalanan antara ibu kota dan salah satu bandara tersibuk di Asia Tenggara. Rute baru ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi transportasi, tetapi juga menjadi katalisator dalam upaya mewujudkan sistem transportasi yang terintegrasi dan berkelanjutan di wilayah Jabodetabek.
Perluasan Jaringan TransJabodetabek: Menghubungkan Blok M dan Bandara Soekarno-Hatta
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung, secara resmi mengumumkan kesiapan 20 unit bus TransJabodetabek untuk melayani rute baru yang vital, yakni menghubungkan Terminal Blok M dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta). Peluncuran rute inovatif ini dijadwalkan berlangsung pada pekan mendatang, menandai babak baru dalam upaya pemerintah untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan kualitas layanan transportasi publik di kawasan megapolitan Jakarta dan sekitarnya. Kehadiran rute ini diharapkan dapat memberikan alternatif perjalanan yang lebih nyaman, efisien, dan terjangkau bagi ribuan penumpang yang melakukan perjalanan antara pusat bisnis dan transportasi udara setiap harinya.
Gubernur Pramono Anung menyatakan optimisme tinggi terhadap dampak positif yang akan ditimbulkan oleh rute baru ini. Ia berharap bahwa penambahan armada sebanyak 20 unit bus ini akan mampu memenuhi permintaan penumpang dan memastikan ketersediaan layanan yang konsisten. Target utama dari sisi operasional adalah untuk meminimalkan waktu tunggu penumpang, dengan harapan interval kedatangan bus dapat ditekan antara 5 hingga 10 menit. “Mengenai armada yang disiapkan untuk trayek ini adalah 20. Sehingga dengan demikian setiap 5, maksimum 10 menit itu selalu ada,” ujar Pramono dalam keterangannya di Jakarta Utara pada Kamis, 5 Februari 2026. Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen pemerintah untuk menyediakan layanan transportasi yang andal dan responsif terhadap kebutuhan mobilitas masyarakat.
Lebih lanjut, Gubernur Anung menekankan bahwa kehadiran rute TransJabodetabek Blok M-Soetta ini memiliki potensi signifikan dalam mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas, baik di wilayah DKI Jakarta maupun di Provinsi Banten. Hal ini didukung oleh fakta bahwa bus-bus TransJabodetabek akan memanfaatkan jalur khusus, yang secara inheren akan memisahkan mereka dari arus lalu lintas umum dan memungkinkan perjalanan yang lebih lancar dan cepat. Dengan demikian, rute ini tidak hanya berfokus pada kenyamanan penumpang, tetapi juga berkontribusi pada efektivitas sistem transportasi perkotaan secara keseluruhan.
Tarif Terjangkau dan Visi Transportasi Berkelanjutan
Salah satu aspek penting yang menjadi perhatian dalam peluncuran rute baru ini adalah kebijakan tarif. Gubernur Pramono Anung secara tegas memastikan bahwa tarif untuk rute TransJabodetabek yang menghubungkan Terminal Blok M dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) tidak akan mengalami perubahan. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menjaga keterjangkauan transportasi publik bagi seluruh lapisan masyarakat. “Mengenai rencana tarifnya belum ada perubahan, tetap sebelum jam 6 pagi Rp2.000, setelah jam 6 pagi Rp3.500. Jadi belum ada,” ujar Pramono, mengonfirmasi bahwa tarif yang berlaku akan tetap sama seperti rute TransJabodetabek lainnya.
Keputusan untuk mempertahankan tarif yang sudah ada ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak warga untuk beralih menggunakan transportasi publik, terutama bagi mereka yang sering melakukan perjalanan antara pusat kota dan bandara. Keterjangkauan tarif, dikombinasikan dengan frekuensi kedatangan bus yang optimal dan kemungkinan penggunaan jalur khusus, menjadikan rute ini sebagai pilihan yang sangat menarik dibandingkan dengan moda transportasi lainnya yang mungkin memakan biaya lebih besar atau waktu tempuh yang lebih lama akibat kemacetan.
Selain fokus pada pengembangan rute dan tarif, Gubernur Anung juga memaparkan visi jangka panjang terkait elektrifikasi armada bus di Jakarta. Ia mengungkapkan target ambisius untuk mengubah seluruh armada bus di Jakarta menjadi bus listrik pada tahun 2029. “Pasti. Bahkan target saya di tahun 2029, 10.000 bus Jakarta itu sudah bus electric,” ucapnya. Visi ini sejalan dengan tren global menuju transportasi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, serta upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan polusi udara di perkotaan. Peralihan ke bus listrik tidak hanya akan memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga berpotensi mengurangi biaya operasional dalam jangka panjang.
Mengatasi Keluhan Waktu Tunggu dan Tantangan Mobilitas
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Pramono Anung juga menanggapi keluhan masyarakat terkait waktu tunggu bus TransJakarta yang dinilai cukup lama belakangan ini. Ia mengakui bahwa ada dua faktor utama yang berkontribusi terhadap situasi tersebut. Faktor pertama yang disebutkan adalah kondisi cuaca, khususnya musim hujan, yang seringkali menyebabkan keterlambatan operasional dan membuat penumpang harus menunggu lebih lama. “Yang pertama harus diakui karena musim hujan, sering kali menunggu cukup lama,” ungkapnya.
Faktor kedua yang diidentifikasi oleh Gubernur Anung adalah peningkatan pesat jumlah pengguna transportasi umum di Jakarta. Fenomena ini didorong oleh kebijakan pemerintah yang memberikan subsidi atau gratis bagi 15 golongan masyarakat tertentu untuk menggunakan transportasi publik. “Yang kedua, orang naik transportasi umum di Jakarta sekarang meningkat dengan pesat. Karena apa? 15 golongan kami gratiskan. Itulah yang menyebabkan kemudian orang sekarang, naik transportasi umum itu menjadi habit baru,” jelasnya. Peningkatan permintaan yang signifikan ini, meskipun merupakan indikator positif dari keberhasilan program transportasi publik, secara alami memberikan tekanan pada kapasitas operasional dan dapat menyebabkan waktu tunggu yang lebih lama jika tidak diimbangi dengan penambahan armada yang memadai.
Menghadapi tantangan ini, peluncuran rute baru TransJabodetabek Blok M-Soetta dengan 20 unit armada merupakan langkah proaktif dalam mengantisipasi dan mengelola peningkatan mobilitas. Dengan menargetkan frekuensi kedatangan bus yang lebih singkat, pemerintah berupaya untuk meningkatkan kepuasan penumpang dan menjadikan transportasi publik sebagai pilihan utama yang andal. Upaya ini merupakan bagian dari strategi komprehensif untuk membangun sistem transportasi perkotaan yang lebih terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan, yang mampu menjawab kebutuhan mobilitas warga Jakarta dan sekitarnya di masa depan.
















