Kegaduhan tak terduga melanda jagat profesional digital Indonesia baru-baru ini, ketika aktris dan pengusaha kenamaan, Prilly Latuconsina, menjadi pusat perhatian publik. Sebuah unggahan di platform profesional LinkedIn yang menampilkan fitur “Open to Work” pada profilnya, justru memicu gelombang kritik pedas dan kecaman luas dari warganet. Insiden yang terjadi pada awal Februari lalu ini, segera menempatkan Prilly dalam sorotan tajam, di mana ia dituding kurang memiliki empati terhadap jutaan pencari kerja di Tanah Air yang sedang berjuang keras di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Merespons polemik yang kian memanas, Prilly Latuconsina tak butuh waktu lama untuk tampil ke publik, menyampaikan permohonan maaf secara tulus melalui sebuah video klarifikasi di akun Instagram pribadinya, mengakui adanya kesalahpahaman dan celah empati yang tak disadarinya.
Persoalan ini bermula dari keputusan Prilly Latuconsina untuk mengaktifkan fitur “Open to Work” pada akun LinkedIn-nya. Fitur ini, yang umumnya digunakan oleh para profesional dari berbagai latar belakang untuk mengisyaratkan ketersediaan mereka di pasar kerja, secara eksplisit menampilkan label tersebut pada foto profil pengguna, menandakan bahwa mereka sedang aktif mencari peluang pekerjaan atau kolaborasi. Bagi sebagian besar pengguna LinkedIn, fitur ini adalah alat vital untuk menarik perhatian perekrut dan memperluas jaringan profesional demi mendapatkan pekerjaan. Namun, ketika seorang figur publik dengan status ekonomi yang mapan dan rekam jejak karier yang gemilang seperti Prilly Latuconsina menggunakannya, interpretasi publik menjadi jauh berbeda. Unggahan ini dengan cepat menarik perhatian luar biasa, terbukti dari lonjakan drastis jumlah koneksi di profil LinkedIn-nya yang mencapai angka fantastis 30.000, sebuah capaian yang mungkin membutuhkan waktu bertahun-tahun bagi profesional biasa.
Gelombang Kritik dan Realitas Sulit Pencari Kerja
Reaksi publik terhadap unggahan Prilly tersebut, khususnya dari kalangan warganet, tak pelak lagi sangat keras dan masif. Banyak yang menilai tindakan Prilly sebagai “tone-deaf” atau “nirempati”, sebuah istilah yang merujuk pada ketidakmampuan seseorang untuk memahami atau merespons secara tepat terhadap perasaan atau situasi sulit orang lain. Kritik ini semakin menguat karena Prilly dianggap memiliki “privilege” atau hak istimewa sebagai seorang publik figur yang sukses dan secara finansial sudah sangat mapan. Warganet merasa bahwa menggunakan fitur “Open to Work” oleh seseorang dengan posisi seperti Prilly, secara tidak langsung meremehkan perjuangan dan keputusasaan para pencari kerja sejati di Indonesia. Realitas sulit yang dihadapi generasi muda dan angkatan kerja Indonesia dalam mencari lapangan pekerjaan memang bukan isapan jempol belaka. Tingkat pengangguran, terutama di kalangan lulusan baru dan usia produktif, masih menjadi isu krusial di tengah persaingan ketat dan terbatasnya ketersediaan lapangan kerja yang relevan dengan kualifikasi mereka. Situasi ini diperparah oleh dinamika ekonomi global dan domestik yang seringkali tidak stabil, membuat setiap peluang kerja menjadi sangat berharga dan kompetitif. Oleh karena itu, tindakan Prilly, meskipun mungkin bermaksud lain, secara tidak sengaja menyentuh luka lama dan memicu kemarahan kolektif.
Menyadari bahwa unggahannya telah menimbulkan polemik yang tidak diinginkan dan memicu kegaduhan di ruang publik, Prilly Latuconsina segera mengambil langkah proaktif. Melalui sebuah video yang diunggah di akun Instagram pribadinya pada Selasa, 3 Februari 2026 (sebagaimana tercatat dalam sumber, meskipun tanggal ini mungkin merupakan kekeliruan penulisan tahun dan merujuk pada awal Februari 2024), ia menyampaikan permohonan maafnya secara terbuka. Dalam video tersebut, Prilly menunjukkan ekspresi penyesalan dan pemahaman yang mendalam terhadap reaksi publik. “Aku paham kalau situasi ini memunculkan banyak reaksi dan emosi. Aku juga mengerti kenapa sebagian dari kalian merasa marah, kecewa, atau enggak nyaman,” ujarnya dengan nada suara yang rendah dan penuh penyesalan, seperti yang dilansir dari Kompas.com. Ia mengakui bahwa polemik yang muncul berada di luar kendali dan ekspektasinya, serta meminta maaf karena banyak pihak yang merasa tersinggung atas unggahan tersebut. “Pertama-tama, aku minta maaf dengan tulus kalau apa yang terjadi telah menimbulkan rasa enggak nyaman atau kesalahpahaman,” lanjut kekasih Omara Esteghlal ini, menegaskan ketulusannya dalam menghadapi situasi tersebut.

Klarifikasi Niat dan Pengakuan Celah Empati
Dalam klarifikasinya yang mendalam, Prilly Latuconsina dengan tegas membantah bahwa dirinya memiliki niat sedikit pun untuk meremehkan perjuangan keras yang dilalui oleh para pencari kerja di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa tujuan awalnya mengaktifkan fitur “Open to Work” di LinkedIn adalah murni untuk membuka jalur komunikasi profesional di ranah yang belum pernah ia jelajahi secara serius sebelumnya. Sebagai seorang individu yang terus berkembang dan mencari tantangan baru, Prilly ingin mengeksplorasi potensi kolaborasi atau proyek-proyek di luar lingkup hiburan yang selama ini ia geluti, bukan untuk bersaing dengan para pencari kerja yang memang membutuhkan pekerjaan untuk penghidupan. Ia juga mengungkapkan rasa terima kasihnya atas semua masukan dan kritik yang telah disampaikan oleh masyarakat, menganggapnya sebagai pelajaran berharga. Sebuah poin krusial dalam pernyataannya adalah pengakuan jujurnya mengenai perbedaan pengalaman hidupnya dengan mayoritas masyarakat. “Aku sadar, posisiku dan pengalaman hidupku tidak sama dengan semua orang, dan aku mengerti kenapa hal ini bisa terasa menyakitkan bagi sebagian pihak,” tutur Prilly, mengakui adanya “celah empati” yang sempat luput dari perhatiannya saat mengunggah status tersebut. Pengakuan ini menunjukkan tingkat refleksi diri dan kemauan untuk memahami perspektif yang berbeda, sebuah kualitas penting bagi seorang figur publik.

















