Sebuah kontroversi menghiasi jagat maya ketika aktris ternama Prilly Latuconsina mengaktifkan fitur “Open to Work” di profil LinkedIn-nya, memicu gelombang reaksi publik yang beragam, mulai dari dukungan hingga kritik tajam. Keputusan ini, yang secara umum menandakan kesiapan seseorang untuk mengeksplorasi peluang kerja baru, justru dianggap tidak sensitif oleh sebagian kalangan, terutama mengingat kondisi ekonomi global yang tengah bergejolak dan maraknya pemberhentian hubungan kerja (PHK). Tindakan Prilly ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apa makna sebenarnya di balik fitur “Open to Work” dan mengapa penggunaannya oleh seorang figur publik yang telah mapan menimbulkan polemik sedemikian rupa? Artikel ini akan mengupas tuntas latar belakang kontroversi, makna fitur “Open to Work”, serta klarifikasi yang disampaikan oleh Prilly Latuconsina sendiri, menggali lebih dalam setiap detail yang terungkap.
Dampak dan Persepsi Publik Terhadap Fitur “Open to Work”
Fitur “Open to Work” di platform profesional seperti LinkedIn dirancang untuk memberikan sinyal jelas kepada jaringan profesional dan perekrut bahwa seorang individu sedang secara aktif mencari peluang karir baru. Sinyal ini dapat berupa pembaruan status, penambahan bingkai hijau pada foto profil, atau kombinasi keduanya, yang secara visual mengkomunikasikan ketersediaan untuk wawancara dan diskusi mengenai posisi baru. Namun, di tengah situasi ekonomi yang tidak pasti, di mana banyak individu profesional menghadapi ketidakpastian pekerjaan dan ancaman PHK, penggunaan fitur ini oleh figur publik yang telah memiliki karier cemerlang seperti Prilly Latuconsina, menimbulkan interpretasi yang berbeda dan bahkan kontradiktif.
Banyak warganet berpendapat bahwa istilah “open to work” secara inheren diasosiasikan dengan pencari kerja yang benar-benar membutuhkan pekerjaan, yang mungkin sedang menganggur, mengalami pemutusan hubungan kerja, atau menghadapi kesulitan finansial. Dalam konteks ini, Prilly Latuconsina, yang dikenal sebagai seorang aktris sukses, produser, dan pengusaha, dianggap “tidak relevan” menggunakan fitur tersebut. Kritik yang muncul berkisar pada anggapan bahwa tindakannya terkesan hanya “ikut-ikutan tren” tanpa memahami urgensi dan makna serius di balik fitur tersebut bagi mereka yang benar-benar membutuhkannya. Ada pula pandangan yang mengira Prilly secara harfiah sedang mencari pekerjaan karena tidak memiliki kesibukan, sebuah persepsi yang keliru mengingat statusnya yang telah mapan di industri hiburan dan bisnis.
Persepsi ini diperparah oleh dugaan bahwa penggunaan fitur “Open to Work” oleh Prilly mungkin hanya merupakan sebuah strategi pencitraan atau “gimmick” promosi belaka, bukan representasi dari kebutuhan profesional yang sesungguhnya. Dalam dunia yang semakin digital, di mana citra dan strategi pemasaran menjadi krusial, tindakan selebriti seringkali dianalisis dari berbagai sudut pandang, termasuk potensi motif tersembunyi. Ketidaksesuaian antara citra kesuksesan Prilly dengan sinyal pencarian kerja justru menimbulkan kecurigaan dan ketidaknyamanan di kalangan publik yang merasa bahwa fitur tersebut seharusnya digunakan dengan lebih bijak dan sensitif terhadap realitas ekonomi yang dihadapi banyak orang.
Memahami Makna “Open to Work” dalam Konteks Profesional Modern
Penting untuk menggarisbawahi bahwa makna fitur “Open to Work” tidaklah tunggal dan kaku. Meskipun secara umum diasosiasikan dengan pencarian pekerjaan, dalam ranah profesional dan kreatif yang dinamis, “open to work” memiliki cakupan makna yang lebih luas. Ini bukan semata-mata indikasi menganggur, bangkrut, atau tidak memiliki pekerjaan sama sekali. Sebaliknya, dalam konteks yang lebih modern dan strategis, “open to work” dapat diartikan sebagai kesiapan untuk:
- Menerima proyek-proyek baru yang menantang dan inovatif.
- Terbuka terhadap peran atau tanggung jawab yang berbeda dari yang biasa dijalani.
- Memiliki keinginan untuk bereksplorasi dan mengembangkan diri di bidang-bidang baru atau industri yang berbeda.
- Membuka pintu untuk peluang kolaborasi profesional yang dapat memperluas jaringan dan portofolio.
- Mencari kesempatan untuk pertumbuhan karir yang lebih strategis, baik dalam hal pengembangan keahlian maupun posisi.
Dalam kasus Prilly Latuconsina, banyak pihak yang kemudian menginterpretasikan niatnya menggunakan fitur “Open to Work” sebagai upaya untuk membuka diri terhadap kesempatan dan peran baru dalam karirnya, bukan karena ia sedang mengalami kesulitan finansial atau kehilangan pekerjaan. Hal ini sejalan dengan tren profesional di mana individu yang sukses pun terus mencari cara untuk berkembang, berekspansi, dan menjajaki kolaborasi lintas industri untuk memperkaya pengalaman dan jaringan mereka. LinkedIn, sebagai platform yang dirancang untuk membangun dan memelihara jaringan profesional, menjadi wadah yang logis bagi seorang profesional untuk mengkomunikasikan keterbukaan mereka terhadap peluang-peluang baru tersebut.
Klarifikasi dan Permohonan Maaf Prilly Latuconsina
Menyadari besarnya reaksi negatif dan potensi kesalahpahaman yang timbul, Prilly Latuconsina akhirnya angkat bicara melalui pernyataan terbuka yang disampaikan melalui akun Instagram pribadinya. Dalam pernyataannya, Prilly menunjukkan pemahaman mendalam terhadap emosi dan reaksi publik yang muncul, mengakui bahwa tindakannya telah menimbulkan kekecewaan dan ketidaknyamanan bagi sebagian orang. Ia memulai klarifikasinya dengan mengakui bahwa situasi tersebut memunculkan berbagai reaksi dan emosi, serta ia mengerti mengapa sebagian orang merasa marah, kecewa, atau tidak nyaman.
Prilly menegaskan bahwa klarifikasi ini disampaikan sebagai bentuk tanggung jawabnya dalam berkomunikasi dan didasari oleh niat yang tulus serta itikad baik. “Untuk itu aku ingin menyampaikan klarifikasi ini dengan itikad baik, sebagai bentuk tangung jawab ku dalam berkomunikasi,” ujarnya. Ia kemudian secara eksplisit menyampaikan permohonan maafnya dengan tulus kepada publik yang merasa tersinggung atau tidak nyaman akibat tindakannya. “Pertama-tama aku minta maaf dengan tulus kalau apa yang terjadi telah menimbulkan rasa gak nyaman atau kesalahapahaman. Ini sama sekali bukan hal yang ingin aku ciptakan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Prilly memberikan penekanan bahwa niatnya sama sekali tidak pernah untuk bersikap tidak sensitif atau tidak berempati terhadap situasi yang sedang dihadapi banyak orang. Ia secara sadar mengakui perbedaan posisi dan pengalaman hidupnya dibandingkan dengan orang lain, dan memahami mengapa tindakannya bisa terasa menyakitkan bagi sebagian pihak. “Aku ingin menegaskan bahwa sejak awal aku tidak pernah berniat untuk bersikap tidak sensitif apalagi tidak empati terhadap situasi yang sedang banyak dihadapi orang-orang saat ini,” tegasnya. “Aku sadar posisi ku dan pengalaman hidupku tidak sama dengan semua orang. Dan aku mengerti kenapa hal ini bisa terasa menyakitkan bagi sebagian pihak,” lanjutnya.
Mengenai penggunaan fitur “Open to Work”, Prilly mengklarifikasi bahwa tujuannya adalah untuk membuka peluang kolaborasi lintas industri dan memperluas jaringan profesional, terutama di bidang atau ruang yang belum pernah ia coba sebelumnya. “Terkait penggunaan fitur Open to Work, aku ingin menggunakannya sebagai cara untuk membuka peluang kolaborasi lintas industri dan memperluas di jaring profesional terutama di bidang atau ruang yang sebelumnya belum pernah aku coba,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa hal ini bukan bermaksud untuk mengambil kesempatan siapapun, melainkan sebagai bagian dari proses belajar dan upaya untuk terus bertumbuh. “Ini bukan dimaksudkan untuk mengambil kesempatan siapapun, melainkan sebagai bagian dari proses belajarku dan upayaku untuk terus bertumbuh,” lanjut Prilly.
Terkait isu akun LinkedIn-nya yang sempat tidak dapat diakses di tengah kontroversi, Prilly menjelaskan bahwa hal tersebut di luar kendalinya dan disebabkan oleh lonjakan aktivitas yang sangat tinggi pada akunnya. Ia menyatakan bahwa akun tersebut saat ini dalam proses pemulihan. Di akhir pernyataannya, Prilly menegaskan komitmennya untuk terus menjalankan kerja sama dan kegiatan yang memberikan dampak positif bagi banyak orang, menjadikannya prioritas utama. Ia kembali menyampaikan permohonan maafnya atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan dan berterima kasih atas masukan, perhatian, serta pengertian dari publik.

















